Sekelumit Cerita Korban Perdagangan Orang , Konflik Orangtua Antarkan Anak ke Dunia Prostitusi

Sekelumit Cerita Korban Perdagangan Orang , Konflik Orangtua Antarkan Anak ke Dunia Prostitusi

  Rabu, 24 February 2016 09:01
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

Usianya baru 15 tahun. Remaja putri itu menjadi korban perdagangan anak. Tubuhnya dieksploitasi untuk pemuas nafsu birahi lelaki hidung belang. Lalu apa yang menyebabkannya menggeluti pekerjaan itu? ADONG EKO, Pontianak

MALAM semakin larut, arah jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas. Tapi gadis itu bersama kedua rekannya masih berada di hotel. Bukan sebagai pengunjug. Ia datang sebagai wanita pemuas nafsu untuk memenuhi permintaan pelanggannya.Malam itu, anggota Polresta Pontianak berhasil menggagalkan perdagangan orang, sehingga jasanya tak jadi dipakai dan harus ikut diamankan di kantor polisi.

Di Polresta Pontianak, ia menceritakan kehidupannya dari keadaan yang normal hingga menjadi pekerja seks komersial saat usianya masih muda.April 2015, ia putus asa. Konflik antara kedua orang tuanya tak berujung. Pertikaian terjadi karena perselingkuhan yang dilakukan ayah. Gadis muda itu tak kuat menghadapi prahara di rumahnya.Narkotika menjadi pilihannya. Barang haram tersebut menjadi pilihan untuk menenangkan diri agar bebas dan tenang dari konflik kedua orangtuanya. “Capek bang, bapak dan ibu tidak pernah akur. Hampir setiap hari bertengkar,” kata gadis berpakaian hijau itu.

Hampir enam bulan ia hidup dengan obat terlarang. Pada akhir 2015, ia harus dititipkan ke suatu tempat untuk menjalani rehabilitasi agar bebas dari pengaruh narkoba. “Baru keluar rehab awal Januari kemarin,” ucapnya.Kembali ke keluarga, konflik yang dulu membuatnya terjatuh pada dunia narkotika belum reda. Berusaha untuk tenang, tegar sambil meminta kepada kedua orang tuanya agar keluar dari konflik yang tak kunjung selesai, namun usahanya itu sia-sia. “Sudah sering kali saya minta kepada orang tua agar tidak bertengkar, tapi keduanya bingal (tak mau dengar), tetap saja bertengkar,” ceritanya. Bulir-bulir bening mulai mengalir di sudut matanya.

Ia pun kembali frustasi, tak kuasa menahan kesedihan hati melihat pertikaian yang tak kunjung henti. Ia pun memutuskan mencari ruang bagi keheningan diri, hingga akhirnya memilih menjajakan tubuhnya demi mendapatkan ketenangan. “Saya dikenalkan kawan sama mucikari, lalu ditawarkan pekerjaan itu dan saya menerimanya,” ucapnya.Very, mucikari yang bertugas mencarikan pelanggan baginya. Dari satu hotel ke hotel lainnya ia datang untuk memenuhi panggilan pelanggan. “Biasanya di hotel, tapi baru malam ini (kemarin) di hotel Jalan Gajah Mada,” ungkapnya.

Dua bulan lamanya sudah gadis muda itu menjalani pekerjaan barunya itu, hampir lebih dari sepuluh pelanggan yang sudah dilayaninya mulai dari usia 20 tahun hingga 40 tahun pernah menggunakan jasanya. Ia mendapat bayaran untuk sekali kencan sebesar Rp600 ribu.Uang itu tidak semuanya menjadi miliknya, ia harus menyetor sebesar Rp200 ribu kepada mucikari, sementara sisanya menjadi miliknya. Uang itu pun tak hanya digunakan untuk kepentingan pribadinya, seperti membeli baju, membeli alat komunikasi, makan, tetapi juga ia gunakan untuk memberi ibunya. “Mamak sih tahunya saya kerja di karaoke,” tutur gadis.

Ia sebenarnya tak ingin larut dalam pekerjaan menjajakan diri. Ia pun sebenarnya ingin berhenti, namun hingga saat ini belum ada pekerjaan tetap yang dimiliki. “Bagaimana mau kerja sekolah sudah berhenti, mau kerja tetap sampai sekarang belum dapat,” ucapnya.Ia tak sendiri. Ada juga temannya, wanita muda yang masih berusia 19 tahun. Ia pun memiliki pekerjaan yang sama, yakni menjajakan dirinya kepada pengunjung hotel melalui Very. Mengenal dunia prostitusi sejak Agustus 2015. Temannya ini sudah cukup memiliki pelanggan tetap. Dalam satu minggu, ia bisa melayani hingga tiga orang lelaki dengan tarif Rp300 ribu.(*)

Berita Terkait