Selimbau; Kemarau Kepanasan, Hujan Kebanjiran

Selimbau; Kemarau Kepanasan, Hujan Kebanjiran

  Kamis, 14 April 2016 08:41
BANJIR: Warga Kota Selimbau menerjang banjir yang merendam kota mereka. Kedalaman banjir mencapai setengah meter atau setinggi lutut orang dewasa.

Berita Terkait

PERJALANAN ekspedisi menyusuri Sungai Kapuas dengan Kapal Bandong tiba di Kecamatan Selimbau, sebuah kota kecil di Kabupaten Kapuas Hulu. Selimbau juga dikenal dengan julukan Surga di Jantung Borneo.  

Sore menjelang Isya’, kapal Bandong KM Cahaya Borneo yang saya tumpangi mulai merapat di sebuah dermaga kecil yang menjadi pusat perekonomian masyarakat kota Selimbau. “Kita sudah sampai di Selimbau Mas,” ujar Anai, sang Juragan kapal kepada saya. “Beginilah kondisi kota kami,” sambungnya.

 Saat kami tiba, kondisi di Kecamatan Selimbau sedang tertimpa musibah terendam banjir akibat luapan Sungai Kapuas. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi di kala musim kemarau. Air sungai mengering. Bahkan alur sungai yang biasanya digunakan sebagai jalur transporatasi air tak lagi bisa digunakan lantaran debit air yang tidak memadahi.

Namun, kini Selimbau terendam banjir. Rumah-rumah warga masyarakat di pinggiran sungai Kapuas nyaris tenggelam. Gertak-gertak yang bisanya bisa dilalui dengan sepeda motor pun “ayap”. Kedalaman air setinggi lutut orang dewasa. Sehingga masyarakat yang ingi bepergian harus menggunakan perahu melalui gertak.

“Kalau lagi musim kemarau, kondisi sungai mengering. Seperti ini kondisinya. Jika dilihat dari teras rumah kami, seperti ada jurang di depan kami. Tapi kalau musim penghujan, ya seperti ini kondisinya. Banjir,” kenang Anai sembari menunjukan foto-foto di HPnya di kala musim kemarau, Selasa (12/4).

Dalam suatu waktu, kata Anai, kapal Bandongnya sempat tertahan di Selimbau dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, dirinya dan beberapa anak buanya tidak bisa bekerja lantaran air sungai mengering. “Padahal, kedalaman sungai Kapuas di sini cukup dalam. Hingga belasan meter. Tapi kalau kemarau airnya bisa mengering. Dan kami pernah tertahan di sini hingga berbulan-bulan,” ceritanya.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait