Sehari Tempa 10 Senjata, Paling Sulit Bikin Pisau Arab

Sehari Tempa 10 Senjata, Paling Sulit Bikin Pisau Arab

  Minggu, 3 April 2016 10:30
BERTAHAN : Usaha kerajinan senjata tradisional milik Abu Saeri tetap bertahan hingga saat ini. ALI IBRAHIM/RADARMAS/JPG

Berita Terkait

SENJATA  tradisional menjadi salah satu ciri dari suatu daerah, misalnya mandau dari Kalimantan, keris dari Jawa, celurit dari Madura, dan rencong dari Aceh. Salah satu usaha industri kerajinan senjata tradisional yang tetap bertahan adalah milik Abu Saeri Sastrowardoyo, yang ada di Kelurahan Pasir Kidul RT 02 RW 03, Kecamatan Purwokerto Barat.

Kerajinan yang kini dijalankan oleh ibu enam putra ini merupakan usaha yang dikelola secara turun-temurun. Abu Saeri mewarisinya dari sang suami yang meninggal sejak tahun 1985. Unit usaha yang dimotori tiga karyawan ini memproduksi berbagai jenis senjata tradisional seperti rencong, keris, kujang, badik, mandau, samurai, pedang dan lain-lain. 

Senjata tersebut dibuat dari berbagai bahan dasar logam, mulai dari besi sampai baja.  Sementara warangka atau sarung senjata dibuat dengan menggunakan fiber glass, resin, dan kuningan. Untuk membuat kesan warna senjata menjadi antik, Abu Saeri membakar warangka dan gagang senjata di atas api, atau istilahnya sangob.

Dikatakan Abu Saeri, teknik pembuatannya cukup dengan menggunakan cetakan. "Semua ada cetakannya. Namun tetap kesulitannya jika ada pemesan yang membawa senjata sendiri dan kami belum punya cetakannya. Karena saya harus membuat cetakan terlebih dahulu," katanya. 

Ia dan tiga karyawannya bisa membuat 100 senjata dalam waktu 10 hari. Untuk harga, masing-masing bervariasi tergantung model atau desain, dan tingkat kerumitan pengerjaannya. "Mulai Rp 30.000 hingga ratusan ribu per unit," ujarnya. 

Berdasarkan pengalaman Abu, senjata yang paling sulit dibuat yakni pisau Arab. Itu karena banyak ukiran di warangkanya yang terbuat dari kuningan.  Selama berkiprah, hasil kerajinan Abu sudah merambah hingga ke seluruh nusantara, seperti Jakarta, Jogja, Solo, Bali dan yang terjauh Aceh. 

"Konsumen rata-rata datang sendiri ke sini. Biasanya ramai pesanan saat liburan. Kebanyakan untuk suvenir," tuturnya. (*/sus)

Berita Terkait