Sandera Sakit, Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp70 Juta

Sandera Sakit, Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp70 Juta

  Senin, 1 Agustus 2016 15:54

SALAH seorang keluarga ABK TB Charles yang disandera Abu Sayyaf, Muhammad Yahya Tiro mengaku tak mengetahui kondisi adiknya, Ismail Tiro. 

Yahya mengungkapkan, kabar soal sakitnya Mabrur Dahri membikin dirinya semakin khawatir.  "Istri dan anaknya sekarang di Maros. Mereka juga sudah dengar kabar kalau ada (sandera) yang sakit, makin kepikiran jadinya," ujar dia. 

Apalagi, lanjut Yahya, dia mendengar kabar bahwa kelompok militan tersebut mengalami krisis persediaan makanan lantaran adanya operasi pengepungan dari aparat setempat.  "Wajar kalau banyak yang sakit," ketus dia. 

Keluarga mengaku kecewa dengan pemerintah yang tidak menggunakan pola lama untuk membebaskan sandera secepatnya.  Pola tersebut dianggap lebih gampang dan aman bagi para sandera. Mereka juga bisa secepatnya kembali serta tidak lama disekap dan berada dalam bayang-bayang kematian. 

"Memang agak kecewa dengan pemerintah. Kemarin waktu pembebasan banyak yang berjasa bicara di media. Tapi, ini saya pikir pola lama lebih aman karena penculiknya sama. Kalau begini, seakan-akan pemerintah lepas tangan. Kami saja pihak keluarga tidak ada yang dihubungi dari pemerintah. Kami tahunya dari media," ungkap Ismail.

Seperti diketahui, nasib tujuh anak buah kapal (ABK) TB Charles yang disandera kelompok radikal Abu Sayyaf tak kunjung mendapat titik terang. 

Satu dari mereka, Mabrur Dahri (27) bahkan dalam kondisi yang memprihatinkan. Dia mengalami infeksi di bagian kakinya.  

Bibi Mabrur, Nirwana, mengatakan bahwa informasi mengenai sakitnya Mabrur diperoleh dari istri sandera lainnya, Ismail, yang juga kapten TB Charles. 

Penyandera kabarnya meminta tebusan 250 ribu peso (sekitar Rp 69,4 juta) kepada perusahaan khusus untuk Mabrur.  Jika hal tersebut tidak bisa dipenuhi, penyandera mengancam bakal menghabisi mereka. Meski demikian, perusahaan tidak pernah menyampaikan hal itu kepada keluarga. 

"Tapi, perusahaan tidak pernah menyampaikan soal ini. Jumat lalu keluarga diajak ke Samarinda oleh perusahaan untuk ikut pertemuan. Para keluarga juga berencana demo ke Jakarta untuk mendesak pemerintah pusat bertindak," kata Nirwana. 

Angka tebusan 250 ribu peso tersebut terbilang kecil. Sebab, sebelumnya total tebusan untuk seluruh sandera adalah 250 juta peso (sekitar Rp 69 miliar). 

Angka tebusan khusus Mabrur itu kecil karena kondisinya sakit. Penyandera bahkan menandu Mabrur selama berpindah-pindah lokasi.(ris/ksa/asw/shd/mam/JPG)