Selepas Makan Siang Bebas Beraktivitas Sesuai Minat

Selepas Makan Siang Bebas Beraktivitas Sesuai Minat

  Kamis, 11 January 2018 10:00
DALAMI MINAT: Sejumlah siswi mengisi waktu luang dengan membuat handicraft di KISS. Setelah lulus, sebagian di antara mereka membuka usaha craft sendiri. Foto: Debora Danisa Sitanggang/Jawa Pos

Berita Terkait

Berkunjung ke Sekolah Khusus buat Anak-Anak dari Luar Kasta

Di KISS, puluhan ribu anak dari luar keempat kasta utama di India bisa menimba ilmu secara gratis. Berasrama dan berfasilitas lengkap, mereka bebas mengembangkan bakat sesuai minat di sekolah tersebut. 

DEBORA SITANGGANG, India. 

DI belakang ruang makan superbesar itu, kedua staf KISS menunjukkan satu dapur yang juga lumayan jembar. Seukuran lapangan voli. Di dalamnya, dipergunakan alat-alat masak dengan tenaga uap. 

Pembangkit tenaga uapnya terpasang di sebelah dapur. ”Alat ini merupakan karya siswa-siswa terdahulu,” ujar Nihar Maharana, salah seorang di antara dua staf KISS itu.

KISS yang merupakan singkatan dari Kalinga Institute of Social Science adalah sekolah yang diperuntukkan buat anak-anak dari suku asli atau tribal di India Timur. Yang secara ekonomi tergolong miskin. Di Kiss mereka bisa menimba ilmu secara gratis. 

Yang menonjol dari sekolah yang terletak sekitar 45 menit perjalanan darat dari Kota Bhubaneswar, Negara Bagian Odisha, India, tersebut adalah pengembangan kreativitas siswa. Pagi sampai siang mereka belajar. Selepas makan siang bebas mengembangkan minat dan bakat masing-masing. 

Hasilnya antara lain adalah pembangkit tenaga uap tadi. Selain itu, mereka mengembangkan pusat daur ulang sisa makanan. Untuk apa sisa-sisa makanan tersebut? 

Nihar dan rekannya, Soumya Sahoo, mengajak Jawa Pos memasuki ruangan dengan tumpukan kardus cokelat. ”Sisa-sisa makanan tadi diolah, kemudian menghasilkan kardus-kardus ini. Kardus-kardus ini kami manfaatkan untuk mengepak barang,” jelasnya. 

Sekolah besar tersebut didirikan seorang doktor bernama Achyuta Samanta. Pria asal Kalarabank, Odisha, itu hidup dalam kemiskinan sejak kecil. Dia harus berbagi dengan keenam saudaranya, hanya diasuh sang ibu. Meski begitu, Samanta tidak menyerah soal pendidikan. Dia gigih menimba ilmu hingga mencapai gelar doktor di bidang kimia pada 1990. 

Suraj Roy, salah seorang profesor yang mengajar di KISS, bercerita, mulanya Samanta mendirikan sekolah bernama Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT). Sekolah tersebut didirikan untuk mereka yang berada. 

Nah, profit yang didapat dari KIIT itulah yang kemudian digunakan untuk membangun KISS. Semacam subsidi silang. ”Dr Samanta tahu bagaimana rasanya menjadi miskin dan betapa tidak enaknya jika tidak berpendidikan. Pendidikan itu penting untuk mereka yang kurang mampu,” tutur Suraj. 

KISS merupakan gabungan dari SD hingga SMA. Sekolah besar tersebut memiliki murid hingga 27 ribu orang. Semuanya merupakan anak-anak tribal di India Timur. ”Sebenarnya tidak hanya di Odisha, dari negara bagian lain juga ada. Sekolah ini memang sudah dikenal di banyak daerah di India,” terang Soumya. 

Tiap tahun ada sekitar 40 ribu pendaftar. Tapi, yang diterima hanya 4 ribuan. Mereka bisa menikmati kesempatan belajar dan semua fasilitas di sana tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. 

Jangan salah, hanya karena diperuntukkan buat anak-anak kurang mampu, fasilitas di sana tak lantas seadanya. Para akademisi di KISS justru ingin membuktikan bahwa sekolah mereka tidak kalah dengan sekolah untuk anak-anak orang mampu. Di sana, di antaranya, ada laboratorium dan ruang-ruang praktik. Rapi, dengan sarana yang cukup untuk ratusan anak dalam sekali belajar. 

Persyaratan untuk bisa diterima adalah pendaftar harus anak-anak tribal. Karena itu, saat mendaftar, yang dibawa hanya sertifikat kasta dari pemerintah. ”Dalam sistem kasta India, tribal berada di level terbawah, yang paling menderita, yang paling miskin,” terang Suraj. 

Mengutip BBC, ada dua konsep kasta di India, varna dan jati. Di varna, ada empat tingkat kasta: brahmana, kesatria, waisya (vaisa), dan sudra. Nah, orang-orang tribal berada di elemen kelima, di luar empat kasta itu. Atau dikenal sebagai Dalit, orang-orang tak berkasta. Sedangkan di jati juga ada empat sistem kasta itu plus ribuan kelompok sosial lainnya. 

Tapi, di KISS anak-anak ”di luar kasta” tersebut dimuliakan. Pada siang yang terik di akhir Desember lalu itu, misalnya, seperti disaksikan Jawa Pos, mereka bebas melakukan berbagai aktivitas. Sesuai minat masing-masing. Sesuatu yang bakal sulit mereka lakukan di luar sana. 

Ada yang asyik main bola atau hoki di lapangan sebelah makanan. Ada pula yang ikut klub sains atau belajar bahasa. Apa pun yang mereka sukai. Di KISS, para pengajar meyakini, anak-anak bakal sukses jika dibiarkan berkembang sesuai bidang yang diminati. 

Di sekolah yang memakai sistem student housing tersebut, anak-anak tinggal di asrama besar. Saking banyaknya siswa, satu kamar bisa memuat 7–8 orang. Setiap jadwal makan, mereka bakal beramai-ramai keluar asrama, sebagian berjalan dengan bertelanjang kaki. Sambil membawa piring aluminium di tangan masing-masing. 

Di kompleks asrama yang padat itu pun, ruang kreativitas tetap disediakan. Di bagian bawah asrama laki-laki, mereka memanfaatkan ruang kosong untuk memproduksi cairan-cairan kimia pembersih. Cairan pembersih itu pun digunakan untuk keperluan KISS. Ada pula yang dijual ke luar dengan nama Kalinga. 

Sedangkan di bagian bawah asrama perempuan terdapat ratusan alat jahit. Siswi-siswi biasanya berlatih menjahit di sana. ”Seragam siswa di sini, yang berwarna pink dan biru, semua dijahit di sini,” ungkap Soumya.

Dengan kekonsistenan dalam menjaga komitmen pendidikan untuk anak-anak kurang mampu seperti itu, tak mengherankan kalau KISS meraih banyak penghargaan. Di bagian depan sekolah terpajang plakat-plakat penghargaan dan kenang-kenangan dari PBB dan universitas-universitas asing. 

Penghargaan pertama dari PBB tercatat diraih pada 2013. Sekretaris Jenderal PBB (kala itu) Ban Ki-moon sempat pula mengadakan live discussion dengan murid-murid KISS. Setahun yang lalu, KISS juga menandatangani MoU dengan United Nation Development Program (UNDP). 

Menurut Suraj, semua itu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan hanya dari status sekolah. Entah itu negeri atau swasta. ”Tapi perubahan apa yang bisa diberikan sekolah itu untuk anak-anak didik mereka. Apakah menjadi berhasil dan berperan di masyarakat,” tuturnya. (*/c9/ttg) 

Berita Terkait