SBY Paling Suka Motif Garis Lurus

SBY Paling Suka Motif Garis Lurus

  Selasa, 28 June 2016 09:30
KHAS: Sumarlan Hisyam Abdul Rahman menunjukkan salah satu contoh kain yang sudah jadi bersama ikatan benang yang baru saja digambari (kiri), Senin (13/6). FOTO: BAYU PUTRA/JAWA POS

Berita Terkait

​Melobi agar jadi seragam PNS dan menggelar pameran tahunan di jalanan desa adalah serangkaian upaya mengembalikan pamor tenun Troso. Yang terus eksis menggunakan benang serat alami untuk menjaga kualitas. 

BAYU PUTRA, Jepara

JEJAK kejayaan itu masih terpampang jelas di jalanan utama desa. Rumah-rumah megah, galeri besar, dan gapura gagah bertulisan ”Selamat Datang di Sentra Tenun Troso”.   

”Pernah jumlah karyawan di industri tenun mencapai 10 ribu orang, separo dari penduduk sini,” kata Abdul Basir, kepala Desa Troso, Senin dua pekan lalu (13/6). 

Tenun Troso bisa dibilang produk ikonik Jepara selain mebel dan batik. Pada periode 2005–2015, arus permintaan terhadap tenun tersebut sangat tinggi. Presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), termasuk salah seorang penggemarnya. Presiden kelahiran Pacitan, Jawa Timur, itu sangat menyukai kain Troso dengan motif garis lurus.

Sebagai bentuk penghargaan, perajin di Troso menamakan salah satu motif mereka SBY. Berbagai rumah megah dan galeri besar di kiri-kanan jalanan desa yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Jepara itu juga rata-rata dibangun di periode keemasan tersebut.

Tapi, pada 2015 pula, mulai ada penurunan permintaan. Harganya pun ikut jatuh. Meskipun, memang ada sejumlah pemilik galeri yang tetap mempertahankan harga agar tidak turun drastis. 

Buntutnya, jumlah perajin juga ikut turun. ’’Belum lama ini kami mendata, jumlahnya paling sekitar 3.000 orang,’’ ucap Basir. 

Karena penurunan itu pula, jumlah penduduk yang mengurus kartu Jamkesmas melonjak. Pada 2013, jumlah pemilik Jamkesmas ada di kisaran 6.000 orang. Tapi, sekarang jumlahnya mencapai 10 ribu. 

”Itu salah satu tolok ukur. Kalau dia punya mobil tentunya nggak akan ngurus Jamkesmas karena itu ada syarat-syarat tertentu,’’ terangnya.

Pada pagi Senin dua pekan lalu itu, penurunan permintaan kain Troso tak kasatmata. Sejumlah galeri memang belum buka pada pukul 09.00 itu, tapi kegiatan produksi jalan terus.

Di sebuah tempat produksi, para perajin menunaikan tugas masing-masing. Ada yang memintal benang, ada yang mengikat benang sebelum digambar, dan tentu saja ada penenun.

Dari luar, yang terdengar kali pertama adalah suara tek tok tek tok yang bersahut-sahutan. Itu adalah suara benturan gulungan benang dengan alat tenun. Gulungan benang digeser dari kiri ke kanan dan sebaliknya dengan cara diketok. Begitu diketok, gulungan benang akan meluncur di jalurnya menuju arah sebaliknya. Itulah yang menimbulkan suara khas alat tenun tersebut.

Tidak ada yang tahu pasti kapan tenun Troso mulai berkembang. Ada yang memperkirakan sejak 1935. Sebelumnya, warga setempat hanya membuat tenun gedong. Tenun tersebut berkembang menjadi tenun pancal dan pada masa-masa awal kemerdekaan dibakukan sebagai tenun Troso karena pembuatnya memang warga Troso.

Bagaimanapun dulu asal usulnya, yang pasti, tenun Troso sudah jadi salah satu produk kebanggaan Jepara. Karena itu, upaya untuk mengembalikan masa kejayaan terus dilakukan. Misalnya, Pemkab Jepara tengah melobi pemerintah provinsi dan pusat agar PNS (pegawai negeri sipil) di Jepara boleh mengenakan pakaian dari tenun Troso tiap Jumat sebagai pengganti batik. Selain itu, pihak desa berupaya memperkenalkan tenun Troso dengan menghelat ajang Troso Fair.

Event tersebut digelar kali pertama tahun lalu dan dihadiri bupati Jepara. ’’Tahun ini mau saya adakan lagi di sepanjang jalan ini,’’ ujar Basir seraya menunjuk jalan utama Desa Troso. 

Untuk mengadakan event itu, diperlukan dana sekitar Rp 40 juta. Rencananya diambilkan dari dana desa. Lewat ajang tersebut, pihaknya berharap bisa memperkenalkan kembali produk-produk para perajin kepada masyarakat luas.

Beberapa jalur perdagangan yang saat ini ada juga masih dipertahankan. Misalnya, ekspor ke Thailand dan Timur Tengah. Juga, koneksi dengan Bali. Biasanya, para perajin di Bali membeli kain Troso, lalu memodifikasinya menjadi produk tas, selendang, atau barang lain. Lalu, dilabeli produk Bali demi menarik minat para turis mancanegara.

Sumarlan Hisyam Abdul Rahman, salah seorang pemilik galeri, yakin pasar tenun Troso masih terbuka. Asal, kualitas dan orisinalitas dijaga. Dia sudah membuktikan sendiri. Berpegang pada dua prinsip itu, dia masih eksis. Bahkan kerap kewalahan melayani order.

’’Desain motifnya saya sendiri yang membuat,’’ tuturnya.

Ayah empat anak itu membuat desain motif dari hal-hal yang ada di sekitarnya. Kebanyakan terinspirasi dari flora dan fauna. Misalnya, pohon asam, gembili, burung merak, tapal kuda, Dakocan, dan puluhan motif lainnya.  

Untuk membuat tenun ikat Troso, tutur Sumarlan, diperlukan tahapan yang panjang. Ada dua jenis benang yang digunakan, yakni pakan (horizontal) dan lusi (vertikal). ’’Yang pakan itu prosesnya ada 21 tahapan, sedangkan lusi 27 tahapan,’’ tutur pria 56 tahun tersebut yang selalu menggunakan benang berbahan serat alami.

Dalam kondisi normal, diperlukan waktu dua bulan untuk memproduksi tenun Troso. Namun, kepada para pelanggannya, Sumarlan selalu meminta waktu tiga bulan pengerjaan. Itu dilakukan untuk berjaga-jaga apabila di tengah produksi terjadi hal yang tidak diperkirakan, misalnya, faktor cuaca.

”Banyak pelanggan saya dari NTT (Nusa Tenggara Timur) yang juga punya tenun. Itu bukti kalau tenun Troso itu sebenarnya diminati,” katanya.

Yang penting, pemalsuan harus diperangi. Yakni, menggunakan benang murahan untuk memproduksi kain. Alhasil, setelah pakaian berbahan tenun Troso dicuci beberapa kali, jadi menyusut.

Selain itu, dalam setiap pameran, para penjaga stan harus dibekali pengetahuan yang cukup seputar kain. Minimal, pengetahuan soal kain yang stannya dia jaga. ”Agar konsumen mendapatkan informasi yang benar mengenai kain yang akan dia beli,” katanya. (*/c10/ttg)    
 

Berita Terkait