Segera Dioperasi, Butuh Uluran Tangan Masyarakat

Segera Dioperasi, Butuh Uluran Tangan Masyarakat

  Senin, 20 June 2016 09:40
BUTUH BANTUAN : Arsyifa Ajwa Zahra balita pengidap Hidrosefalus bersama sang ibu, Artiya Shiyami (23 tahun), keluarga berharap bantuan masyarakat untuk membantu biaya operasi. FAJAR WIDYANTO FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Arsyifa Ajwa Zahra mengidap Hidrosefalus sejak lahir. Kini di usianya yang menginjak 1,6 tahun, dirinya dinyatakan siap dioperasi. Mengingat biaya yang tak murah, kedua orang tuanya berharap uluran tangan dari masyarakat.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Fajar Widyanto (31 tahun) dan Artiya Shiyami (23 tahun), pasangan suami istri, orang tua Syifa, panggilan Arsyifa Ajwa Zahra, khawatir dengan pertumbuhan kepala anaknya. Tidak seperti bayi normal biasanya, kepala bocah berusia 1,6 tahun ini terus membesar. Mereka baru mengetahui anaknya mengalami penyumbatan cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel otak di usia dua bulan. Syifa pun dinyatkan mengidap Hidrosefalus.

Sang ayah menceritakan. anak pertamanya ini lahir 8 Desember 2014 silam. Karena sang ibu mengalami gangguan plasenta previa, Syifa terpaksa lahir premature di usia kandungan 23 minggu. Beratnya hanya 1,3 kilogram, dengan panjang 38 sentimeter.  “Ketika lahir Syifa tidak menangis, dokter mengatakan paru-parunya belum berfungsi dengan baik, kondisi badannya kecil, seperti tulang terbungkus kulit,” ujar Fajar saat beberapa awak media berkunjung ke kediamannya. 

Di temui di rumahnya, Jalan Wonobaru, Gang Madyosari 3 Nomor 12, Pontianak Selatan, Syifa terlihat sangat ceria. Dibaringkan di kereta bayi berwarna biru-abu seolah dirinya menyadari kedatangan tamu. 

Sesekali tangan mungilnya menarik kelopak bawah matanya. Bahkan dia memandang lalu tersenyum. Terlihat beberapa giginya berwarna putih mulai tumbuh. “Begitulah cara Syifa melihat,” terang sang ibu. Meski tak mengalami gangguan penglihatan. Tetapi hanya mata kanannya saja yang bisa digunakan. Itu pun karena kebiasaan. “Dia tak pernah menggunakan mata kiri untuk memandang, akibatnya kelopak bawah mata kanannya menghitam, keseringan ditarik, kalau dicegah, dia malah marah,” ujar Artiya.

Artiya mengatakan pasca lahir, Syifa sempat diinkubator selama sembilan hari. Merasa perawatan masih kurang dan tak tega melihat anaknya terus di balik kaca, mereka berdua sepakat membawa Syifa pulang ke rumah. “Ada satu hal yang bikin saya tersenyum bahagia, di subuh pertama Syifa berada di rumah, ia bisa menangis,” kenangnya.

Saat di rumah Syifa mulai bisa mengkonsumsi ASI secara teratur. Secara umum Syifa bukan tipe anak yang rewel. “Dia baru belajar bicara, biasanya suka panggil-panggil kalau merasa sepi,” cerita Artiya.

Mengenai proses pengobatan, sejak diperiksakan pertama kali di dua bulan setelah Syifa lahir, dokter sudah menyarankan untuk melakukan operasi. Namun saat itu usia Syifa belum mencukup. Karena kulit kepalanya masih tipis, risiko yang harus dihadapi akan lebih bahaya.  “Kami sepakat membawanya pulang dan memberi pengobatan alternatif, sambil menunggu waktu yang tepat untuk operasi,” ucapnya. Sejauh ini, perawatan refleksi dengan kaki sudah diberikan. Termasuk pengobatan alternatif. “Memang tak langsung sembuh, namun kepala Syifa yang sebelumnya lebih lembut mulai terasa keras,” timpal Fajar. 

Suatu hari Syifa juga pernah dibuatkan surat rujukan untuk berobat di Rumah Sakit Kota Pontianak. Karena dokter di sana tidak tersedia, Syifa lantas dirujuk ke rumah sakit Kharitas Bhkati. Di sana orang tua Syifa sempat beberapa kali berkonsultasi dengan dokter. Hingga menetapkan jadwal operasi. “Rencananya, proses awal akan dimulai 20 Juli 2016 mendatang,” terang Fajar.

Diketahui dana operasi yang dibutuhkan sekitar Rp80 juta. Hal inilah yang menjadi kendala Fajar selaku kepala kelauraga. Apalagi dia hanya seorang pekerja swasta. “Saya pernah meminta bantuan Dinas Kesehatan Pontianak, namun tak ada kabar sampai sekarang. Saat ini saya juga tengah mengurus berkas untuk disampaikan kepada Wali Kota,” akunya. Meski demikian bukan tak ada harapan sama sekali, sejak beberapa waktu terakhir, berbagai komunitas dan masyarakat juga telah banyak yang membantu melakukan penggalangan dana. Hingga, Sabtu (18/6), terkumpul dana Rp29 juta. Namun keluarga tetap berharap bantuan dari pemerintah.

Bagi masyarakat lain yang ingin membantu, bisa juga langsung transfer ke nomor rekening orang tua Syifa, Bank Mandiri 146-00-097562-9 atas nama Fajar Widyanto. Segala perkembangan bantuan pengobatan dan kondisi terakhir Syifa juga bisa dilihat melalui akun facebook Fajar Widyanto atau di blog fajarwidyanto46.blogspot.co.id. “Kami selalu berdoa yang terbaik untuk anak kami dan semoga segala sesuatunya dilancarkan,” tandasnya.** 

Berita Terkait