Selalu Evaluasi Kinerja Staf

Selalu Evaluasi Kinerja Staf

  Selasa, 16 Agustus 2016 09:30
Hilaria Yusnani

Berita Terkait

Hilaria Yusnani saat ini menduduki karir tertinggi birokrat di Kayong Utara. Sebagai sekretaris daerah di pemerintah kabupaten tersebut, ia dipercaya membantu bupati dalam menyusun kebijakan dan mengoordinasikan seluruh kepala dinas. Perempuan berusia 53 tahun ini pun kerap melakukan evaluasi kinerja para staf. Kendati demikian, ia menganggap semua stafnya adalah mitra kerja, bukan bawahan yang harus melayani.

Oleh: Marsita Riandini

Bertugas menjadi sekretaris daerah memberikan tantangan tersendiri bagi Hilaria. Ia harus menyatukan banyak banyak kepala. 

“Tugas saya ini mengoordinasikan, artinya menyatukan sekian banyak kepala untuk mencapai tujuan daerah yang ditetapkan pimpinan. Karena tak semua kepala SKPD itu memahami dengan baik tupoksinya,” ujar Hilaria. 

Beragam kesibukan dilakoni Hilaria setiap harinya. Satu diantaranya menyukseskan Sail Karimata 2016, yang puncaknya dilaksanakan di Kayong Utara. Sail Karimata ini sebagai bentuk promosi daerah.

Sebelum menduduki jabatan sekda, Hilaria bertugas di berbagai tempat di pemerintahan. Karirnya bermula ketika lulus dari APDN pada 1986. Ia ditempatkan di Kantor Camat Kembayan selama satu tahun setengah. 

Setelah menikah, Hilaria memutuskan mengikuti suami yang bekerja di Kecamatan Kendawangan. Di sana ia dipercaya sebagai Kepala Urusan Administrasi selama 1,9 tahun. 

“Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk lanjut  kuliah S1 ke Institute Ilmu Pemerintahan tahun 1989 dan selesai tahun 1992,” ungkap ibu dua anak ini.  

Setelah menuntaskan pendidikannya, Hilaria mendapat amanah menjadi Kepala Seksi Pembangunan di Kantor Bupati Ketapang wilayah Sukadana. Enam tahun menjabat, ia diangkat sebagai Camat Sukadana. 

“Alhamdulillah saya menjadi camat pertama di awal era otonomi daerah yang kewenangannya itu oleh bupati. Lebih kurang dua tahun saya dipindahkan ke Kecamatan Matan Hilir Utara,” papar Hilaria. 

Ketika era otonomi, instansi vertikal pun menjadi perangkat daerah. Hilaria pun dimutasikan di Kasubdit Perdagangan di Disperindag. Ini menjadi awal perjalanan karirnya yang keluar dari lingkup pemerintahan. 

“Saya bergelut dibidang teknis yang sebenarnya secara latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan latar pendidikan saya,” jelasnya.  

Kendati demikian, dia pun terus mendalami jabatan barunya dan belajar lebih banyak, terutama dalam penguasaan tugas pokok dan fungsi. Ia berusaha menguasai aturan teknis yang berkaitan dengan bidang tugasnya. 

“Tentunya karena ini hal baru. Saya harus lakukan penyesuaian baik lingkungan kerja maupun mekanisme kerja,” tuturnya, yang selama dua tahun tujuh bulan di tempatkan sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Perkebunan. 

Pada 2007, terjadi pemekaran dan berdiri Kabupaten Kayong Utara. Hilaria diminta kembali ke wilayah kabupaten tersebut. Saat di mutasi, ia dipercaya sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan sekaligus  PLT Kadis Kesehatan. 

“Seperti yang telah lalu, saya kembali belajar hal-hal teknis, mempelajari aturan yang menaungi tugas-tugas bidang kesehatan, baik dinas kesehatan provinsi maupun kementerian kesehatan,” ungkapnya. 

Setelah mengarungi bidang teknis kesehatan, Hilaria dipercaya untuk menjadi Kepala Dinas Pendidikan dari 2008 hingga 2015. Hal-hal berkaitan dengan dunia pendidikan pun ia pelajari, terutama dalam menetapkan kebijakan. 

Tahun lalu, Hilaria ditunjuk sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Kayong Utara. Bagi Hilaria, tak banyak yang berubah dari dirinya walaupun menduduki karir tertinggi birokrat. Sebab, dalam semua jenjang jabatan, dia berusaha menjalin kerjasama yang baik dengan bawahannya. Ia menganggap staf adalah mitra kerja dan bukan bawahan yang harus melayaninya.

“Mereka inilah yang menguasai banyak hal, terutama yang bersifat teknis. Sebagai pimpinan, saya hanya mengoordinir dan mengakumulasikan hal-hal yang menjadi tupoksi staf menjadi sebuah kesimpulan dan kebijakan, serta merangkum hal-hal yang dihimpun dari bawahan sebagai data pokok,” tutur Hilaria yang juga kerap melakukan evaluasi kinerja kepada bawahannya. 

Perempuan kelahiran 18 Mei di Saham ini bersyukur cukup lama ditempatkan di wilayah Kayong Utara ketika belum berdiri sendiri sebagai kabupaten. Hal ini sangat membantunya dalam melaksanakan tugas, karena masyarakat di sana banyak yang mengenalnya. 

“Kalau di akumulasikan, saya memang lebih banyak di Kayong Utara dibanding di Ketapang. Lebih kurang 8 tahun,” cerita istri Sulistiono ini. 

Sebagai kabupaten baru, Kayong Utara memiliki potensi yang cukup besar untuk dikenal luas, terutama dari segi sumber daya alamnya. 

“Ini bukan pendapat saya, tetapi ada beberapa pandangan bahwa KKU ini diibaratkan sebagai gadis cantik yang sedang bangun tidur. Dia sudah kelihatan cantik walaupun belum dipoles. Untuk mengeluarkan aura kecantikannya itu, maka harus didandani. Inilah yang menjadi tugas pemerintah daerah dan masyarakat untuk mendandaninya  biar tidak salah make-up,” terangnya. 

Bumi Kayong banyak mengandung bahan tambang. Tapi peraturan yang ada tidak memungkinkan untuk dilakukannya eksploitasi. 

“Sekitar 35 persen wilayah Kayong ini  termasuk taman nasional dan hutan lindung. Sehingga eksploitasi bidang pertambangan tidak memungkinan. Pertanian areanya terbatas,” jelasnya. 

Hilaria menambahkan satu-satunya yang sangat memungkinkan eksplorasi agak mendalam untuk sektor kelautan dan pariwisata. Laut Kayong sangat bagus dan masih alami. 

“Ini akan sangat menarik untuk dikembangkan menjadi destinasi  pariwisawa. Tidak akan kalah dengan tempat lain. Kondisi lautnya masih alami jernis dan bersih, apalagi untuk wilayah kepulauan Karimata,” ujar Hilaria, yang bersyukur selalu mendapat dukungan keluarga dalam melaksanakan tugasnya. ** 

Berita Terkait