Sanggar Mendu Juara Pertama dalam FMN IX , Sulit Gaet Anak Muda untuk Lestarikan Hadroh Maulid

Sanggar Mendu Juara Pertama dalam FMN IX , Sulit Gaet Anak Muda untuk Lestarikan Hadroh Maulid

  Selasa, 1 December 2015 10:04
HADROH: Sanggar Mendu Pontianak membawakan Hadroh Maulid dalam FMN IX di JIC Convention Hall, Jakarta. MENDU FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sanggar Mendu Pontianak berhasil meraih prestasi gemilang dalam Festival Maulid Nusantara (FMN) IX di JIC Convention Hall, Masjid Islamic Center, Jakarta. Dengan membawakan kesenian Islam khas Pontianak yaitu Hadroh Maulid, perwakilan Kalbar ini sukses mengungguli delapan daerah lain se-Indonesia. IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

 
 
TERDENGAR nada suara bahagia saat Pontianak Post menghubungi pembimbing dan pelatih Sanggar Mendu Pontianak Muhammad Yusuf, Minggu (29/11). Saat itu, baru saja usai pengumuman kegiatan Festival Maulid Nusantara, sanggarnya menjadi juara pertama dalam kategori Maulid. "Dari hasil kegiatan Alhamdulillah kami berhasil meraih juara pertama," ucapnya.

Ada sembilan provinsi yang memeriahkan kegiatan FMN IX ini. Sembilan provinsi itu berasal dari Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DKI Jakarta selaku tuan rumah. Kegiatan digelar selama tiga hari mulai Jumat (27/11) hingga Senin (30/11). Selain lomba para peserta juga mengikuti serangkaian kegitan seperti, pameran, bazar, dan silaturahmi peradaban.

Dalam penampilan Hadroh yang dibawakan Sanggar Mendu terdiri atas delapan orang, dua vokalis dan enam pemusik. Sebagai vokalis, Ustaz Umar dan Faisal Sarbani. Pemain tar: Agus Salam, Heri, Kamel, Suhaili, Zainal Helmi, dan Putra Tanjung. Sementara keseluruhan tim yang berangkat ada 12 orang. Sebagai koordinatornya Latif Simanjuntak atau Pak Saloy, make up dan busana Nurmila dan Salma M Yusuf. Dokumentasi Hazmi Tamzil serta sebagai ketua tim H Eko. "Penampilan kami pada hari Sabtu," katanya.

Terkait persiapan mengikuti kegiatan ini, Yusuf  mengatakan sangatlah singkat. Latihan dilakukan hanya dalam waktu empat hari saja. "Sebelumnya kami sedang mengikuti festival di Surabaya, saat masih di sana ada informasi dari Disdikbud Kalbar untuk mengikuti kegiatan ini dan kami menyanggupi," terangnya.Selain kategori Maulid, untuk kategori Dai cilik perwakilan Kalbar juga mendapat juara pertama, atas nama Andi Tenribali Hikmah Napacce. Siswa 10 tahun dari SD Islam Al-Azhar 21 Pontianak ini sukses mengungguli peserta lainnya. 

Dengan keberhasilan ini Yusuf merasa sangat bangga, tidak hanya secara pribadi tapi juga secara umum. Sebab dengan prestasi ini bisa dibilang kesenian Kalbar masih mampu berbicara di tingkat nasional. Karena ini merupakan even tahunan, dia berjanji jika tahun mendatang tetap dipilih mewakili Kalbar maka terus akan memberikan yang terbaik. "Terima kasih kepada Disdikbud Kalbar yang telah mempercayakan even ini kepada kami," ujarnya.

Pihak sanggar juga akan terus berupaya agar ada regenerasi untuk melestarikan budaya khas melayu ini. Memang tak dipungkiri, terdapat kesulitan dalam mencari pemain baru khususnya anak-anak muda. "Kami berusaha semaksimal mungkin, sebab jika dibiarkan tidak ada penerus, lama-lama budaya ini bisa hilang," imbuhnya.Untuk bisa menjadi pemain atau vokalis hadroh, dia mengatakan, jenis suara, penampilan hingga postur tubuh harus juga diperhatikan. Mereka yang mau bergabung kebanykan menganggap sulit hingga tidak bertahan lama. "Musiknya tidak sembarangan, harus membawakan kasidah dengan saling bersahutan antarpemain, bahasa yang digunakan pun 75 persen wajib menggunakan bahasa arab," tutupnya. (*)

Berita Terkait