Sampaikan Pesan Kebaikan Melalui Tulisan

Sampaikan Pesan Kebaikan Melalui Tulisan

  Senin, 28 November 2016 18:52

Berita Terkait

KETAPANG - "Banyak yang bisa berdakwah dengan lisan, tapi tidak dengan tulisan," kata Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama Ketapang, Drs Satuki Huddin, M.Si pada pelatihan jurnalistik di Hotel Aston, kemarin (28/11).

Atas dasar inilah, Lakpesdam PCNU Ketapang bekerjasama dengan Pontianak Post mengadakan pelatihan jurnalistik kepada dai dan kader penggerak NU di Ketapang dan Kayong Utara. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini mengangkat tema "Strategi dakwah melalui media massa".

Satuki mengatakan, saat ini sangat banyak pendai yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui lisan. Namun sangat sedikit yang melalui tulisan. Menurutnya, berdakwah melalui lisan baik, namun lebih baik lagi jika bisa berdakwah melalui tulisan. "Dengan tulisan, ulama dan dakwahnya dikenang," jelasnya.

Akan tetapi, saat ini untuk menemukan pendai yang menguasi dua metode dakwah tersebut cukup sulit. "Selama ini kelemahan dakwah kita hanya dakwah lisan, bukan tulisan. Sehingga tidak selamanya dakwah berlanjut, setelah orang yang berdakwah tidak ada, maka dakwahnya terhenti," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong pendai di Ketapang untuk melangkah ke dakwah dengan tulisan. Tidak hanya pandai menulis, namun isi tulisan juga berbobot dan tidak sesat menyesatkan. "Kita akan mendorong agar pendai berpikir kritis namun tetap berpijak kepada idealisme dan profesional serta proposional," ujarnya.

Karena menurutnya, saat ini banyak sekali tulisan yang disebarkan di media sosial yang tidak benar, bahkan membuat keadaan semakin keruh. "Harapan kami, dai dan kader penggerak NU bisa meregenerasi ulama-ulama terdahulu kita yang menyampaikan dakwahnya melalui tulisan dan lisan," harapnya.

Ketua Tahfiziyah PC NU Ketapang, Jema'i Ma'mur, mengatakan, menyambut baik kegiatan ini. Ia pun mengakui jika dakwah dengan tulisan masih sedikit. Banyak tulisan yang bertebaran, namun bukan mempersatukan, melainkan memecah belah.

Menurutnya, dakwah melalui tulisan lebih penting karena berjangka panjang. "Kita mengenal Buya Hamka. Ngomongnya enak didengar, tulisannya nyaman dibaca. Jadi, antara pembicaraan dan tulisan seimbang. Ini yang sekarang menjadi kelemahan generasi muda kita," katanya.

Ia juga berharap, dakwah dengan tulisan juga harus bertujuan baik. Bukan hal yang menyebar keburukan dan kebencian. "Hal-hal yang berbau provokatif, itu tidak boleh disampaikan. Kita harus menjadi penyejuk dalam kegaduhan. Jadi pemadam api di setiap kebakaran," paparnya.

Pemateri dalam kegiatan ini, Salman Busrah, mengatakan, dalam dunia jurnalistik, jurnalis harus bisa memilah informasi. Tidak semua informasi bisa dijadikan berita. Terlebih informasi yang hanya akan membuat konflik. "Media itu harus netral, tidak boleh memihak. Namun, ada berita yang tidak serta merta disampaikan ke publik," kata mantan Pimpinan Redaksi Pontianak Post ini.

"Salah satunya berita tentang konflik. Media, harus menjadi penengah. Menjadi pihak yang meredakan konflik, bukan sebaliknya," tambah pria yang saat ini menjabat Wakil Direktur Pontianak Post ini. (afi)

Berita Terkait