Sekolah Berasrama

Sekolah Berasrama

Rabu, 18 November 2015 07:48   637

Oleh: Leo Sutrisno

DALAM kolom ‘Cover Story’ Pontianak Post, Jumat 13 November 2015, disajikan perjuangan penduduk pedalaman Kalimantan Barat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Wartawan Sutami mengantarnya dengan judul “Bertarung nyawa menuju sekolah” dan dilengkapi dengan tambahan  sub judul ‘Urunan biaya transfortasi’.

Laporan ini mestinya menggugah nurani kita semua, terutama para pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Kalimantan Barat ini. Bahkan, bagi sebagian dari mereka tentu justru menjadi masa lalunya, suatu perjuangan untuk memperoleh pendidikan demi masa depan.

Anehnya, pengalaman masa lalu itu seolah-olah tidak kuat menggugah  hati mereka untuk berbuat lebih bagi para generasi berikutnya. Laporan jurnalistik Sutami yang sampai ke para pembaca ini perlu direspons.

Pada tahun 2013, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat pernah mengusulkan model pendidikan di pedalaman  perbatasan dengan nama ‘One stop services’ yang berada di ibu kota kecamatan. Bentuk konkritnya berupa ‘Sekolah satu atap berasrama’.

Satu atap dimaksudkan di lokasi sekolah yang diusulkan itu berdiri dari TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Ada sejumlah keuntungan dari keberadaan berbagai jenjang sekolah di satu lokasi seperti ini. Pertama, dapat menggunakan sarana dan prasarana secara maksimal. Karena, semua sarana dan prasarana itu dipakai bersama-sama. Tentu, pengelolaannya perlu koordinasi yang baik serta semua pihak berkehendak untuk bekerja demi pendidikan bukan demi keuntungan diri.

Keuntungan kedua, kompetensi guru juga dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan memberi kesempatan menjadi pengajar lintas jenjang. Di samping itu, juga dapat mengatasi kekurangan guru. Mereka pun diharapkan menjadi ‘kerasan’ tinggal di daerah yang ‘terpencil’ ini karena tetap mempunyai banyak teman seprofesi, sekalipun lintas jenjang sekolah.

Selain satu atap, sekolah mesti berasrama. Memang, dewasa ini di beberapa sekolah daerah terpencil dan tertinggal sudah ada yang memiliki asrama. Ada yang disediakan pemerintah ada juga yang dibangun sendiri oleh para orang tua/ masyarakat secara mandiri. Namun, asrama yang diusulkan oleh Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan  Barat berbeda dengan asrama-asrama yang telah ada. Asrama yang diusulkan terinspirasi dari model pondok-pondok pesantren dan asrama-asrama yang ada dikomplek persekolahan Katolik yang dikelola oleh para biarawan.

Fungsi asrama bukan sekadar tempat tinggal (baca tempat numpang tidur) setelah sekolah. Tetapi, di asrama ini para siswa mendapat kesempatan berlatih mengembangkan ketrampilan hidup yang kelak akan diperlukannya. Karena itu, asrama mesti dikelola secara sungguh-sungguh.

Keberadaan asrama di sekolah semacam ini akan mendorong para orang tua siswa untuk menyerahkan anak-anaknya tinggal di asrama. Dengan cara itu, anak-anak tidak perlu lagi ‘bertaruh nyawa menuju sekolah’ dan orang tua tidak khawatir akan keselamatan anak-anaknya dari menit ke menit setiap hari.

Namun demikian, musti juga dipikirkan biaya asrama yang harus terjangkau oleh masyarakat banyak. Barang kali para pemangku kepentingan dapat belajar dari para pemilik pondok pesantren, para pejuang pendidikan atau para biarawan bagaimana cara mendapatkan dana dan mengelolanya.

Ada baiknya, kita mencontoh penyelenggaraan pendidikan di negara seberang batas. Tidak hanya mencontoh penyelenggaraannya tetapi juga mencontoh bagaimana sikap mental mereka di era global ini. Mungkin bagian ini dapat menjadi semangat masing-masing individu para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan untuk melakukan revolusi mental yang dimulai dari hatinya sendiri.

Dengan begitu, energi para pendidik untuk mengabdi dengan tulus dan energi para siswa dalam berjuang melawan alam untuk mendapatkan pendidikan dapat dialihkan untuk berlatih menjadi insan masa depan yang mampu berkiprah di panggung global. Semoga!

Leo Sutrisno