Sampah Tercecer Jadi Harta Berharga

Sampah Tercecer Jadi Harta Berharga

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Kepedulian lingkungan sangat penting. Masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan dan tidak care dengan keadaan sekitar. Karena itu, para kader lingkungan bertugas menularkan virus peduli lingkungan.

JALAN Siti Aminah Thuz Zahro’ pelan-pelan. Dia sangat berhati-hati saat melangkah di halaman Balai Desa Sidorejo, Krian, kemarin (5/10). Perempuan berusia 50 tahun itu berlenggak-lenggok sambil menjinjing rok dari plastik kemasan bekas teh botol. Siang itu dia menunjukkan salah satu hasil karyanya. Yakni, pakaian daur ulang serta mahkota dari botol bekas dan potongan tempat detergen.

Kiprah ibu empat anak tersebut sebagai warga yang peduli terhadap lingkungan tidak perlu diragukan. Bahkan, dia mendapat julukan ratu daur ulang. Aminah telah membuat beragam produk kerajinan dari bahan bekas. Selain gaun, produk-produk hasil karyanya, antara lain, keset, dompet, taplak meja, tas, tempat gelas, bahkan sandal. Sebagian besar terbuat dari bungkus plastik bekas. ’’Dari itu berhasil menjualnya. Dompet Rp 30 ribu, taplak biasanya Rp 15 ribu,’’ ujarnya.

Dalam sepekan, Aminah rata-rata mampu menghasilkan dua barang yang pembuatannya tergolong tidak sulit. Antara lain, taplak meja, tempat tisu, pot bunga, dan tempat gelas air. Yang pembuatannya lebih rumit seperti sandal dan tas, dia hanya mampu menghasilkan satu barang. ’’Karena saya membuatnya di sela-sela waktu luang,’’ tuturnya.

Aminah menambahkan, agar lebih produktif, dirinya memberdayakan ibu-ibu yang tergabung dalam PKK Desa Sidorejo. Istri Sekretaris Desa Sidorejo Abdul Khoiron itu juga rutin mengajari anak-anak sekolah. ’’Kadang juga sharing ide dan pengalaman ke sekolahsekolah,’’ kata perempuan yang tergabung sebagai relawan perempuan di Badan Penanggulangan Bencana (BPDB) Sidoarjo itu.

Bukan hanya di Desa Sidorejo. Dia juga bolak-balik berkeliling ke desa lain untuk memberikan ide-ide soal pemanfaatan sampah. ’’Sampah yang tercecer, yang diabaikan orang itu, bagi saya harta berharga dan itu yang ingin saya tanamkan ke orang-orang. Dari sampah bisa menghasilkan banyak hal,’’ jelasnya.

 

Tanam Hidroponik

 

TIDAK mau berpangku tangan selagi ada yang bisa dilakukan. Itulah prinsip Hadi Poernomo, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Pabean, Kecamatan Sedati. Pria 62 tahun tersebut mengombinasikan pengetahuan bidang pertanian yang didapat dari berbagai seminar dengan hobi berkebun menjadi satu aksi yang bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya.

Dengan telaten, Hadi memperkaya jalan-jalan di perumahannya, Griya Sedati Indah, dengan ragam tanaman yang ditanam secara hidroponik. ’’Awalnya ya termotivasi karena cuaca yang makin panas di perumahan. Apalagi, daerah sini berdekatan sama pabrik,” katanya. Hadi memang tidak sempat mengeyam pendidikan tinggi. Namun, kecintaannya terhadap dunia konservasi lingkungan membuatnya haus ilmu. Strateginya, dia sering membaca buku, majalah, ataupun sekadar informasi dari media cetak dan internet. Selain itu, Hadi yang sejak 1979–2011 bekerja di PT Semen Indonesia (dulu Semen Gresik) sebagai tim pengendali mutu tersebut berkesempatan belajar soal lingkungan dari beberapa seminar.

Hadi pun memanfaatkan ilmu itu untuk pemberdayaan lingkungan. Apalagi, kini dia sudah pensiun sehingga memiliki banyak waktu luang. Sebagai ketua LPMD, Hadi mengajak kader-kader PKK Desa Pabean untuk berperan aktif dalam aksi lingkungan. Salah satu gerakan yang berusaha disebarkannya, ’’Ayo Tanam Hidroponik’’.

Menurut dia, upaya untuk menyediakan lahan hijau melalui cara hidroponik adalah alternative terbaik di lingkungan perumahan. Tidak dibutuhkan lahan yang luas. Tidak diperlukan biaya yang mahal. Tetapi, hasilnya bisa dirasakan. Sebagai contoh, Hadi menanami tembok-tembok di jalanan perumahan dengan tanaman hidroponik. Sawi hijau, sawi merah, selada, dan bayam adalah empat jenis tanaman dikembangkan. ’’Sebab, jenis tanaman itu memang suka air dan bisa dengan mudah dikonsumsi,’’ ucap ayah tiga anak tersebut.

Sejak proses penanaman satu tahun lalu, kebun hidroponik sudah empat kali panen. Dia lantas menjual hasilnya pada ibu yang masih memiliki balita. Ada beberapa misi dalam memilih konsumsen. Antara lain, memberikan contoh bahwa usaha yang tidak begitu berat dari pengelolaan lahan hijau bisa menghasilkan nilai finansial. Hadi juga ingin memberikan edukasi kepada warga bahwa hasil pertanian hidroponik lebih aman karena tidak diberi pupuk kimiawi sehingga sangat layak dikonsumsi.

Tidak hanya menanam ragam tanaman hidroponik, di tembok-tembok perumahan, Hadi menuliskan kata-kata ajakan untuk lebih peduli kebersihan lingkungan. Misalnya, tulisan ’’Bantulah Kami Menjaga Kebersihan’’ yang terpampang jelas di atas salah satu spot kebun hidroponiknya. ’’Ini namanya visual control. Jadi, kebersihan itu tidak

semata lingkungan dilihat  bersih saja. Perlu edukasi,’’ ujarnya. (resviaafrilene/c20/dio)

Berita Terkait