Sekolah Sehari Penuh

Sekolah Sehari Penuh

Sabtu, 13 Agustus 2016 10:29   909

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan yang dilantik 27 Juli 2016, Prof Muhadjir Effendy membuat gebrakan. Menteri Muhadjir menggagas pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta menggunakan sistem "full day school" --Sekolah sehari penuh. Program ‘sekolah sehari penuh’ disebut sebagai salah satu operasianalisasi Nawa Cita Presiden Joko Widodo di bidang pendidikan. Gagasan ini diadopsi dari Finlandia.

"Dengan sistem full day school ini, secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang, 8 Agustus 2016.

Ada tiga alasan yang disampaikan oleh Menteri. Pertama, kegiatan ‘Sekolah sehari penuh’ berupa kegiatan ekstrakurikuler yang diarahkan untuk mengisi pendidikan karakter. Kedua, tambahan jam di sekolah dapat membantu orang tua yang bekerja di luar rumah ‘menjaga’ anak-anaknya. Orang tua bisa menjemput anak mereka di sekolah saat pulang kerja. Ketiga, membantu para guru memenuhi jumlah jam mengajar wajib sebagai guru yang bersertifikat.

Walaupun baru diwacanakan, kehadiran gagasan Mendikbud ini sudah banyak mengundang penentangan. Headline Pontianak Post, 10 Agustus 2016, berjudul “Ortu tolak full day school”. Karena ‘perlawanan’ ini, Menteri Muhadjir “meminta masyarakat istilah full day school”. Tetapi, istilah lain belum disampaikan kecuali “kegiatan tambahan yang menyenangkan”.

Dalam kolom wawancara khususnya, Pontianak Post mengutip “Saya ini baru jualan ide. Ingin tahu kritik masyarakat seperti apa. Kritik itu bagus. Pandangan masyarakat akan kami tampung” (hal.l7, kolom 5). Dalam konteks kritik itu, tulisan ini dibuat.

Mengapa Finlandia Baik?

Berhubung istilah yang baru belum disamapian oleh Mendikbud, maka istilah Sekolah sehari penuh – Full day school.  Menurut sejumlah tayangan media massa,  gagasan Sekolah sehari penuh ini diadopsi dari Finlandia. Dalam banyak laporan hasil survai lembaga pendidikan internasional sistem pendidikan di Finlandia ditempatkan di papan atas.

Dr Andrew Scott, Profesor Madya bidang Politik dan Kebijakan Universitas Deakin - Australia, baru saja menerbitkan buku dengan judul “Northern Lights: The Positive Policy Example of Sweden, Finland, Denmark and Norway (Monash University Publishing)”. Disebutkan “Finnish schools are very well-designed, with excellent, well-maintained facilities, which makes them stimulating and rewarding places in which to work”. Di bagian lain dituliskan "in Finnish schools, not only the school cultures are different because of the autonomy of the school but also…the school buildings including the classrooms reflect how much teachers have influenced the things inside". "The pedagogical approach, the way you work with the kids, is also [about] how you plan your environment and use it in your learning and teaching," .... teaching encouragingly for the purpose that students learn, rather than punitively for the purpose that they meet the requirements of high-stakes external tests”.

Intinya, sekolah-sekolah di Filandia memiliki otonomi penuh mengatur dan melaksanakan fungsinya. Pengaruh para guru di sekolah sangat besar dan terbebas dari tekanan dari para pemangku kepentingan yang lebih tinggi. Jadi, lama siswa di sekolah bukan merupakan faktor penting yang menyumbang keberhasilan pendidikan Finlandia.

Rangkuman Penelitian

Yael Kidron dan Jim Lindsay dari  American Institutes for Research, 2014, merangkum dengan metode meta-analisis 30 penelitian pengaruh penambahan jam sekolah di sekolah dasar baik di bidang akademik maupun bidang non-akademik.  Kegiatan tambahan jam sekolah dapat meningkatkan kemampuan literasi dan matematika terutama jika diampu oleh para guru yang bersetifikat, walaupun kecil.  Penggunaan metode pembelajaran yang berbasis pengalaman mampu meningkatkan ketrampilan sosial-emosional para siswa.

Harris Cooper, Ashley Batts Allen,  Erika A. Patall dan Amy L. Dent dari Universitas Duke, AS, (2010) memeta-analisis hasil-hasil penelitian yang membandingan program ‘full day schooling’ dan ‘half day schooling’ di tingkat Taman Kanak Kanak - AS. Ditemukan besar Effect Size pada hasil belajar adalah 035; pada kemampuan verbal 0.46; serta khusus kemampaun matematika 0.24. Mereka menyarankan jika ingin dampak Full day schooling ini jangka panjang, sebaiknya Full day schooling diterapkan juga di tingkat sekolah dasar. Bagi kalangan masyarakat bawah, Full day schooling juga dapat meningkatkan kesehatan anak-anak.

Hasil rangkuman meta-analisis ini menunjukkan bahwa tambahan jam sekolah dapat meningkatkan ketrampilan sosial dan emosional siswa, walaupun tidak besar. Pertanyaan yang perlu diajukan kepada Mendikbud adalah apakah  peningkatan ketrampilan sosial-emosional para siswa ini akan sebanding dengan biaya, tenaga dan waktu yang perlu disediakan jika akan diterapkan secara nasional di Indonesia?

Robert A. Hahn dkk dari Pokja Community Preventive Services, American Journal of Preventive Medicine -AS, 2014, membuat peta konsep hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan program sekolah sehari penuh – full day school. Siswa yang mengikuti program sekolah sehari penuh akan ‘kehilangan’ jam luar sekolahnya sehingga mengalami penurunan jam rekreasi, dan jam kumpul keluarga. Tetapi dapat meningkatkan jam kerja orang tua mereka.

Sebaliknya, tambahan jam sekolah akan akan meningkatkan: kelelahan mereka, tekanan agar berhasil, jam belajar, motivasi, ketrampilan belajar, sosialisasi dengan teman sejawat, serta kemungkinan memperoleh diteksi dini baik kesehatan maupun kesulitan belajar. Dampaknya, hasil belajar meningkat baik segi kognitif maupun afektif. Sehingga, ke depan akan dapat hidup lebih layak dan nyaman. Semoga!**

Leo Sutrisno