Semalam Bertolak ke Pontianak

Semalam Bertolak ke Pontianak

  Jumat, 22 January 2016 09:14
ANGKUT: Tampak Korlap warga eks Gafatar di SIntang, Rohim (baju merah berjam tangan), menaikkan harta benda milik kelompokknya ke truk TNI sebelum diberangkatkan ke PontianakDiberangkatkan ke PontianakSUTAMI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SINTANG-Rombongan eks Gafatar bertolak dari Sintang menuju Pontianak, Kamis (21/1), petang, dengan disaksikan penjabat Bupati Sintang Alexius Akim beserta jajaran Forkorpimda.Eks Gafatar masih belum tahu tujuan selanjutnya usai diberangkatkan ke Pontianak.Koordinator Lapangan eks Gafatar, Rohim, mengatakan, belum dapat gambaran tujuan usai dievakuasi dari Sintang ke Pontianak. Kembali ke daerah asal atau bertahan hidup ditempat perantaun yang baru. “Belum tahu mau balik kampung  atau ke Jakarta. Yang jelas mau ke Jakarta dulu,” katanya.

Isak tangisan anak-anak dari warga eks Gafatar pecah menjelang keberangkatan ke Pontianak. Terutama yang masih bayi. Pasalnya gedung Unit Layanan Kerja (ULK) ramai dipadati. Kemudian banyak yang hilir mudik mengangkut barang untuk dinaikkan ke truk.

Harta benda milik warga eks Gafatar diangkut menggunakan truk milik Bataliyon 642/Kapuas. Sebanyak tiga unit truk yang dikerahkan. Semua berisi penuh. Muatannya mulai pakaian, barang kelengkapan pribadi, alat masak, hingga sepeda motor. Sementara warga eks Gafatar diangkut menggunakan bus, dan tiga ibu hamil menumpang minimbus dengan didampingi bidan serta perawat.

Warga eks Gafatar hanya bisa pasrah saat harus dievakuasi pemkab Sintang ke Pontianak. Bagi mereka yang sudah yatim piatu misalkan. Masa depan sudah tidak dapat dibayangkan. Dan keputusan dievakuasi tetap harus diterima meski mengaku tidak tahu menahu alasan jelasnya.“Saya sudah tidak memiliki orang tua di kampung. Orang tua saya telah meninggal. Saya datang ke Sintang ikut abang, membantu bertani sayur. Kalau habis evakuasi saya tidak tahu kemana,” kata Mindani, asal Banten, ini.

Mindani sendiri baru tamat SMP. Ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di Sintang, alasannya karena baru empat bulan datang. Kemudian tidak paham bila dikaitkan dengan Gafatar. Datang ke Sintang hanya ingin mencoba peruntungan nasib. Sementara selama berada di Binjai, menurut Mindani, tidak ada aktivitas lain selain bertani. Kecuali diminta menjaga etika.

Penjabat Bupati Sintang, Alexius AKim, mengatakan evakuasi ke Pontianak merupayakan upaya tindakan kemanusiaan yang diambil pemerintah. Eks Gafatar dari Sintang akan diserahkan ke pemerintah provinsi. Kemudian pemprov yang akan mengembalikan ke daerah asal. Pemkab, lanjutnya, berkoordinasi dengan aparat untuk menjamin keselamatan para eks Gafatar dalam perjalanan menuju Pontianak. Fasilitas kesehatan juga diberikan selama menempuh perjalanan ke Pontianak.Saat meninjau eks Gafatar sebelum diberangkatkan ke Pontianak, Akim didampingi sejumlah kepala SKPD terkait. Kemudian juga tampak Kapolres Sintang AKBP Mahyudi Nazriansyah dan Danyon 642/Kapuas. Sementara eks Gafatar yang dievakuasi ke Pontianak sebanyak 45 jiwa dari sembilan kepala keluarga (KK). Tiga diantaranya adalah ibu hamil.  (stm)

Berita Terkait