Sang Penjaga Tradisi Yang Terimbas Lesunya Perekonomian, Kurangi Tandu dan Tatung Demi Tampil di CGM

Sang Penjaga Tradisi Yang Terimbas Lesunya Perekonomian, Kurangi Tandu dan Tatung Demi Tampil di CGM

  Selasa, 23 February 2016 08:48
TATUNG KELUARGA : Ajung dan keluarga foto bersama sebelum beratraksi dalam pawai tatung Cap Go Meh 2567 di Singkawang.IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Perayaan Cap Go Meh tahun ini diraskakan cukup berat bagi kelompok-kelompok tatung di Singkawang. Sulitnya perekonomian berdampak pada pendanaan. Namun itu bukan alasan demi menjaga kukuhnya tradisi.    IDIL AQSA AKBARY, Singkawang

Malam ke limabelas Imlek 2567, Minggu (21/2) susana di kediaman Djie Khin Djung alias Ajung cukup ramai. Di depan rumah yang terletak dalam gang, daerah pertokoan Jalan Setia Budi ini dipenuhi belasan tandu-tandu berparang. Puluhan para pemikul tandu tengah berjaga di sekitarnya.Usai seharian menjalani ritual cuci jalan pada hari ke 14 Imlek, salah satu tatung sepuh di Kota Singkawang ini terlihat tengah beristirahat. Malam itu Ajung hanya duduk santai di depan pekong miliknya yang bersebelahan dengan rumah. Istri dan beberapa anaknya juga ikut menemani.

Tidak ada persiapan khusus dilakukan, sebelum esoknya mengikuti pawai dan atraksi tatung pada puncak perayaan Cap Go Meh. Kostum-kostum yang akan digunakan digantung rapi di dua sisi pinggir altar pekong. “Malam ini santai saja, istirahat, sudah dua hari main terus kurang tidur, subuh nanti baru persiapan lagi,” katanya ramah.Sesuai ucapannya, Senin (22/2) subuh, sekitar pukul 05.00, di depan altar, Ajung sudah terlihat bersiap mengenakan pakaian kebesarannya. Dibantu anak lelakinya, satu persatu bagian kostum yang berwarna dominan kuning emas serta perak dikenakan. Awalnya dua pedang diikat bersilang di punggung, seperti kurang leluasa bergerak, pedang dipindah di dua sisi pinggang. “Memang pakai baju perisai ini harus enak dan pas jadi agak lama,” ujarnya.

Tahun ini adalah tahun ke-56 dia menjadi tatung untuk memeriahkan Cap Go Meh di Singkawang. Paruh baya 62 tahun ini kembali akan dirasuki dewa yang mengikutinya sejak usianya tujuh tahun, dewa tersebut bernama Chau Liu Nyian Shai.

Sekitar pukul 05.45, usai dia berpakaian lengkap, tatung-tatung lain di kelompoknya juga mulai mengenakan kostum.Sampai sekitar pukul  06.50 barulah semuanya siap berangkat. Tahun ini kelompok pimpinan Ajung hanya menurunkan sembilan tatung termasuk dirinya. Enam orang, anaknya sendiri ditambah dua lagi dari anggota kelompok.

Mereka adalah, Tjong Pin Pin dengan nama dewa Pet Ngok Nyian Sai, Henlay Frans Wong dengan nama dewa Nan Ngok Nyian Sai, Paulus Ani Cian Wong dirasuki dewa Cung Ngok Nyian Sai, Steven Wong nama dewanya Si Ngok Nyian Sai, Tjung Ket Chung nama dewanya Datok Bujang Kulor, Anthony dewanya bernama Tung Ngok Nyian Xai, Bong Rudi Sugianto yang dirasuki dewa bernama Hian Tian Song Ti dan terakhir anak perempuannya Elya Mutan dirasuki dewa Cetya Tri Dharma Tuile Soi Han Ji.

Menurutnya tahun ini ada penurunan drastis jumlah tatung serta tandu parang yang diturunkan. Semampunya hanya turun enam tandu itu pun dirasa cukup berat. Berkurang setengah jika dibanding tahun lalu yaitu 12 tandu dan 19 tatung. “Dananya kurang, mau mengeluarkan banyak tandu tidak murah, gaji  pemikul ditambah biaya makan minum lumayan besar,” terangnya.

Ajung merincikan untuk enam bangku saja dia harus melibatkan 40 lebih orang. Karena satu tandu harus diangkat antara lima sampai delapan orang. Untuk satu tandu minimal dia harus menyiapkan dana Rp6 juta. Jika ada enam artinya Rp36 juta. “Belum ongkos pembawa bendera, pemusik dan lain-lain,” keluhnya.

Untuk menutupi ongkos yang tidak murah, dia harus mengeluarkan biaya sendiri dan berupaya mencari sponsor sebanyak mungkin. Perekonomian yang sulit berimbas pada pendanaan dan banyaknya penyumbang. Tahun ini panitia hanya mampu memberikan santunan sebesar Rp1 juta untuk satu tatung. “Saya yakin kelompok lain juga sama sulitnya,” tuturnya.

Sebenarnya panitia memang memberi buku paramita untuk meminta sumbangan kemudian mencari sponsor atau donatur. Hanya saja, ketika satu hari dicoba memutarkan buku paramita sumbangan yang terkumpul kurang membuahkan hasil. “Hanya berapa puluh ribu saja dapatnya malah jadi malu akhirnya tidak digunakan lagi buku-buku itu,” akunya.

Alasan kuat yang membuat Ajung bertahan dan berkeinginan menurunkan tatung sebanyak mungkin adalah menjaga tradisi. Sebab menurutnya ritual tatung sudah menjadi adat tradisi orang Tionghoa. Terutama untuk kebaikan umat manusia melalui tolak bala dan mengusir roh-roh jahat yang dimaknai dari perayaan Cap Go Meh ini. “Selain itu biar bagaimanapun ini kami lakuakan agar di Kota Singkawang lebih meriah,” imbuhnya.

Bahkan Ajung mengaku sempat ditawarkan mengikuti atraksi tatung di Jakarta dengan bayaran cukup besar, namun dia tolak mentah-mentah. “Bagaimana bisa saya terima, kampung di sini, harta benda di sini, jika merayakan di kota lain sama saja jual diri, ini juga demi memeriahkan kota jangan sampai Singkawang sepi,” ujarnya.Hal serupa juga diutarakan Lie Min Jun dari pekong di Jalan P Natuna, akibat lesunya perekonomian tahun ini kelompoknya hanya menurunkan enam tandu dan tujuh orang tatung. Padahal tahun sebelumnya dia mampu menurunkan 10 tandu dan 10 tatung. “Dananya tidak cukup, untuk angkat tandu satu orang dibayar Rp300 ribu, satu tandu ada enam orang tinggal dikalikan saja,” katanya.

Tatung dengan nama dewa Fab Lin Sian Cie ini juga mengeluhkan santunan panitia yang dirasa kurang bahkan semakin kecil. “Padahal tahun lalu lebih besar sekitar Rp3 juta,” ujarnya. Sementara para donatur yang menyumbang juga sepi. Bahkan di beberapa pekong terdekat tidak mengeluarkan tatung sama sekali tahun ini.

Dana yang kurang harus pandai-pandai ditutupi. Demi menjaga tradisi agar mendapatkan manfaat secara tidak langsung seperti kesehatan, kemudahan pekerjaan dan menjauhkan dari segala musibah di tahun yang baru, dia merasa wajib ikut serta dalam Cap Go Meh. Pria yang kini tinggal dan memiliki usaha di Jakarta ini pun harus pulang kampung untuk merayakannya. “Tergantung dari dewa yang mengikuti kita, jika tahun ini disuruh turun maka harus turun,” pungkasnya.

Kisah Para Pemikul Tandu

Di tengah kesulitan finansial yang dirasakan para pemain tatung, ternyata masih banyak pula orang-orang yang memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilan. Mereka adalah para pemikul tandu dan pembawa bendera untuk arak-arakan.Salah satunya, Tono (37 tahun) dia mengaku telah tiga tahun berturut-turut ikut memikul tandu. Ayah dua anak ini jauh-jauh datang dari Kabupaten Bengkayang demi mendapat penghasilan tambahan. “Lumayan juga dari pada noreh getah sehari hanya dapat Rp20 ribu mau makan apa,” katanya.

Semenjak harga karet anjlok Tono mulai bekerja serabutan. Kadang juga menjadi kuli. Meski hanya setahun sekali, momen menjadi pemikul tandu tidak akan disia-siakannya. “Apa saja yang disuruh orang kerja saya kerjakan,” ucapnya.

Hal senada juga diutarakan Hendrianus Noey (51 tahun), pria yang sehari-hari bertani ini sudah tiga tahun ikut memikul tandu tatung. Bahkan menurutnya dari tiga kampung di daerahnya, di Kabupaten Bengkayang ada sekitar 40 orang melakukan hal yang sama. Saat Cap Go Meh tiba, pekerjaan di desa sementara mereka tinggalkan. Dia sendiri harus rela datang menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh tiga jam. “Kalau saya sekalian mencari pengalaman juga terus bisa dapat banyak kawan,” ujar kakek dua cucu ini.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga banyak yang andil. Salah satunya Ivan, pelajar kelas satu SMP ini bersama teman-temanya rela pergi sejak subuh untuk ikut menjadi pemikul bendera. “Lumayan hasilnya untuk uang jajan,” tandasnya. **

Berita Terkait