Sambut Lebaran, Kulit Ketupat Jadi Rebutan

Sambut Lebaran, Kulit Ketupat Jadi Rebutan

  Senin, 4 July 2016 09:31
MUSIMAN: Moneja (57) saat merapikan kulit ketupat dagangannya di depan Pasar teratai, Pontianak Barat Minggu (3/7). Peluang bisnis musiman ini dari sejak dulu sudah dilakoni warga. Alhasil, sekitar pasar tradisional pun dipenuhi komoditi ini. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tak sah rasanya Idulfitri tanpa ketupat. Setiap tahunnya budaya berlebaran di Indonesia selalu lekat dan ramai dengan anyaman daun kelapa ini. Para pedagang kulit ketupat juga ikut meramaikan pasar dengan menggelar dagangan mereka di sepanjang jalan raya yang mulai padat dilalui lalu lintas warga.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

SAJIAN spesial semasa lebaran ini selalu menghiasi meja makan. Makanan satu ini menjadi hidangan yang menemani opor atau masakanan khas Indonesia lainnya.

Permintaan masyarakat terhadap kulit atau bungkus ketupat menjelang Idulfitri yang melonjak membuat banyak pedagang menjual komoditi ini. Biasanya para pengrajin kulit ketupat Idulfitri membuka lapak dagangnya di sepanjang jalan raya yang berdekatan dengan pasar tradisional.

Meski hanya memanfaatkan trotoar jalan sebagai lapak dagangnya, keuntungan yang dijanjikan sangatlah besar. Tak ketinggalan para pedagang musiman. Salah satunya di sekitar Pasar Teratai di Jalan Kom Yos Soedarso, Pontianak Barat, para pedagang berjejer menjajakan ketupat.

Mereka berbagi lapak, ada yang menjual kulit ketupat jadi, ada juga yang menjual pelepah kelapa yang menjadi bahan utama kulit ketupat. Kesempatan itu diambil mereka yang menyadari peluang akan bisnis satu ini. Alhasil, sore hari sepanjang jalan dihiasi pemandangan hijau dari ketupat.

Cukup dengan modal janur (daun kelapa) dan didukung dengan keterampilan para pedagang dalam menganyam kulit ketupat, sedikitnya para pedagang dadakan ini bisa menjual sekitar 200 ikat kulit, atau sekitar 2.000 buah kulit ketupat yang siap diisi beras oleh para konsumen. Tidak heran bila omzet dari usaha ini pun cukup menjanjikan.

Pedagang musiman biasanya menjual kulit ketupat ini 3 atau 4 hari sebelum Lebaran. Sejak siang mereka sudah menggelar lapak sambil menunggu masyarakat yang ingin mengunjunginya. Memang, siang hari di Kota Pontianak pasti terasa sangat panas. Tapi hal itu tak menghalangi para pedagang musiman itu untuk mengais rejeki.

Moneja (57) salah seorang pedagang ketupat di Pasar Teratai, Pontianak Barat  mengaku dagangan ini menjadi salah satu alternatif pemasukannya. Sehari-hari Perempuan berjilbab ini sudah tidak bekerja dan membuat ketupat ialah satu keahlian yang masih ia miliki.

Ia terlihat tengah mengemaskan ketupat buatannya yang ternyata ia letakkan di atas lapak orang lain. “Maklumlah karena belum punya tempat jualan,” katanya.

Menurut Moneja, ia baru kali ini mencoba berjualan kulit ketupat. Satu ikat ketupat ia hargai Rp 10.000 dengan 10 ketupat per ikatnya. Harga itu tidak terpatok, karena tergantung bagaimana tawaran dari para pembeli. Akan tetapi menurut pengakuan beberapa penjual, harga pertama yang diberikan tidak boleh lebih rendah dari itu.

Selain menjual kulit ketupat jadi, di dalam keranjang Moneja juga terlihat beberapa helai pelepah kelapa siap jual. Pelepah kelapa itu ia jual Rp 2.000 per ikatnya. Pelepah kelapa itu diperuntukkan bagi masyarakat yang sudah bisa membuat kulit ketupat.

Ia menuturkan, hari itu ialah hari pertamanya berjualan ketupat. Sedari siang hingga Pontianak Post menemuinya pada Minggu (3/7) sore baru tiga ikat ketupat yang laku terjual. “Tadi sudah ada yang laku. Soalnya di sini yang jual kan ramai sekali, jadi memang agak susah lakunya,” kata warga Jalan Tanjung Shaleh ini.

Lain lagi Suratman (48), warga setempat. Setiap ada waktu luang, dia langsung menganyam daun kelapa muda dan membentuknya menjadi kulit ketupat. ”Warga disini sudah biasa buat sendiri kulit ketupat untuk lebaran, jadi ndak perlu beli. Bahan bakunya juga ngambil sendiri," ujarnya.

Menurutnya setiap menjelang lebaran sudah menjadi tradisi, membuat kulit ketupat mulai H-3 atau H-2 baik orang tua dan anak muda pun diajarkan membuat klit ketupat. “Malahan banyak juga yang membuatnya untuk dijual,” katanya. Biasanya para pemuda disini memanfaatkan idul fitri untuk mengais rezeki musiman. Misalnya Suratman berserta rekan lainya.(*)

Berita Terkait