Selecao Memulai Dengan Boo

Selecao Memulai Dengan Boo

  Sabtu, 6 Agustus 2016 09:19
IMBANG: Neymar dan Abbubaker Mobara saat berlaga di stadion Mane Garrincha, Brasilia, Brasil (4\08). Laga berakhir imbang

Berita Terkait

BRASILIA – Senior ataupun junior ternyata sama saja. Brasil selalu mengawali perjalanannya sebagai tuan rumah dengan boo. Sama seperti yang didapatkan seniornya saat Piala Dunia 2014, kemarin WIB (5/8) Selecao – julukan timnas Brasil – junior pun juga di-boo lebih dari 69 ribu penonton yang datang di Estádio Nacional Mané Garrincha, Brasília.

Boo itu didapatkan Neymar da Silva Santos Jr dkk setelah gagal mendulang kemenangan ketika menghadapi Afsel dalam laga pertamanya di Grup A. Brasil tertahan tanpa gol. ''Bermain seri itu untuk kami sama saja dengan kalah,'' sebut Neymar, dalam wawancaranya setelah pertandingan sebagaimana dikutip dari AFP.

Sama saja dengan kalah, karena anak buah Rogerio Micale itu harusnya mengalahkan Afsel. Itu karena Brasil nyaris sempurna di hadapan Keagan Dolly dkk. Tidak cuma dari sisi penguasaan bolanya yang leading sampai hampir 70 persen, akurasi tembakan yang hanya mencapai 33 persen bisa menjadi indikator bahwa Brasil sudah banyak membuang peluang.

Dari 21 kali tembakannya ke gawang Itumeleng Khune, hanya tujuh di antaranya yang tepat ke sasaran. ''Tim datang ke lapangan untuk menang, kami tahu apa yang menjadi tanggung jawab kami di sini. Dan kami juga paham apabila semua itu tidak akan berjalan dengan mudahnya. Ini bukan sekedar memenangi medali emas,'' tutur winger Barcelona yang sudah dua kali bermain di Olimpiade itu.

Ini bukan kali pertama Brasil mengawali perjalanannya di cabor sepak bola Olimpiade dengan tanpa kemenangan. Kali terakhir, Brasil tidak berhasil memenangi laga pembuka Olimpiade itu dalam edisi Atlanta 1996. Ketika itu, Brasil yang diperkuat oleh Rivaldo harus mengakui keunggulan Jepang 0-1.

Untungnya sekalipun gagal menang dalam laga pertamanya, Brasil masih memimpin klasemen sementara Grup A. Itu karena pada laga Grup A lainnya antara Irak dan Denmark juga berakhir dengan skor tanpa gol. Pemain yang sudah membukukan 70 caps-nya bersama timnas itu menyebut, bukan sisi teknis yang jadi penyebab kegagalan timnya kali ini.

Sebaliknya, faktor non teknis disalahkan Neymar. ''Laga pertama ini sulit karena kami nervous. Saya rasa nervous ini yang membuat kami menderita,'' klaim Neymar. Selain Neymar, Micale di dalam pertandingan kemarin sebenarnya bermain dengan full team. Misalnya, Gabriel Jesus, Gabriel Barbosa, Marquinhos dan Felipe Anderson. Selanjutnya, Brasil akan menghadapi Irak, Senin besok WIB (8/8).

Duka Brasil yang gagal memenangi laga pertamanya itu diikuti sesama negara favorit juara dari Amerika Latin, Argentina. Nasib Argentina bahkan lebih parah dari Brasil. Tim junior Le Albiceleste – julukan timnas Argentina – dipecundangi juara Euro U-21 2015 Portugal dengan dua gol tanpa balas. Itu menjadi kekalahan pertama Argentina dalam 13 laga Olimpiade.

Adalah Goncalo Pacienca dan Pite yang menghadiahi Ricardo Esgaio dkk dengan kekalahan di laga pertamanya dalam fase grup D. Dua gol itu terjadi masing-masing pada menit ke-66 dan 84. Pada klasemen sementara Grup D, Argentina pun menjadi juru kunci setelah di dalam laga lainnya Honduras  mengalahkan Aljazair 3-2.

Julio Olarticoechea pelatih Argentina dalam wawancaranya kepada Buenos Aires Herald merasa belum saatnya anak buahnya melempar handuk. ''Berikutnya, jangan ada kekalahan lagi dalam dua laga terakhir yang tersisa (melawan Aljazair dan Honduras). Masih ada peluang bagi kami, saya yakin dapat melewatinya,'' koar Olarticoechea.

Pelatih berusia 57 tahun itu mengungkapkan, dirinya sebenarnya sudah mengerti bahwa strategi Portugal bertumpu pada kekuatan sayapnya. ''Makanya, saya pun mengubah formasi permainan dengan menempatkan banyak pemain di lini tengah. Saya berpikir Jose Luis Gomez sebagai gelandang mampu menutup serangan Portugal, tetapi itu tidak berhasil,'' tuturnya.

Angel Correa dianggap pelatih yang pernah menjadi bagian dari skuad juara Argentina ketika di Piala Dunia 1986 itu sebagai salah satu titik lemah timnya. Pemain Atletico Madrid itu menjadi pemain Argentina dengan peluang gol terbanyak. Dari 18 kali tembakan, lima di antaranya dilakukannya tanpa sekalipun menjebol gawang Bruno Varela.

Akan tetapi, masih ada maaf bagi pemain yang berusia 21 tahun itu. Correa masih menjadi asa di lini depan Argentina dalam laga kedua Grup D melawan Aljazair (8/8). ''Kami harus kerja keras pada laga berikutnya karena di laga itulah nafas terakhir kami,'' tegas Victor Cuesta, kapten timnas Argentina itu. (ren)

Berita Terkait