Selamatkan Perdagangan Kucing Hutan

Selamatkan Perdagangan Kucing Hutan

  Selasa, 8 March 2016 09:30
KUCING HUTAN: Petugas BKSDA Kalimantan Barat berhasil menggagalkan perdagangan hewan yang dilindungi dijejaring sosial, terlihat seekor anak kucing hutan yang diamankan di BKSDA Kalbar, Senin (7/3). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Perdagangan hewan yang dilindungi ternyata masih sangat mudah ditemukan. Seorang pengguna jejaring sosial bahkan dengan santainya memposting foto seekor anak kucing hutan yang ingin dijual dengan harga Rp350 ribu.

Akun jejaring sosial bernama A tersebut, beralasan ingin menjual kucing hutan peliharaannya tersebut karena membutuhkan uang. Namun beruntung niat memperjualbelikan satwa dilindungi tersebut berhasil digagalkan petugas BKSDA Kalimantan Barat. Kucing hutan berwarna kekuning-kuningan dengan corak bintik hitam tersebut pun berhasil disita dan diamankan.

Kepala BKSDA Kalbar Sustyo Iriyono mengatakan, penggagalan perdagangan kucing hutan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang mengetahui jika ada seseorang yang ingin menjual kucing tersebut melalui facebook . “Kami mendapat informasi Minggu malam, 6 Maret sekitar pukul 22.00,” kata Sustyo, Senin (7/3).

Dari informasi tersebut, lanjut dia, pihaknya langsung menugaskan anggotanya untuk melakukan penyelidikan mengenai identitas si penjual kucing hutan tersebut. “Malam itu, kami langsung mencari dan diketahui bahwa pejual merupakan warga Pontianak yang tinggal di Jalan Dr Wahidin,” ucapnya.

Dia menjelaskan, tim langsung bertemu dengan pemilik kucing dan memberi penjelasan kepada yang bersangkutan bahwa satwa tersebut dilindungi. “Dengan penjelasan yang diberikan akhirnya pemilik secara sukarela mau menyerahkan kucing hutannya dan malam itu kucing langsung dievakuasi,” ungkapnya.

Selain berhasil mengevakuasi kucing hutan, dia menambahkan, pada Kamis, 4 Maret lalu petugas Balai Pos BKSDA di Bandara Supadio Pontianak mengamankan rencana pengiriman tumbuhan yang dilindungi Undang Undang, yakni tumbuhan kantong semar. “Ada tiga karung tanaman kantung semar dengan berbagai jenis  yang berhasil disita,” sambungnya.

Dia menjelaskan agar kasus tersebut tidak terulang, pengirim pun dipanggil untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya. Jika mengulangi, dia menegaskan, tentu akan ditindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. “Modusya, tanaman dibungkus rapi dengan kertas lalu dimasukan ke dalam kotak dan dibungkus kembali dengan plastik. Pengirim juga memalsukan isi dalam resi dokumen di mana identitas barang tidak sesuai dengan isinya,” terangnya. (adg)

Berita Terkait