Sambas Darurat Banjir, Warga Butuh Pengobatan dan Sembako

Sambas Darurat Banjir, Warga Butuh Pengobatan dan Sembako

  Jumat, 12 February 2016 08:19
BANJIR : Rumah warga terendam bajir di Desa Beringin Kecamatan Sajad dan di Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas. Tim penanggulangan bencana bersama pimpinan SKPD meninjau lokasi banjir di Desa Beringin Kecamatan Sajad.Hari kurnithama/pontianak post

Berita Terkait

 

SAMBAS--Hujan deras dan meluapnya Sungai Sambas selama tiga hari ini membuat ribuan rumah di wilayah Kabupaten Sambas terendam. Persediaan sembako menipis hingga kekhawatiran soal kesehatan dialami warga, kini Status Sambas Darurat Banjir.

Bupati Sambas dr Hj Juliarti Djuhardi Alwi MPH mengakui saat ini beberapa kecamatan di Kabupaten Sambas dikepung banjir kiriman. "Saat ini kami sedang rapat penanggulangan bencana di ruang Asisten II, bahkan Pemkab Sambas telah membuka Pos Bencana dan membentuk tim penanggulangan bencana dengan melibatkan instansi terkait, termasuk mengintruksikan agar camat siaga serta melaporkan setiap banjir yang terjadi di wilayahnya.

Bupati minta Camat memantau dan menanggulangi musibah banjir sesuai Standar Operasi (SOP) penanggulangan, dan meminta agar camat aktif koordinasi dengan kabupaten melalui posko penangulangan bencana yang telah dibuka Pemkab Sambas, sehingga bantuan bisa disalurkan ke masing-masing lokasi sesuai kebutuhan. "Kalau sudah perlu dievakuasi, maka Camat sudah mempersiapkan berkaitan dengan hal tersebut,"katanya.

Terpisah, Kasi Penanggulangan Bencana, Efizar, mengatakan saat ini Bupati juga sudah menyampaikan Sambas darurat banjir. Dari hasil pantau sementara angka rumah terendam banjir sudah mencapai ratusan. “Belum sampai, diperkirakan akan mendekati seribu, tapi angka pastinya belum segitu, saat ini pemkab tengah melakukan pendataan yakni memvalidasi angka korban banjir,”ungkapnya.

Tentunya, kata dia, pemkab Sambas akan segera menyalurkan bantuan untuk korban banjir. “Segera disalurkan,”tegasnya.

Sementara itu, Camat Sajad, Bachtiar, mengatakan setidaknya 285 rumah atau sekitar 855 jiwa terendam banjir khususnya di Desa Beringin Kecamatan Sajad. Tim Penanggulangan Bencana Kabupaten sudah melakukan peninjauan bersama sejumlah pimpinan SKPD termasuk Kepala Dinas Kesehatan. “Untuk saat ini masyarakat bertahan di atas panggung di rumah masing-masing. Ketinggian air di dalam rumah mencapai satu meter, namun belum ada evakuasi besar-besaran. Kita sudah menyiapkan lokasi SMPN 2 Sajad sebagai lokasi evakuasi,”ungkapnya.

Terkait bantuan, kata Camat Sajad,  rencananya pemkab Sambas akan menyalurkannya besok Rabu (12/2) kepada korban banjir. Selaku camat pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan kepala desa dan mengimbau warga waspada banjir. “Apalagi hari ini hujan terus sehingga tidak menutup kemungkinan debit air semakin meninggi,” katanya. Banjir juga melanda  Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, dimana sebanyak 265 Rumah warga dari 363 Kepala Keluarga (KK) tenggelam, dan 1600 jiwa telah tiga hari dilanda banjir, warga setempat berinisiatif membangun tempat  untuk tidak dan terhindar dari air.

Kadus Lubuk Lagak Abdul Muis (46)  mengatakan, banjir yang terjadi akibat sungai Teberau meluap, jadi perlu dilakukan normalisasi sungai yang mendangkal dan pohon yang terus menutupi sungai. "Sudah tiga hari ini kita dilanda banjir, jadi sangat perlu bantuan pemerintah, apalagi persediaan sembako menipis, "kata Abdul Muis, Kamis (11/2) di Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Sambas. 

Ia mengungkapkan ada dari Pemkab Sambas yang diwakili Camat Sambas, Rabu (10/2) meninjau dan mendata kondisi banjir, namun sampai saat ini belum ada bantuan. "Kami sangat khawatir, apalagi hari masih mendung, kalau hujan, dapat dipastikan banjir akan meninggi. "Kami mohon bantuan kesehatan dan sembako, karena ada sekitar 130 bayi,  Lansia 72 dan ibu hamil 9 orang di dusun kami, "ujar Abdul Muis.

‎Terkait perkebunan karet warga, katanya, sekitar ratusan hektar kebun karet warga tidak bisa ditoreh, tentunya warga akan merugi, dan jika dalam seminggu ini banjir belum surut, dipastikan penadah atau penampung karet hilang dibawah arus pasang. "Untuk saat ini warga belum mengungsi, karena warga berinisiatif membuat parak didalam rumah, namun warga sangat berharap bantuan dari pemerintah dan donatur, "ungkapnya.

Sementara itu, Daud (58), warga Dusun Lubuk Lagak  mengatakan banjir tahun ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya, selain banjir kiriman dari perhuluan sungai Sambas dan Bengkayang, banjir disebabkan karena pendangkalan serta penyempitan Sungai Teberau. "Dulu sungai ini sangat luas, dan banjir tidak seperti ini, dari hulu sungai terlihat penyempitan karena tumbuhan, sehingga masyarakat meminta sungai di Jumbo dan diperluas, "ungkapnya. (har)

Berita Terkait