Sang Pelayan

Sang Pelayan

  Senin, 16 May 2016 12:29   688

SETIAP orang tentu ingin menjadi pemimpin, karena menjadi pemimpin adalah pekerjaan yang mulia, namun dibalik kemuliaan itu memiliki tanggungjawab yang sangat besar, karena kelak pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan AllahSWT. Tidak jarang saat jadi pemimpin membuat orang semakin tidak sombong atau justru menjadi sombong atau tetap seperti saat tidak jadi pemimpin. Inilah sebuah ‘resiko’ yang harus dimiliki pemimpin, baik itu pemimpin umat dan bangsa maupun pemimpin bagi dirinya sendri yaitu menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Terkait dengan judul diatas, bahwa judul ini bukanlah untuk ‘menandingi’ film Sang Pencerah’ atau ada film atau judul-judul tulisan yang lain serta serupa, tetapi hanya sebatas berbagi pengalaman. Berkaitan dengan judul diatas saya teringat dengan khutbah suatu jumat,  seorang khatib pernah berkhutbah yang kurang lebih begini bunyinya; “Dialog Malaikat Jibril a.s. dengan Rasulullah Muhammad SAW; Jibril bertanya: "Ya Muhammad, mana lebih mulia engkau dengan aku?". Rasulullah SAW menjawab: "Mulia aku wahai Jibril, sebab engkau diutus Allah SWT untuk menyampaikan wahyu kepadaku". Jibril bertanya lagi: " Mana lebih mulia engkau dengan arsyi nya Allah SWT ya Muhammad?". Jawab Rasulullah SWA: "Mulia aku wahai Jibril, sebab, ketika aku dimi'rajkan Allah SWT di sidratul muntaha, aku berada di atas arsyi". Jibril kembali bertanya:" Mana mulia antara engkau dengan agama (Islam) ya Muhammad?". Jawab Rasulullah: "Jelas lebih mulia agama (Islam) wahai Jibril, sebab aku diutus untuk menyampaikan agama (Islam)."

Dari percakapan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW yang mulia akhlaknya dan penghulu bagi para nabi-nabi mau mengatakan lebih mulia agamanya dibanding dirinya serta penulis tidak bermaksud mengatakan Nabi tidak mulia, tetapi yang ingin kita diskusikan adalah bagaimana sikap tawadhu’ Nabi dan ketidak sombonganya yang patut kita tiru. Nabi Muhammad SAW,  hadir sebagai orang yang menyampaikan kabar gembira, menjadi tempat bertanya dan bersandarnya para sahabat-sahabat dikala itu dan sampai sekarangpun perkataaannya masih relevan dengan zaman. Saat sahabat dalam keadaan susah nabi Muhammad tetap ada dan tetap memberikan yang terbaik bagi sahabat-sahabatnya kala itu, bahkan dikisahkan suatu ketika seorang datang menemui Nabi Saw. Dengan amat sedih. Nabi bertanya kepadanya, ‘mengapa engkau sedih?’ dia menjawab, ‘ada sesuatu yang kupikirkan. Kami melihat wajahmu dan duduk bersamamu setiap pagi dan petang, tetapi di Hari kiamat esok, engkau akan bersama para Nabi sehingga kami tidak akan lagi bersamamu.’ Mendengar keluhan itu, Nabi terdiam. Tak lama setelah itu, malaikat Jibril datang dan membawa firman Allah SWT, surah An-nisa ayat 69-70 yang artinya “. dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.”. untuk lebih jelas silahan baca tafsir Al- Misbah karangan M.Quraish Shibah jilid 2 halaman 606.  Memang ayat ini untuk para pengikut nabi Muhammad SAW, yang setia serta selalu mencintainya, tetapi jika kita lihat dari asbabun nuzulnya yaitu bagaimana Nabi menghibur dan memberikan kabar gembira bagi para umatnya yang taat padanya yang kala itu sedang sedih. Sikap inilah yang penting diikuti oleh para pemimpin kita, yang berusaha memberi berita gembira dan menyenangkan hati bawahannya, bukan membuat bawahannya takut dan tidak mau untuk menceritakan kesedihannya.

Kita yang hari hanya manusia biasa atau diberikan jabatan tentu harus lebih lagi dalam memberikan pelayanan dan harus berusaha menjadi ‘sang pelayan’ yang baik bagi orang lain yaitu dengan cara melayani sepenuh hati. Apapun profesi kita sebenarnya tidak mengubah kita untuk tidak menjadi ‘sang pelayan’. Memberikan pelayanan bukan berarti menuruti perintah tanpa prosedur dan aturan, menuruti segala keinginan, dan lainnya, namun sesungguhnya ingin membiasakan diri agar bermanfaat bagi sesama mahluk Allah SWT, terutama sesama manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW. di utus ke muka bumi untuk menyebarkan serta mengajak manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari zaman biadab menuju ke zaman yang penuh peradaban, maka wajar jika Rasul dinobatkan orang nomor 1 tercerdas atau terhebat di dunia.

Seorang pemimpin sebenarnya ia adalah pelayan bagi yang dipimpinnya, bukan hanya sibuk meminta dilayani. Apalagi memang kita yang tugasnys melayani, tentu harus ada perlakuan lebih, sebagai tanda kita melayani sepenuh hati, sebagai contoh di Indonesia ini;  Pak RT tugasnya melayani aspirasi warganya dan kemudian menyampaikan ke Lurah, Lurah bertugas Menyampaikan pesan dari RT ke Camat, Camat bertugas menyampaikan pesan dari Lurah ke Bupati, Bupati menyampaikan pesan itu ke Gubernur. Gubernur menyampaikan pesan itu ke DPR atau Menteri kemudian diteruskan ke Presiden, kemudian Presiden memerintahkan lagi ke bawahannya agar melaksanakan apa yang telah diinginkan rakyat, secara otomatis pesan itu akan kembali ke Rakyatnya dan rakyatnya akan mendapatkan apa yang ia harapkan. Lalu siapa pemimpin sesungguhnya? Kemudian siapa pula pelayan sesungguhnya,? Pemimpin sesungguhnya adalah diri kita sendiri, dan pelayan sesungguhnya adalah diri kita sendiri juga, jadi berlakukanlah diri kita sebagai seorang pemimpin sama seperti anda  menjadi seorang pelayan. Istilah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat kita maknai bahwa semua orang adalah pelayan. Jadi jabatan dan kedudukan bukan ‘ajang’ untuk memperoleh kekuasaan mutlak, melainkan sebagai sarana menampung aspirasi dan menjalankan amanah yang diberikan.

Oleh karena itu, saat kita menjadi ‘pemimpin’ jangan lupa bahwa kita adalah seorang pelayan. Artinya bahwa, apapun profesi kita, baik sebagai pejabat maupun bawahan jangan sampai  kita lupa akan tugas untuk memberikan pelayanan yang baik. Baik itu dirumah maupun di tempat anda bekerja. Di rumah kita menjadi pemimpin bagi keluarga kita yang kelak setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjwabannya. Kita bekerja juga karena memang ada tanggungjawab yang diberikan yaitu memberikan pelayanan yang sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) dan kita juga akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan pimpinan kita. oleh karena itu, saat kita bekerja jangan justru sebaliknya kita merasa enggan atau cuek saat orang yang harus kita layani meminta pelayanan itu kepada kita. kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bekerja, artinya ada sebuah kepercayaan yang tinggi untuk kita. karena banyak teman, saudara bahkan tetangga kita yang ingin bekerja tetapi tidak diberikan pekerjaan.

Kita tidak boleh memandang hina dan rendah pekerjaan orang lain yang ia lakukan dengan halal (baca: sesuai norma Agama, Hukum, Kesopanan dan Kesusilaan), jika pekerjaannya sudah melanggar norma-norma barulah kita wajib menegur atau mengingatkannya. Pernah kita membayangkan jika semua orang sama jabatan dan pangkatnya? Apa yang akan terjadi? Semua orang tidak akan bisa bekerja karena ia merasa dirinya bos dan tentu roda kehidupan tidak berputar dan berjalan dengan sempurna, perbedaan pekerjaan dan jabatan itulah yang sesungguhnya membuat kita saling memerlukan dan membutuhkan orang lain dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbai serta tentu bisa yang memperbaiki tingkat hablum minannas yang dapat menghilangkan hidup ‘nafsi-nafsi’.

Sebagai hamba Allah SWT atau Hamba Tuhan (dalam islam dikenal dengan istilah ‘abdillah=hamba Allah) kita tentu tahu akan kewajiban dan tanggung jawab kita karena kita telah mengambil hak-hak kita, maka bentuk penghambaan kita yaitu harus sesuai keyakinan atau agama yang dianut yang dilakukan secara ‘vertikal’. Sebagai warga negara maka yang kita lakukan adalah pengabdian ‘horizontal’ yang bisa kita sebut abdi negara atau ‘hamba negara’. Abdi negara bertugas melayani masyarakat Indonesia dan secara otomatis menggambarkan bahwa jika kita mengaku warga negara Indonesia maka kita punya kewajiban menjadi ‘abdi negara’. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, tentu kita memiliki 2 abdi, yaitu abdi Pada Tuhan yang Maha Esa dan Abdi negara, jika kita tidak punyai 2 abdi tadi tentu kita akan mendapatkan masalah. Karena jika tidak mempercayai adanya Tuhan kita disebut orang atheisme. Jika kita tidak memiliki tangggung jawab sebagai abdi negara, tentu kita bukan warga negara dan tidak akan mendpatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), jika KTP tidak punya tentu akan menimbulkan persoalan yang rumit lagi. Masih adakah alasan kita untuk tidak menjadi pelayan setelah tahu bahwa kita ada di tempat bekerja untuk melayani mereka sesuai SOP?

Jika kita semuanya sudah memahami bahwa kita adalah pelayan. Maka akan banyak lagi bermunculan pelayan yang sepenuh hati, yang darinya akan muncul sikap saling menghargai dan menghormati. Karena berbeda usia akan akan berbeda pula untuk meminta perlayana kepada kita. Kita tidak perlu mengatakan untuk dihormati, selama sikap dan perbuatan yang kita lakukan dengan sepenuh hati maka orang akan dengan sendirinya akan menghormati. Karena sesuatu yang keluar dari hari yang tulus akan berdampak baik pada sekitarnya. Hati itu lembut tetapi ia bisa lebih keras dari batu jika tidak ‘dijanakkan’, hati yang tulus akan memunculkan sikap dan pelayan yang tulus juga. Benar apa yang tuliskan dalam potongan bait lagi ‘jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini’. Dengan pemahaman penting dan dampak yang ditimbulkan dari memberikan pelayanan sepenuh hati, tentu akan dapat membuat kita untuk terus instrospeksi diri dan terus belajar agar menjadi pelayan yang baik dengan cara menjaga hati ini agar tetap suci. Jika hati ini baik insya Allah perbuatan yang dikeluarkan akan baik pulak dan tidak akan menyakitkan hati orang lain. Karena hati tidak bisa mengeluarkan perbuatan-perbuatan mulia tetapi ia juga dapat menangkal ‘racun’ yang masuk.

            Sebagai penutup untuk refleksi peristiwa Isra’ dan mi’raj yang diperingati oleh umat islam, mari kita banyak belajar dari Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW, yang terkenal kemuliaannya dikisahkan saat ingin menghadap Allah SWT,untuk menerima perintah Shalat 5 waktu dalam peristiwa isro’ mi’raj hatinya juga dibersihkan oleh malaikat terlebih dahulu takutnya masih ada penyakit-penyakit hati yang menempel dengannya. Apalagi kita yang sering mengotori hati ini ? sudah tentu harus sering membersihkan dan menjaganya dengan baik agar ia tidak kotor sehingga tercermin dalam perbuatan kita yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua bisa menjadi ‘ Sang Pelayan” yang setulus hati, bagaimana? waallahu ‘alam bisshawab.**

heriansyah

bekerja di perpustakaan IAIN Pontianak, menulis sesuatu yang menarik untuk didiskusikan