Sebab Terjadinya Bencana

Sebab Terjadinya Bencana

Jumat, 13 November 2015 13:38   1

Oleh: Uti Konsen.U.M.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman “ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahanmu .” (Asy-Syura (42):30). “ Sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi satu makhluk pun ( yang hidup ), tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya “ (Fathir(35):45).

Pada saat pasukan Sa’ad bin Abi Waqash dikepung dan diusir oleh Persia dalam perang  Qadisiyah, setelah dilaporkan ke khalifah Umar bin Khattab, beliau menulis surat singkat “ Aku memerintahkan kamu dan pasukanmu untuk lebih takut kepada kemaksiatan daripada kepada musuhmu, karena dosa pasukan lebih menakutkan daripada musuh mereka “. Adapun dasar pemikiran Umar adalah “ Mana mungkin Allah menolong bila pasukannya banyak bermaksiat “.

Bukankah Allah Subhanahu wata’ala sudah berfirman “ Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu ( Muhammad ) berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun “ (Al Anfal:33).

Salah satu contoh. Ketika terjadi gempa bumi di Pakistan puluhan tahun yang silam, ada seorang lelaki yang selamat secara menakjubkan, di luar nalar. Kiatnya “Saya memperbanyak istighfar “, ujarnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda “ Punggung – punggung kalian sudah berat menanggung dosa-dosa kalian. Ringankanlah beban kalian dengan memperbanyak sujud “. Dalam sujud perbanyaklah istighfar.” Allah tidak akan menurunkan azab kepada mereka selama mereka beristighfar “ (Al Anfal (8):33).

Tidak ada sepotong ayat pun yang mengisyaratkan bahwa bumi berguncang dengan sendirinya. Tetapi ia “ diguncangkan “. Boleh jadi manusia, karena kedurhakaannya, menjadi penyebab dan korbannya sekaligus sebagaimana kisah Qarun yang diuraikan dalam Alquran. Qarun adalah orang yang melimpah ruah kekayaannya, tapi tidak memiliki kesetiakawanan sosial, bahkan enggan mengakui bahwa kekayaan yang diperolehnya berkah anugerah Ilahi. Gempa yang merenggut nyawa dan seluruh hartanya adalah sanksi baginya dan pelajaran bagi yang lain. Ka’ab menyatakan “ Bumi berguncang jika maksiat dilakukan di dalamnya. Ia bergemuruh karena takut kepada Tuhan Yang Maha Agung.”

Terkaid AIDS dan berbagai penyakit aneh yang muncul di akhir zaman ini misalnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam  telah  mengingatkan “ Tidak merajalela fasisyah dalam satu masyarakat, sampai mereka terang-terangan melakukannya, kecuali tersebar pula wabah dan penyakit di antara mereka yang belum pernah dikenal oleh generasi terdahulu “.

Akibat pembabatan  kayu yang tumbuh di hutan belantara yang luar biasa di era terakhir ini, menimbukan terganggunya ekosistem dunia flora dan  fauna. Misalnya burung. Padahal Allah Subhanahu wata’ala sudah menegaskan dalam Al Quran “ Burung – burung adalah umat seperti halnya manusia “ (QS.(6): 38).

Maka dari itu seyogianya pohon – pohon harus dipelihara. Jangankan dalam masa damai, dalam masa perang pun terlarang menebangnya kecuali seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan. “ Setiap jengkal tanah yang terhampar dibumi, setiap tetes hujan yang tercurah dari langit, setiap nikmat yang dianugerahkan Allah akan diminta untuk dipertanggungjawabkan”.

Demikian kandungan tafsir penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam tentang ayat kedelapan surah At- Takasur “ Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan ( yang  megah di dunia itu )”.  Prof.Ahmad Syauqi Ibrahim – ilmuan Mesir – membuktikan bahwa seluruh tumbuhan memiliki kepekaan yang tinggi. Ia bereaksi cepat terhadap kondisi sekitarnya. Mereka memiliki perasaan, sedih dan bahagia, bahkan dapat berbicara. Tentu dengan bahasa mereka sendiri. Salah satu “ ekspresi “ kemarahan mereka adalah tidak berbuah. Tidak bisa dipanen. Subhanallah.

“Musibah atau bencana merupakan lampu penerang bagi orang yang arif, sebuah keterjagaan bagi para pemula dan sebuah pembinasaan bagi orang yang lalai “ (Imam Al-Junaidy).

Sebagai penutup simaklah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam  “Tidaklah menimpa seorang hamba suatu bencana, baik besar maupun kecil, melainkan karena suatu dosa, dan yang dimaafkan Allah darinya lebih banyak. Allah berfirman, ‘ Dan apa jang menimpamu dari suatu musibah,maka itu disebabkan karena ulah tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak  (kesalahanmu) “ (HR.Turmuzi). Wallahu’alam.  

Uti Konsen