Selamat Datang Sang Negarawan

Selamat Datang Sang Negarawan

  Rabu, 9 December 2015 08:03   799

Oleh: Mursalin

“Mencari Negarawan”. Demikian di antara brand program televisi di tanah air, menyertai hiruk pikuknya pemilihan umum kepala daerah atau biasa disingkat pilkada, yang dihelat 2015 ini. Dari sebutan “negarawan” tersebut, jelas sekali tergambar, betapa besarnya pengharapan publik, pengharapan kita semua, terhadap proses demokrasi, ajang menjaring kepemimpinan di level daerah, bernama pilkada.

Pilkada kali ini memang menjadi sorotan, dan bisa dibilang agak istimewa dari biasanya. Salah satunya karena serentak secara nasional. Lebih dua ratus daerah kabupaten dan kota - plus provinsi, yang akan melakukan hajatannya untuk memilih bupati, wali kota, dan gubernur pada 9 Desember 2015 ini - termasuklah di Kalbar ada tujuh daerah.

Sementara, jumlah calon pasangan gubernur maupun calon pasangan bupati dan wali kota yaitu sebanyak delapan ratusan,  yang tersebar di seluruh Indonesia.

Melihat dari jumlah daerah yang menghelat pesta demokrasi, delapan ratusan pasangan calon yang bertarung dan  melibatkan seratusan juta lebih pemilih, tentu kita akan berkata,  “Wa-aw..!”.  Sudah bisa dibayangkan, betapa hiruk pikuknya prosesi demokrasi tersebut.  Efek turunan, efek domino, efek lanjutan, pasti bakal banyak sekali. Termasuk lah tentu dana yang dikeluarkan. Baik oleh pemerintah maupun masing-masing kontestan yang  saling berkompetisi.  Sudah bisa dipastikan, angkanya akan super jumbo dan super fantastis.

Jika masing-masing pasangan, rerata mengeluarkan minimal Rp5-10 miliar saja maka ongkos yang dikeluarkan jumlahnya bakal mencapai delapan triliunan rupiah lebih. Kalau ditotalkan dengan anggaran yang dikeluarkan pemerintah, maka dana secara nasional yang ‘terkuras’ untuk perhelatan demokrasi bernama pilkada ini, bisa tembus sepuluh triliunan rupiah lebih.

Tapi, ya, sudahlah! Kita tinggalkan saja dulu, terkait ongkos yang dikeluarkan untuk suksesi kepemimpinan daerah tersebut. Mari kita kembali ke persoalan “negarawan”, sebagaimana judul tulisan ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,  negarawan adalah seseorang yang ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan: beliau (negarawan) merupakan pahlawan besar dan-agung. Sikapnya sangat diperlukan dalam menghadapi persoalan kemasyarakatan.

Kalau mengacu pada arti atau definisi tersebut, melahirkan dan membentuk  seorang negarawan jelas menjadi sangat penting. Di tengah carut marut bangsa yang masih terjadi saat ini pasca 17 tahun melaksanakan reformasi, Indonesia amat membutuhkan negarawan bertangan dingin untuk mengurus berbagai persoalan bangsa dan negara, serta mengarahkan perahu bernama Indonesia ini ke arah tujuan yang sesungguhnya-sebagaimana yang dicita-citakan.

Maka itu, bukan suatu  yang berlebihan tentunya, ketika  uang triliunan rupiah, pun harus dikeluarkan dalam rangka mencari negarawan sejati di negeri  ini. Sudah seharusnya, perhelatan pilkada tidak hanya sekadar dipandang sebagai kegiatan rutinitas dan formalitas belaka. Setelah terpilih, pemimpin yang telah diberikan mandat oleh rakyat, lantas sibuk dengan urusannya sendiri.  Misalnya sibuk mengurus kelompok yang telah mendukung serta melunasi utang dana pilkada. 

Lebih dari itu, mestinya, tidak bisa tidak, sang pemimpin hendaknya langsung tancap gas untuk melakukan kerja nyata atas janji kampanye yang telah disampaikan, dengan muaranya adalah untuk menyejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. Karena satu priodesasi-lima tahun, bukanlah waktu yang panjang untuk bekerja bagi seorang gubernur, bupati dan wali kota yang benar-benar serius untuk memajukan daerah dan rakyatnya.

Idealnya, pasca Pilkada 2015 ini, kita akan segera mendengar, banyak daerah di tanah air yang sudah mampu mandiri untuk mengelola daerah-tanpa harus terpaku ke pusat setiap saat. Begitupun  persoalan energi (listrik) dan air bersih, mampu  teratasi dengan kreatifitas daerah. Infrastruktur  jalan mulus, akses pendidikan dan kesehatan mudah dan murah, terbukanya lapangan kerja, dan lain sebagainya yang terkait dengan kemakmuran dan kesejahteraan, bisa dan mampu dilakukan oleh daerah. Alhasil, sehingga demikian, dari sejumlah keberhasilan tersebut, sang negarawan yang berhasil memajukan daerahnya,  kelak  akan dicatat sejarah dengan tinta emas dan dikenang sepanjang masa.

Pilkada jelas merupakan peristiwa penting. Karena itu,  proses pelaksanaan pilkada yang panjang  ini-hampir setengah tahun berjalan tahapannya, sepatutnya lah untuk kita kawal dan terus jaga bersama. Semoga pilkada di negeri ini, termasuklah di Kalbar, akan berjalan aman, damai, tertib, dan lancar sebagaimana yang diharapkan,  serta  mampu melahirkan (apabila fugur baru yang terpilih) dan membentuk (apabila petahana yang terpilih) “negarawan sejati” yang sesungguhnya .  Selamat datang wahai  “Sang Negarawan” di bumi persada tercinta. (Penulis adalah Direktur PONTV)