Sang Mama Lembur Lagi

Sang Mama Lembur Lagi

  Rabu, 10 Agustus 2016 10:36

Berita Terkait

Kerjaan menumpuk dan dikejar deadline memaksa seseorang harus lembur di kantor. Jika hanya sesekali, tentu tak menjadi masalah. Tetapi jika terlalu sering, bisa menjadi persoalan, terutama bagi perempuan yang sudah memiliki anak dan suami.

 
Oleh : Marsita Riandini

Beberapa harus lembur di kantor pernah dialami Yunni. Karyawan perusahaan swasta di Kota Pontianak ini terpaksa pulang ke rumah pukul 20.00.

“Anak saya bolak balik telepon, menanyakan kapan pulang. Saya jawab, tunggu pekerjaan selesai,” ungkap Yunni.

Pada hari pertama lembur, sang anak yang masih balita bisa menerima jawaban Yunni. Tetapi hari berikutnya, anaknya pun menangis ditelepon. Persoalan lain muncul ketika suaminya juga mulai protes karena selama seminggu harus lembur terus.

“Pernah saat itu jam sembilan malam dan pekerjaan saya belum selesai juga. Lalu sekitar setengah 10 malam suami telepon dan bertanya apakah saya masih ingat jalan pulang,” kata Yunni.

Saat Yunni pulang, ternyata anaknya belum tidur. Sang anak masih menunggu dirinya. “Sebab biasanya sebelum tidur anak selalu bercerita tentang kegiatan dia di sekolah kepada saya. Lalu, setelah itu, saya membacakan majalah atau dongeng, baru dia tidur,” jelas Yunni.

Bagi para istri dan ibu, harus lembur di kantor menjadi persoalan. Lantas, apa yang bisa dilakukan para ibu saat terpaksa harus lembur? Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Cht., Psikolog mengatakan saat ibu memilih bekerja, umumnya akan ada yang terlewatkan dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Seperti menyiapkan menu sarapan, serta kurangnya perhatian dan intensitas pertemuan. Apalagi ibu sering lembur, anak semakin kurang kasih sayang dan perhatian dari ibunya.

Maria menjelaskan setiap anak memiliki kebutuhan afeksi yakni cinta dan kasih sayang, terutama dari orang tuanya.  Cinta dan kasih sayang ditunjukkan dengan perhatian, kepedulian, serta komunikasi antara orang tua dan anak.

Jika orang tua hanya memenuhi kebutuhan misalnya dengan mainan, barang, dan uang, kebutuhan bermain anak terpenuhi tetapi tidak mampu menggantikan kebutuhan afeksi yang seharusnya didapat oleh anak.

“Anak butuh perhatian, ditanya bagaimana aktivitasnya hari ini. Apa yang dia rasakan, baik saat berada di sekolah, maupun saat dirumah bersama pengasuhnya,” ungkap Psikolog Klinis di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini.

Seringkali anak merasa senang menantikan kehadiran ibunya pulang dari bekerja. Tentu akan ada kekecewaan jika ternyata sang ibu harus lembur bekerja, dan pulang ketika dia sudah tidur. Kalau sesekali saja, tentu tak jadi soal. Tetapi akan menjadi masalah jika itu kerap dilakukan.

“Ibu harus bisa memanajemen waktu dengan baik. Ada orang yang lembur karena bekerjanya lambat, kurang fokus, sehingga harus menambah waktu. Tetapi ada pula yang memang beban pekerjaannya yang banyak, sehingga harus lembur,” kata Maria.

Ia menyarankan agar dilakukan evaluasi diri dan pekerjaan, jika terlalu sering lembur. Jika harus terpaksa lembur, berikan penjelasan kepada anak mengenai alasan harus pulang terlambat. Cara penyampaian juga disesuaikan dengan usia anak. Jika masih kecil, bisa dengan menjelaskan ibu lembur agar pekerjaan cepat selesai, sehingga bisa cepat bermain bersamanya.

Untuk anak yang sudah mengerti apa itu lembur, sebaikknya mengatakan apa adanya. Jangan lupa mintalah maaf kepada anak karena tak bisa menemaninya.

“Sebaiknya menjelaskannya dengan komunikasi langsung. Dengan begitu akan tahu bagaimana reaksi anak saat mengetahui apakah dia senang atau tidak, jika ibunya lembur. Hal ini bisa dilakukan sehari sebelum lembur,” jelas Maria.

Jika anak terlihat tidak senang Anda lembur bekerja, cobalah mencari tahu alasan dibalik sikapnya itu. Ini penting untuk menjaga hubungan antara ibu dan anak. Bukan tidak mungkin dibalik ketidaksukaan anak ada hal penting lain yang ditutupinya. “Jika anak tidak senang, pasti ada sesuatu yang dirasakannya. Mungkin selama ibu lembur, dia tinggal dengan pengasuhnya. Dia bisa saja mendapatkan perlakukan negatif. Bisa jadi anak juga ingin bercerita tentang apa yang dialaminya hari itu, apakah itu bahagia ataupun sedih,” terangnya.

Tetaplah berkomunikasi saat lembur. Meskipun tidak bisa menggantikan kehadiran ibu secara tatap muka, tetapi ini bisa menjadi sarana penambah komunikasi antara ibu dan anak.

“Ingat, meskipun sekarang zamannya sudah canggih, ada via telepon dan lainnya, tetap saja ini bukan untuk menggantikan kontak langsung ibu dan anak, melainkan hanya menambah kuantitas komunikasi,” tutur Maria.

Ibu boleh saja membuat jadwal rutin untuk menggantikan waktu yang telah digunakan untuk lembur. Bisa dengan jalan-jalan atau bermain bersama. “Tapi jika Anda tidak pasti, sebaiknya jangan dijanjikan, sebab anak akan mengalami kekecewaan. Ibu harus konsisten terhadap ucapannya,” pungkasnya. **

---------------------------

Buat Kesepakatan dengan Suami

Saat memutuskan bekerja, seorang ibu rumah tangga tentunya sudah mempertimbangkan segala hal dengan baik. Ia juga seharusnya sudah membuat kesepakatan dengan sang suami.

Tak hanya anak, suami juga akan merasa terganggu jika istrinya sering lembur bekerja. “Pertimbangkan jenis pekerjaan yang dipilih, waktu bekerja, kemampuan diri, lokasi, termasuk pula apakah sering mendapat tugas ke luar kota atau tidak,” ungkap Psikolog Maria Nofaola.

Maria menyarankan agar bekerja sesuai porsinya. Jika tidak perlu lembur, jangan menunda-nunda pekerjaan. “Lakukan pekerjaan dengan serius agar pekerjaan cepat selesai. Kalau lembur terlalu sering, ini harus jadi evaluasi. Apakah pola kerja yang salah, atau beban kerja yang over. Bisa saja, pekerjaan yang seharusnya untuk dua orang, dibebankan hanya kepada satu orang,” jelas Maria.

Meskipun sudah sepakat dengan suami, tetap saja Anda harus menghormati dia sebagai kepala rumah tangga. Bukan hanya anak saja yang bisa komplain ibunya  lembur, ayahnya pun mungkin tidak senang.

Berbeda halnya jika sang suami tidak mempermasalahkan dan mau mengambil alih peran istri selama lembur. Istri harus tanggap dan peka dalam melihat situasi dan ekspresi suaminya. Sebab ini akan berpengaruh pada banyak hal terutama dalam keharmonisan rumah tangga.

“Jika terlalu sering lembur, suami mulai komplain, sebaiknya cepat cari solusinya. Sebab ini bisa saja berpengaruh pada hubungan seksual suami istri, karena istri sudah kelelahan. Sementara suami malas-malas dengan seringnya istri lembur,” tutur dia.

Jika memiliki anak yang masih bayi, ini juga harus menjadi pertimbangan utama. Apalagi jika anak masih mengonsumsi ASI eksklusif. “Kepada siapa anak diasuh, bagaimana perilaku si pengasuh. Sebab bagaimanapun anak akan mengikuti didikan pengasuhnya. Jika pengasuhnya baik, maka anak akan meniru perilaku yang baik, begitu juga sebaliknya,” tutur dia. (mrd)

 

Berita Terkait