Sambas Masih Status Waspada Banjir, Petrus Tuding Akibat Ekspansi Sawit

Sambas Masih Status Waspada Banjir, Petrus Tuding Akibat Ekspansi Sawit

  Kamis, 11 February 2016 10:57
BANJIR: Kondisi banjir di Subah yang sedemikian tingginya, sehingga menyebabkan sejumlah rumah tenggelam hingga menyisakan bumbungan. (kanan) Banjir juga menggenangi sejumlah tempat di Kecamatan Teluk Keramat. Seperti terlihat di SMAN 2 di kecamatan tersebut yang terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah banjir. HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SAMBAS – Tingginya curah hujan membuat sebagian kecamatan di Kabupaten Sambas disambangi banjir. Sejumlah sekolah ikut terendam banjir, sehingga saat ini Sambas dalam situasi waspada banjir "Sampai saat ini Sambas masih status waspada banjir," ungkap kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan Bencana Kesbangpolinmas Kabupaten Sambas, Efrizar, kepada koran ini, Rabu (10/2) kemarin.

Sejak kemarin, kata dia, sudah banyak laporan yang masuk ke pihaknya seperti di Kecamatan Sambas, Sebawi, Galing, Subah, Tekarang, Teluk Keramat, serta Paloh. Pihaknya sudah melakukan beberapa pemantauan di sejumlah kecamatan untuk melihat situasi dan kondisi. "Dan ini akan kita lakukan setiap hari," katanya.Terkait data jumlah rumah atau warga terkena dampak banjir, pihaknya belum menghitung secara pasti. Rencananya mereka akan melakukan pendalaman terkait kondisi banjir saat ini. "Yang jelas kita setia saat memantau terus kondisi terkini  banjir," jelasnya lagi.

Sementara itu, tokoh Dayak Kalbar, Petrus SA, berpendapat jika hujan di Kecamatan Subah memiliki intensitas yang luar biasa. Akibatnya, dia menambahkan, memungkinkan terjadinya peluapan debit air dengan cepat. Akibatnya, dia memaparkan, 70 persen kawasan Pasar Subah terendam air, di mana sebagian rumah penduduk ada yang sudah mulai tenggelam hingga hanya terlihat atapnya saja. Sementara, dia mengungkapkan, ada warga yang terpaksa harus mengungsi ke rumah rumah penduduk lainnya.

Dia menduga, tingginya debit air tersebut tak hanya dikarenakan tingginya curah hujan, melainkan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang begitu luar biasa. "Banyak kebun sawit di Subah hingga ke rumah warga membuat minimnya kawasan serapan air. Tak ayal debit air tinggi merendam rumah warga," ungkap Presiden Front Pembela Dayak ini.Sementara itu, kepala Kecamatan (Camat) Tekarang, Jumli, mengungkapkan jika genangan air di Tekarang hampir merapat di tujuh desa, namun hanya menggenangi halaman rumah warga. "Belum ada yang rumah terendam, dan tidak ada evakuasi warga akibat tingginya debit air," ungkapnya.

Kecamatan, dipastikan dia, sudah melakukan koordinasi dengan kepala desa yang ada, agar terus memantau kondisi ketinggian air dan melaporkan ke kecamatan. "Semoga tidak sampai banjir, karena setiap hari terus terjadi (air pasang) karena tingginya curah hujan," katanyaBanjir juga melanda Kecamatan Teluk Keramat. Air pasang itu menggenangi SMAN 2 dan SMPN 3 di kecamatan tersebut. Akibatnya, proses belajar mengajar pun terganggu, namun tetap dilaksanakan. "Air masuk sekolah sekitar setengah meter atau setengah meja belajar siswa. Bahkan badan Jalan Pasanda Bakti, Desa Pipitteja dipenuhi parkiran kendaraan siswa, karena jalan tergenang air," kata Akhmad, staf Puskesmas Teluk Keramat, yang secara bersamaan memberikan penyuluhan kesehatan kepada pelajar di SMAN 2 Teluk Keramat.

Ia menambahkan dari halaman sekolah, kedalaman air hampir mencapai 1 meter, sehingga para guru sibuk mengamankan buku-buku agar tidak rusak terendam. "Iya, sudah ada buku yang terendam air. Kami dari kesehatan juga membantu mengamankan buku-buku diatas meja," ungkap Akhmad.Sedangkan kepala SMAN 2 Teluk Keramat, Mirza Sukarja, memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung, meski hanya setengah jam pelajaran. Hal ini terpaksa dilakukan mereka lantaran siswa-siswanya akan menghadapi ujian. "Walau dengan berat hati, namun proses belajar tetap dilakukan, namun tidak seperti jam belajar hari biasa, mengingat anak-anak akan menghadapi ujian," katanya.‎ (har)

Berita Terkait