Selamat Jalan, Si Kaki Phytagoras

Selamat Jalan, Si Kaki Phytagoras

  Jumat, 25 March 2016 11:09

Berita Terkait

Peluit akhir hidup Johan Cruyff akhirnya berbunyi. Kemarin, legenda sepak bola asal Belanda itu menutup mata dalam usia 68 tahun akibat gerogotan kanker paru-paru. 

----------------------------------

”Johan Cruyff meninggal dengan tenang di Barcelona, dikelilingi oleh seluruh keluarga besarnya.” Demikian pernyataan resmi dari situs resmi Cruyff, World of Johan Cruyff.

Kanker paru-paru itu diidap mantan mahabintang Ajax dan Barcelona tersebut selama setahun terakhir. Penyakit yang sama juga merenggut nyawa pelatih legendaris Inggris, Sir Bobby Robson, pada 2009.

Ayah Direktur Maccabi Tel Aviv Jordi Cruyff itu sempat menjalani operasi bypass pada jantung. Operasi itu pula yang akhirnya membuat Cruyff berhenti merokok. Rokok mulai diakrabi Cruyff sejak masih aktif bermain pada1970an.

”Bersama sepak bola, aku meraih banyak hal. Sementara dengan rokok, aku nyaris kehilangan semuanya,” ungkap Cruyff.dalam sebuah video YouTube.

Cruyff diakui secara luas masuk dalam jajaran superelit para maestro alias pemain terhebat sepanjang masa bersama Pele, Franz Beckenbauer, Diego Maradona, Zinedine Zidane, dan Lionel Messi. Tapi, David Winner dalam artikel bertajuk The Church of Cruyff di Bleacher Report secara khusus menyebut mantan kapten tim nasional Belanda itu sebagai tokoh sepak bola paling brilian sepanjang sejarah. Juga, paling berpengaruh.

Dari tangannya lahir tim-tim yang memesona secara permainan. Juga, pemain-pemain hebat, dan gaya permainan yang diimani oleh berbagai pelatih dari beragam generasi. Mulai Arrigo Sacchi, arsitek The Dream Team AC Milan pada akhir 1980an sampai awal 1990an, sampai Pep Guardiola yang membuat Barcelona demikian digdaya.  

Semasa aktif merumput, pemain yang menghabiskan sebagian besar karirnya di Ajax Amsterdam itu dikenal sebagai ”Si Kaki Pythagoras.” Julukan yang disematkan kepada Cruyff karena kejeniusannya.

Tidak hanya dalam urusan memberikan umpan. Namun, juga karena dribel menawannya. Seperti seorang balerina yang sedang melakoni karya Pyotr Illyich Tchaikovsky berjudul Black Swan.

”Hanya sedikit yang bisa menghitung dengan benar, baik fisik maupun mental, kemampuan mengontrol permainan dari area penalti ke area penalti lainnya,” kata kolumnis David Miller di FootballingWorld.com 2007 silam.

Namun, pencapaian yang membuatnya masuk kedalam jajaran Hall of Fame sepak bola adalah sebuah sistem sepak bola bernama Total Voetbal. Sistem itu awalnya dikembangkan oleh Rinus Mitchel. Kemudian disempurnakan Cruyff ketika membesut Barcelona 1988. Muaranya, 11 gelar bagi klub berjuluk El Barca tersebut.

Guardiola, tak ragu menyebut Cruyff sebagai peletak batu ”Gereja Sepak Bola” modern.

”Cruyff adalah orang yang selalu mengecat dan membentuk gereja tersebut. Tugas kami hanyalah mempertahankan, atau semakin menyempurnakannya,” kata Guardiola, seperti dikutip Winner dalam artikelnya.

Ucapan belasungkawa pun mengalir dari seluruh penjuru dunia. ”Johan Cruyf adalah pesepak bola sejati. Aku tidak melihat ada orang yang bisa mempengaruhi sepak bola sepertinya,” kata bek tengah sekaligus kapten Belgia dan Manchester City Vincent Kompany.

”Aku begitu terkejut. Sebab, aku mengira dia sudah semakin membaik. Belanda kehilangan talenta terbaik di sepak bola,” kata eks rekan Cruyff di Feyenoord, Ruud Gullit, kepada The Guardian.

Selamat jalan, maestro! (apu/ttg)

 

 

Berita Terkait