Satu Rumah Terseret Ombak, Empat Rusak Berat

Satu Rumah Terseret Ombak, Empat Rusak Berat

  Selasa, 9 February 2016 10:20
HANCUR: Dapur rumah salah satu warga di Dusun Tanjung Batu, Kecamatan Pemangkat yang hancur lantaran dihantam ombak FOTO HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PEMANGKAT – Satu rumah hanyut dan empat rumah di Dusun Tanjung Batu, Kecamatan Pemangkat, Senin (8/2) rusak berat akibat terjangan ombak pasang rob dini hari. Bahkan pemilik rumah pun terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya. Tak hanya itu, air pasang laut merendam ratusan rumah di Dusun Banjar.

Salah satu warga, Tarmizi (71), warga Jalan Gudang Garam, Dusun Tanjung Batu, menceritakan jika kejadiannya berlangsung sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu ia bersama istri sedang berada di rumah. Digambarkan dia bagaimana gelombang datang begitu cepat. “Dapur kami rusak, begitu juga dengan lantai rusak berat, bahkan harus berhati hati berpijak karena dihantam ombak,” ungkapnya kepada koran ini.

Ia mengatakan jika tahun ini pasang rob sangat parah. Pasalnya, dia menambahkan, kondisi tersebut ditambah angin kencang disertai ombak tinggi.Lain halnya dengan Hendra Umar yang rumahnya hanyut akibat ombak besar. Diungkapkan dia, tak ada yang bisa diselamatkan dari rumah yang terbuat dari papan tersebut. “Hanyut sudah rumah, kini tinggal sementara dengan keluarga,” katanya.

Ia mengatakan saat itu ombak begitu tinggi. Bahkan, rumahnya sempat goyang dihantam ombak. Ia dan keluarga pun langsung menyelamatkan diri pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. “Sebelumnya juga air gelombang pasang, tapi tak begitu mengkhawatirkan. Namun dinihari tadi kaget juga sampai terjadi hal ini,” katanya.

Hal sama juga disampaikan Bayu, warga lainnya. Dapur rumahnnya rusak berat akibat hantaman ombak. “Rumah kami juga sampai goyang juga, bagian dapur dan sebagian rumah rusak,” ungkap bapak tiga anak ini.

Ia menceritakan jika ketinggian air di rumahnya mencapai setinggi tiga keping papan. Meski tidak mengungsi, ia bersama istri harus memperbaiki bangunan yang rusak, baik bagian dapur maupun lantai rumah. Sampai saat ini dia begitu khawatir kejadian serupa kembali datang.

Informasi mengenai kejadian tersebut dibenarkan kepala Desa (Kades) Pemangkat Kota, Kasful Anwar. Dia langsung menyurvei lima unit rumah rusak tersebut. Bersama sekretaris Desa (Sekdes) Pemangkat Kota, Riki Ricardo, melihat bangunan rumah warga yang terkena dampak air gelombang pasang. “Kami sudah ke sana, dan memang kondisinya memperihatinkan bahkan satu rumah hanyut,” katanya.

Saat ini, pihaknya pun sudah meminta kepala dusun dan ketua RT setempat, untuk mendata dan mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). “Langkah ini sebagai awal kami melaporkan ke pihak terkait dan pegangan data bagi desa, agar untuk membuat langkah berikutnya dan diharapkan warga yang terkena musibah dapat bantuan segera dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Pemangkat Kota, Rudi, memperkirakan ratusan rumah terendam akibat pasang air gelombang disertai terjangan ombak. “Kejadiannya kurang lebih sekitar pukul 02.00 WIB, (di mana) air datang dengan derasnya. Selain rumah, Masjid Nurul Huda pun ikut terendam. Kita tak menyangka air begitu besar,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat mengkaji penambahan atau meningkatkan pembangunan panangkal ombak di wilayah pesisir Desa Pemangkat Kota. “Perlu peningkatan dan penambahan penahan dan pemecah ombak,” katanya

Ia juga berharap agar Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas terjun ke lapangan, untuk melihat sanitasi lingkungan di wilayah Banjar pascaair surut. “Dengan kondisi saat ini, tentunya sebagian masyarakat butuh perhatian kesehatan lingkungan dan pengobatan bagi warga,” katanya.  

 

Ancaman Gagal Panen

Pasang air laut ternyata juga mengancam Paloh. Sejumlah warga Dusun Matang Putus, Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh, khawatir pasang laut kembali melanda desanya. Sebab pasang laut kedua yang terjadi pada Senin (8/2) subuh lalu, ternyata lebih dahsyat dari pasang laut sebelumnya yang terjadi pada 26 Januari lalu. Sekitar 10 hektare sawah terendam pasang laut yang memaksa petani memanen padi lebih awal. Bahkan sekitar 50 pohon kelapa di bibir pantai tumbang dihantam ombak. 

Solihin, warga Sambas yang saat itu pulang kampung ke Dusun Matang Putus kaget saat air laut menggenangi rumah orang tuanya, sekitar pukul 03.00 WIB. "Saya masih tidur, tiba-tiba air laut sudah merendam rumah warga, dan terdengar suara warga kalut, rumah mereka digenangi air laut, angin disertai hujan sangat deras," kata Solihin via handphone.Pensiunan Kepala SMP Negeri 1 Sambas ini menjelaskan jika pasang laut yang datang tiba-tiba membuat warga siaga. Karena diperkirakan dia, malam ini pasang laut akan datang lantaran sudah memasuki musim landas. "Saat ini warga sedang berbenah rumahnya yang terendam banjir rob, dan terpaksa memanen padi lebih awal, apalagi hari masih gelap, jadi warga takut pasang laut susulan datang," kata Solihin. 

Hal senada dikatakan Akhmad, warga Dusun Matang Putus, Desa Matang Danau. Saat dikonfirmasi wartawan via handphone, disampaikannya jika pasang laut terjadi sekitar pukul 03.00 WIB akibat pasang laut. Saat ini ia berkumpul bersama Iswan, ketua RT 18 dan Hauri'a, kepala Dusun Matang Putus serta warga lainnya. "Dari pantauan di lapangan, sekitar 15 rumah yang tidak jauh dari pantai terendam pasang laut, tidak saja di Desa Matang Danau, Desa Kalimantan, dan Tanah Hitam juga dilanda pasang laut," ungkapnya.

Karjono, kepala Desa Matang Danau saat dikonfirmasi sedang berada di lokasi pasang laut bersama warga. Saat ini, diungkapkan dia, sudah ada satu warga yang mengungsi bernama Jaina. Pihaknya pun berharap agar pemerintah, baik Pusat, Provinsi, dan Kabupaten, membangun beton penahan ombak di pesisir pantai. Karena, diakui dia, setiap tahun kejadian ini saban kali terjadi. "Ada satu warga yang mengungsi karena khawatir, karena jarak air laut ke rumah lebih kurang 3 meter lagi," tegasnya. (har)

Berita Terkait