Satu Hektare Bisa Menghasilkan 8,5 Ton Bawang Merah

Satu Hektare Bisa Menghasilkan 8,5 Ton Bawang Merah

  Sabtu, 16 April 2016 09:20
PANEN: Wakil Wali Kota Pontianak Edi Kamtono saat menghadiri panen bawang merah di Pontianak Utara. ISTIMEWA

Berita Terkait

Kota Pontianak menjadi daerah yang mampu memproduksi berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura, salah satunya bawang merah varietas Bima. Bahkan dalam satu hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 8,5 ton bawang merah kering. Hal ini dinilai positif dalam mengendalikan inflasi daerah.

“INI salah satu cara menekan harga bawang yang kerap tinggi. Inflasi akibat bawang merah di Pontianak mencapai 3,4 persen, dengan ini harapan kami bisa diturunkan, target minimal di bawah satu persen,” ungkap Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono usai menghadiri panen bawang merah di Holtikultura Park, Jalan Sungai Selamat Dalam, Pontianak Utara.

Dengan hasil yang dicapai yaitu dalam satu hektare bisa memproduksi 8,5 ton bawang kering, Edi megatakan capaian ini mampu memenuhi standar bahkan lebih dari rata-rata nasional yang hanya 8 ton per hektare. “Di sini per hektare hasil bawang merah basahnya 17,5 ton, tentu perlu dikeringkan agar harganya tinggi,” ucapnya. 

Tak dipungkiri sejauh ini stok kebutuhan bawang merah di Pontianak lebih besar didatangkan dari Pulau Jawa. Diketahui kebutuhan bawang merah di Pontianak rata-rata mencapai 5 ton per bulan, 70 persennya masih di pasok dari luar daerah. Dengan ada panen ini dikatakan bisa memasok 20 persen sampai 30 persen kebutuhan bawang merah. “Minimal kita bisa mengimbangi bawang merah yang masuk dari luar sehingga harga bisa dikendalikan,” terangnya. 

Edi berharap kelompok-kelompok tani yang ada bisa digiatkan lagi untuk menanam bawang merah. Minimal ketahanan pangan di Pontianak bisa terjaga dengan adanya produk-produk pangan seperti ini. Karena secara kualitas bawang merah yang dihasilkan juga tidak kalah baik dengan produk dari Pulau Jawa. Rata-rata haraganya mencapai Rp20 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram.

Menurutnya, terbukti Pontianak menjadi salah satu daerah yang mampu memproduksi hasil pertanian dan tanaman pangan seperti bawang merah, cabai rawit, terong, timun, kacang panjang dan lain-lain. Bahkan sekitar 60 persen produk pertanian di Kalbar dipasok dari Pontianak.

Karena itu Pemkot Pontianak terus berupaya mempertahankan lahan pertanian di Pontianak Utara. Yaitu sekitar 30 persen dari luas wilayah sudah masuk dalam tata ruang untuk pertanian dan peternakan. Harapannya produk-produk tanaman pangan bisa terus diproduksi. Meski berada di lahan gambut namun tetap cocok untuk ditanami berbagi jenis tanaman pangan.

Kepala Bidang Bina Produksi Hortikultura Dinas Pertanian TPH Kalbar Sofian Suri menambahkan, kini sudah terbantahkan jika bawang merah dianggap tidak cocok di tanam di Kalbar. Karena sekarang sudah dikembangkan benih atau varietas bawang merah yang cocok di wilayah dataran rendah. “Bahkan kami membuktikan menanam di lahan gambut, aluvial dan  agak berpasir,” terangnya.

Ini dilakukan mengingat komoditi ini menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kalbar. Untuk itu  Dinas Pertanina konsen menjalankan program peningkatan produksi bawang merah dan juga cabai rawit. Agar ke depan inflasi bisa terus ditekan terutama menjelang hari-hari besar.

Menurutnya di Kalbar, lahan yang sudah ditanamai bawang merah masih relatif kecil. Masih berupa lahan-lahan percobaan yang fungsinya agar menggugah masyarakat ikut menanam jenis tanaman ini. Sejauh ini sudah berjalan di Kota Pontianak, Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang. “Untuk potensi lahannya sebenarnya sangat luas, tinggal diperhitungkan musim, irigasi, serta sarana dan prasaranya termasuk juga SDM,” katanya.

Koordinator Petani Bawang di Holtikultura Park Subejo mengaku cukup banyak kesulitan dalam memproduksi bawang merah. Dia mengaku hasil yang dicapai sekarang ini buah dari kerja keras setelah dua kali mengalami kegagalan.

Hal yang menjadi dilematis saat menanam bawang merah adalah ketika musim penghujan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) meningkat sementara kebutuhan air cukup, sebaliknya, saat kemarau kebutuhan air susah tapi OPT menurun. Karena itu Subejo mengaku dalam satu tahun hanya bisa menanam sebanyak satu kali saja. “Momen yang tepat seperti saat ini yaitu peralihan antara musim hujan menuju kemarau,” paparnya

Saat ini hasil yang dicapai cukup menggembirakan. Rata-rata produksi bawang merah kering dari satu hektar lahan mencapai 8 ton sampai 12 ton. Dengan harga per kilogramnya sekitar Rp40 ribu ke distributor, penghasilan yang didapat petani sekali panen mencapai ratusan juta. “Dari keuntungan memang lebih besar menanam tanaman hortikultura dibanding tanaman pangan,” tandasnya.(bar) 

Berita Terkait