Sapuan Haris Purnomo Segaya dengan Henk Ngantung

Sapuan Haris Purnomo Segaya dengan Henk Ngantung

  Senin, 15 Agustus 2016 09:30
PIAWAI: Haris Purnomo di depan salah satu lukisannya. GHOFUUR EKA/JAWA POS

Berita Terkait

Lukisan Memanah karya Henk Ngantung akhirnya bisa dinikmati lagi dalam pameran lukisan koleksi Soekarno di Galeri Nasional Jakarta pada 1–31 Agustus. Padahal, lukisan kebanggaan Bung Karno itu sudah lama ”sekarat” karena dimakan usia dan digerogoti rayap.

ALLAF DZIKRILLAH, Surabaya

Haris Purnomo bisa-bisa menjadi orang yang most wanted pada pameran bertajuk 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan itu. Sebab, dialah perupa pertama yang ditunjuk secara resmi oleh Kementerian Sekretariat Negara untuk mereproduksi lukisan karya mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. Mengapa Haris yang ditunjuk untuk ”kembali menghidupkan” lukisan yang dibeli Bung Karno pada 1944 itu?

Itulah pertaruhan yang dilakukan Mikke Susanto, kurator pameran untuk menyambut 71 tahun kemerdekaan RI tersebut. Di mata Mikke, Haris adalah pelukis yang tepat untuk mengerjakan proyek besar itu. Sebab, selama ini Haris dikenal sebagai pelukis hiperealis ternama di Indonesia. Karya-karya ikoniknya yang berupa gambar bayi-bayi lucu, Garuda Pancasila, dan sosok-sosok bertato diakui sangat persis dengan objek asli.

Haris menerima tawaran yang memiliki prestise itu dengan perasaan campur aduk. Dia menganggap penunjukan tersebut sebagai tanggung jawab besar yang harus diterima sebagai anak bangsa.

”Saya senang dan bangga bisa memberi sumbangsih untuk bangsa ini. Terlebih, lukisan itu pernah dipajang di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur,” jelas Haris saat ditemui di sela-sela persiapan pameran tunggalnya di Surabaya pada Kamis (12/8).  

Namun, di sisi lain Haris prihatin dengan kondisi lukisan yang sudah rusak parah sehingga harus direproduksi untuk ”menghidupkannya lagi”. Meskipun, untuk itu, prosesnya tidak mudah.

Memanah dilukis di atas media tripleks. Lukisan tersebut menjadi backdrop konferensi pers seusai Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Umurnya kini sudah lebih dari 72 tahun. Di usia setua itu, tak heran bila lukisan tersebut sudah rapuh dan mulai habis karena digerogoti rayap. Warna cat yang menempel di tripleks juga mulai pudar dan kusam. Lukisan tersebut sudah tidak bisa ditegakkan lagi. Kini ia dimasukkan di bingkai kaca dan hanya bisa dilihat secara horizontal.

”Untungnya, Mikke punya buku lukisan koleksi Bung Karno yang di dalamnya berisi karya Henk Ngantung untuk acuan,” ucap lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI), Jogjakarta, 1975 itu.

Haris kemudian mulai melukis ulang lukisan langka dan bersejarah itu pada awal Ramadan lalu, sekitar Juni. Dia diberi waktu sebulan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Langkah pertama yang diambil Haris adalah melakukan digitalisasi untuk menepatkan skala lukisan. Berkat teknologi itu, dia mampu membuat sketsa yang sama dengan aslinya. Baru setelah itu dia masuk proses melukis.

Sapuan-sapuan realis tangan Haris diakui Mikke memiliki kedekatan gaya dengan goresan kuas Henk Ngantung. ”Tapi, saya belum bisa secara utuh menyamai karya Henk Ngantung. Sapuannya memiliki tekstur yang berbeda,” tutur dia.

Dia mengerjakannya mulai sehabis sahur hingga pukul 07.00 setiap hari di rumahnya di kawasan Cibubur. ”Enak dikerjakan di rumah, bisa bebas. Kalau di istana, harus mengenakan batik dan celana kain, agak ribet,” ujarnya, lalu tertawa.

Penggarapan lukisan tersebut bukan tanpa halangan. Sebab, saat proses finishing tiba-tiba kondisi kesehatan Haris drop. Karena itu, pelukis yang pernah menggelar pameran di empat benua tersebut harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selama seminggu dia diopname dan tidak ada yang tahu, kecuali keluarga.

”Baru setelah ditanya pihak Setneg, saya bilang sedang tidak enak badan. Maka, hebohlah orang istana. Mereka lalu membesuk saya di rumah,” ungkap pelukis yang pernah bergabung dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia ”Kepribadian Apa” itu.

Lukisan tersebut akhirnya selesai sesuai jadwal. Hasilnya terbilang mirip. Hanya terdapat sedikit perbedaan pada warna tubuh pemanah, yakni lebih cerah jika dibandingkan dengan aslinya. Selain itu, detail revisi lengan pemanah tak terlihat. ”Tingkat kemiripannya, kalau bisa saya katakan, sekitar 85 persen dari aslinya,” tambahnya.

Terlepas dari perannya sebagai pelukis pertama yang diminta secara resmi oleh istana untuk mereproduksi lukisan Henk Ngantung, Haris memang lebih dahulu dikenal sebagai pelukis hiperealis. Bisa dibilang lukisannya sangat mirip dengan aslinya. Bahkan, Mikke menyebut lukisan Haris mengalahkan cetakan digital printing dan fotografi.

Hal itu terlihat pada lukisan-lukisan yang kini dipamerkan di Visma Art Gallery dan Balai Pemuda Surabaya. Objek lukisannya menarik. Dia senang menggambar sosok-sosok bayi serta potret tokoh-tokoh ternama yang dirajah di wajah ataupun bagian tubuh lain. Misalnya, pada lukisan berjudul Three Dog Knight, dia menampilkan sosok bayi dengan tato memenuhi tubuh.

”Tato saya gambarkan sebagai luka dari proses kehidupan dan hal itu dialami rakyat kecil yang saya analogikan dengan bayi,” paparnya.

Dia juga menceritakan hal unik saat penggarapan karya-karya yang berhubungan dengan bayi. Kesenangannya melukis bayi itu tidak terlepas dari kebiasaannya membesuk bayi yang baru lahir di rumah sakit. Dia senang melihat keunikan ekspresi bayi tersebut.

”Bayi-bayi itu unik, aneh, dan lucu. Terlebih karakteristik wajah hingga ekspresinya saat menangis, tersenyum, dan aktivitas alamiah mereka,” jelasnya.

Karena itu, ketika terjun sebagai pelukis, pria kelahiran 3 April 1956 tersebut memakai model bayi asli untuk objek lukisannya. Untuk itu, dia mesti memotretnya terlebih dahulu. Kemudian, dari foto tersebut, dia menggunakan proses digital printing untuk membuat sketsa. Setelah itu, sketsa baru dipoles semirip mungkin dengan aslinya.

Saking seringnya memotret bayi, di kalangan tetangganya di Cibubur, Haris lebih dikenal sebagai tukang foto bayi daripada pelukis realis. Tak heran bila kemudian banyak ibu yang menginginkan anak masing-masing difoto untuk dijadikan model lukisan Haris.

”Ini contohnya,” ujar Haris sambil memperlihatkan galeri ratusan foto bayi di smartphone-nya.

Selain bayi, Haris juga dikenal dengan lukisan  masterpiece Garuda Pancasila yang digambar dengan beragam citra. Bagi Haris, Garuda Pancasila sebagai lambang negara bukanlah hal yang tidak boleh dikreasi. Dia sendiri sering mengimajinasikan garuda sesuai citra yang diinginkannya. Hasilnya, terwujud lukisan Garuda Pancasila dengan bentuk yang berbeda-beda.

Kebebasan itulah yang ingin diwujudkan Haris di setiap karyanya. Dia tidak peduli orang mengklasifikasikannya ke aliran realis, simbolis, ataupun surealis. Begitu pula dengan citra sebagai pelukis bayi. ”Ya, suatu saat nanti saya akan membuat sesuatu yang baru dan lepas dari image bayi,” ucapnya. (*/c11/ari)

Berita Terkait