Sampel: ‘Random’ vs ‘Intact group’

Sampel: ‘Random’ vs ‘Intact group’

Minggu, 21 Agustus 2016 10:20   1

DALAM minggu ini ada seorang dosen bidang pendidikan menghubungi via HP menanyakan tentang membandingkan antara dua kelompok dalam suatu populasi berdasarkan dua kelompok yang dibuat dari suatu sampel. Konkritnya, ia memiliki 57 siswa yang menjadi penelitiannya. Ke-57 orang ini dipilih secara random (cabut undi) dari sebuah populasi.  Salah satu analisis yang akan dilakukan adalah membandingkan hasil belajar antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Apakah harus sama jumlah siswa laki-laki dan siswa perempuan? Mengingat besar sampel 57 orang tentu tidak mungkin dilakukan. Atau, sesuai dengan jumlah yang ada pada sampel?

Terima kasih disampaikan kepada kolega dosen ini atas pengiriman topik ini-memilih anggota sampel secara random (cabut undi). Walaupun dalam bidang statistika, ‘randomisasi’ bukan suatu konsep baru tetapi pembicaraannya masih hangat hingga kini. Misalnya, Minsoo Kang, dari Universitas Middle Tennessee dan  Brian G Ragan, dari universitas Northern Iowa, - AS- serta Jae-Hyeon Park, Universitas Korea National Sport, Seoul,- Korea- (2015) membahas sejumlah isu hasil penelitian ditinjau dari proses ‘randimisasi’ dalam memilih anggota sampel. 

Randomisasi merupakan proses memilik anggota sampel yang akan berpartisipasi dalam suatu penelitian. Ada dua istilah yang dibetuk dari kata ‘random’, yaitu: ‘random selection’ dan ‘random assigment’ (William M.K. Trochim, 2006). Random selection adalah bagaimana cara memilih orang yang akan berpartisipasi sebagai anggota sampel dalam suatu penelitian. Random assignment adalah bagaimana cara memilah partisipan tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Misalnya, kelompok laki-laki dan kelompok perempuan, antara kelompok percobaan dan kelompok pembanding, dsb. 

Konsep ‘randomisasi’ digagas pertama kali oleh Sir Ronald Aylmer Fisher, (17 Februari 1890 – 29 Juli 1962), dalam bukunya yang berjudul ‘The Arrangement of Field Experiments’ ( J Ministry Ag. 1926;33:503–513). Ia mengenalkan proses randomisasi untuk penelitian bidang pertanian. Pada tahun 1919, sebagai matematikawan muda ia diundang Sir John Russell, Direktur Lembaga Penelitian eperimental Rothamsted (Inggris), untuk bergabung di lembaganya. Russell (1966) menyatakan bahwa R.A. Fisher sangat pintar. Dalam waktu tidak begitu lama Fisher telah menghasilkan konsep-konsep baru di bidang statistika. Di antaranya adalah: table ANOVA (1923),   distribusi Eksak Fisher (1924), Latin Square (1925) dan faktorial eksperimen yang di dalamnya tercakup randomisasi (1926).

Disebutkan, rndomisasi baik dalam memilih partisipan maupun dalam memilahnya ke dalam sejumlah kelompok sampel mememiliki pengaruh yang signifikan. W.R. Shadish dan K. Ragsdale dari Universitas (1996) memeta-analisis 100 penelitian percobaan di bidang psikoterapi yang terdiri atas: 64 penelitian yang menggunakan ‘random assignment’ dan 36 penelitian yang tidak menggunakan randomisasi dalam memilih antara kelompok percobaan dan kelompok pembanding. Mereka menemukan bahwa hasil test akhir penelitian yang yang menggunakan ‘random assignment’ lebih tinggi dibandingkan penelitian yang tidak menggunakannya. Di samping itu, variannya juga lebih kecil. 

Selain untuk meningkatkan hasil, randomisasi juga berguna untuk menempatkan samplenya sungguh mewakili populasi. Karena, setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama boleh berpartisipasi atau tidak dalam suatu penelitian yang dihadapinya. Karena itu, jika terjadi perbedaan-perbedaan pada sampel bukan sebagai ‘masalah’. Perbedaan-perbedaan itu dianggap sebagai peristiwa yang alami. Karena itu, tidak mengahsilkan konsekuensi apapun. 

Kembali pada pertanyaan awal, apakah jumlah kelompok laki-laki dan kelompok perempuan yang telah dipilih secara random sebagai partisipan atau dipilah dalam kelompok yang relevan harus sama? Jawabannya: “Tidak perlu sama”. 

Inilah jawaban singkat untuk kolega yang menghubungi saya via HP. Semoga bermanfaat!**

 

Leo Sutrisno