Sedahan Jaya Didatangi Turis Asal Jepang

Sedahan Jaya Didatangi Turis Asal Jepang

  Selasa, 3 November 2015 10:37
TAKJUB: Tampak sejumlah turis asal Jepang begitu takjub memperhatikan bagaimana warga Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, saat membuat alat musik senggayung. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

SUKADANA – Sebanyak delapan mahasiswa dan satu dosen, yang merupakan turis asal Jepang, beberapa minggu lalu melakukan tur wisata di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana. Mereka difasilitasi Japan International Coorperation Agency (JICA) dan Canopy Indonesia, selaku fasilitator. JICA merupakan salah satu NGO, sedangkan Canopy Indonesia merupakan sebuah lembaga yang bergerak di bidang pariwisata.

Kepala Desa Sedahan Jaya, Nazanadira, mengungkapkan dari bentuk wisata yang dimiliki mereka, sebetulnya begitu berpotensi, khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Namun, dia juga menambahkan jika sebenarnya pula, di lingkungan pemukiman masyarakat pun banyak terdapat potensi wisata yang bisa dikembangkan.“Oleh karena itu kami mencoba mengundang, melalui JICA dan Canopy, untuk memberikan suatu dorongan atau motivasi kepada para mahasiswa asal Jepang, agar bisa mengunjungi Desa Sedahan Jaya. Kalau dengan kedatangan mereka ini bisa memberikan hasil yang baik, tentunya ke depan apa yang telah disuguhkan kepada turis tersebut bisa dikembangkan, baik itu berupa suguhan tarian, tempat menginap mereka, yang kami tempatkan di rumah-rumah warga. Inilah yang coba kami kembangkan, sebuah destinasi pariwisata yang berbasis masyarakat,” jelas Naza, sapaan karibnya, secara singkat.

Dia mengungkapkan bagaimana dalam hal ini masyarakat dilibatkan dalam mengelola destinasi wisata yang ada di daerah mereka. Potensi yang ada, menurutnya, dikembangkan oleh masyarakat secara bersama-sama. Diakui dia, untuk pengelolaan tersebut, tidak cukup hanya bergantung kepada pemerintah desa. “Masyarakatlah yang harus membantu pemerintah desa dalam mengelola potensi wisata yang ada, sehingga bisa diselenggarakan secara baik dan maksimal,” kata dia.

Nazanadira juga memiliki keinginan merubah cara, yang bisa dikatakan selama ini dilakukan melalui pihak TNGP, yang akhirnya belum bisa memberikan perkembangan yang lebih maju bagi masyarakatnya. Dia juga berharap apa yang telah dilakukan dan dikembangkan, bisa memberikan motivasi kepada pemerintah, baik desa, kabupaten, provinsi, bahkan Pemerintah Pusat, dalam bentuk kerja sama. Dalam arti, menurut dia, desa yang memiliki potensi wisata, sehingga bisa mendapatkan dukungan.

“Hal ini dilakukan, agar potensi-potensi wisata yang ada, bisa berkembang dan pelestarian budaya lokalnya tetap terjaga, misalnya kebudayaan Melayu dengan kesenian senggayungnya. Ke depan, pada bulan Desember, kami juga akan mengadakan Festival Kontes Durian,” tutur NazaSalah satu hambatan yang dihadapi Desa Sedahan Jaya, diakui dia, adalah komunikasi, dalam hal ini penguasaan Bahasa Inggris. Namun Naza melihat ini bukan sebuah hambatan, tetapi lebih merupakan sebuah tantangan. Bagaimana cara agar masyarakat bisa mendapatkan pelatihan-pelatihan dalam berbahasa Inggris, maka mereka pun menggandeng NGO-NGO yang ada seperti Yayasan Palung, Yayasan ASRI, JICA, hingga Canopy Indonesia.

“Dan Alhamdulillah, kebetulan ada salah satu warga kami menikah dengan warga dari luar desa yang fasih berbahasa Inggris dengan baik. Sehingga satu persoalan dalam pembentukan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat bisa sedikit teratasi. Harapan kami, agar masyarakatlah sendiri yang harus berperan aktif dan selalu berada di depan dalam mengelola potensi wisata yang ada,” lanjut Naza.

Dia juga meminta kepada pihak TNGP agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap desa, serta berperan lebih aktif. Terlebih, dia menambahkan jika desa yang dipimpinnya tersebut wilayahnya dikelilingi oleh taman nasional. “Perhatian, bentuk dukungan dan dorongan dari TNGP terutamanya bisa memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat Desa Sedahan Jaya yang SDM-nya masih belum maksimal,” kata dia.Sementara itu, JICA atau Badan Kerjasama Internasional Jepang, melihat Desa Sedahan Jaya memiliki potensi pariwisata berada di sekitar TNGP yang begitu bagus.

“Jika berbicara pariwisata di Sedahan, mau tidak mau membicarakan masyarakatnya. Yang JICA dorong adalah manajemen kolaborasi antara TNGP dan masyarakat, dengan salah satu bentuknya ecotourism. TNGP punya potensi, masyarakat juga, yakni kebudayaannya. Inilah yang kami fasilitasi,” papar Dicko Rossanda perwakilan dari JICA.Dia juga mengungkapkan bagaimana sebuah tantangan dalam mengurusnya, di mana yang paling mendasar adalah bagaimana membangun kepercayaan antara pihak TNGP dengan masyarakat Desa Sedahan Jaya. Selain itu, dia juga tak memungkiri jika komunikasi juga penting dilakukan. “Tidak kalah penting lagi adalah motivasi dari masing-masing pihak,” terang Dicko.

Sementara itu, kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kayong Utara, Mas Yuliandi, mengungkapkan bagaimana mereka telah melakukan motivasi terhadap desa-desa yang memiliki potensi wisata menjadi desa wisata. Selanjutnya, dia menambahkan, jika memang ada wisatawan yang berkunjung, akan diarahkan mereka kepada desa-desa yang telah membentuk kelompok sadar wisata, seperti Desa Sedahan Jaya.

“Dinas menyiapkan masyarakat sebagai tuan rumah yang baik, untuk kunjungan pariwisata, melalui pembentukan kelompok sadar wisata. Ini dilakukan oleh Dinas, di antaranya pelatihan-pelatihan terhadap kelompok sadar wisata itu. Pada tahun 2016 nanti, kita akan mengadakan kegiatan pelatihan terhadap para pemandu wisata terpadu. Selain kepada masyarakat desa wisata, juga kepada pemilik rumah makan dan pihak-pihak perhotelan,” tutup Yuliandi. (dan)