Selundupkan 69 Kg Sabu di Pompa Air

Selundupkan 69 Kg Sabu di Pompa Air

  Jumat, 21 Oktober 2016 08:51
SABU: Petugas menunjukkan tersangka dan barang bukti 69,2 kg sabu asal Malaysia di kantor BNN, Jakarta, Kamis (20/10). MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

Masuk Melalui Pelabuhan Semarang

JAKARTA – Sindikat narkotika punya banyak cara untuk memasukkan sabu-sabu ke Indonesia. Badan Nasional Narkotika (BNN) kemarin (20/10) berhasil membongkar penyelundupan 69 kg sabu-sabu yang dimasukkan ke lima mesin pompa air di Demak, Jawa Tengah. Lembaga pemberantas narkotika itu memprediksi sabu-sabu masuk dari pelabuhan di Semarang. 

Pengungkapan sindikat narkotika dengan modus mesin pompa air itu dipimpin Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari. Selain 69 kg sabu-sabu dan 5 unit mesin pompa air, juga disita 2 unit kendaraan yang diduga digunakan untuk mengangkut barang haram itu.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso menuturkan, awalnya ditangkap tiga orang berinisial YT, WJ, dan TO di Tegal, Jawa Tengah. Mereka kedapatan membawa dua ransel besar yang ternyata berisi 56 bungkus sabu-sabu seberat 58 kg. ”Mereka berencana menuju Cikampek,” terangnya.

Dalam pemeriksaan, digeledahlah rumah milik YT. Ternyata di ruang tamu ditemukan lima pompa air. Lalu, berhasil diamankan sabu-sabu lainnya seberat 11 kg. ”Masih ada yang disimpan,” tuturnya.

Dari tangkapan itu, penyelidikan mengarah pada seseorang berinisial WD. WD dipastikan merupakan pengendali sindikat narkotika tersebut. ”WD ini berhasil ditangkap juga,” papar mantan Kabareskrim tersebut.

Dari WD, diketahui bahwa ternyata dia juga telah menyuruh seorang kurir berinisial YS untuk mengirim sabu-sabu. ”YS ini juga telah ditangkap di Cikampek,” paparnya.

Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi menjelaskan bahwa sabu-sabu tersebut diprediksi merupakan kiriman dari sindikat asal Malaysia. Sebab, barang haram itu terdeteksi berasal dari Malaysia dan dikirim ke Thailand. ”Dari Thailand ke Indonesia,” tuturnya.

Namun, pelabuhan tujuannya bukan Tanjung Priok, tapi pelabuhan di Semarang. Dari Semarang itulah, barang haram itu disebarkan para sindikat. ”Ini relatif termasuk jalur baru,” terangnya.

Heru menuturkan, memang saat ini ada indikasi sindikat lebih suka memasukkan narkotika dengan menyelipkannya ke barang-barang resmi. Misalnya, pompa air dan mesin. ”Untuk modus semacam ini memang memerlukan pemeriksaan yang ketat dan informasi yang akurat. Tentu harus bekerja sama dengan BNN,” paparnya. (idr/c10/oki)

Berita Terkait