Sama-Sama Bikin Kecanduan

Sama-Sama Bikin Kecanduan

  Rabu, 30 March 2016 10:17

Berita Terkait

Muncul sejak hampir satu dekade lalu, vapor alias rokok elektrik baru belakangan ini menjadi tren. Mereka yang ingin beralih dari rokok atau mereka yang tidak sekali pun merokok ramai-ramai menjajal, lan tas menggemarinya. Vapor di anggap lebih sehat daripada rokok. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Vapor juga bisa bikin ketagihan, sama seperti akibat yang ditimbulkan rokok biasa. ”Sifatnya adiktif,” ujar psi kiater dr Aimee Nugroho SpKJ.

Menurut dia, nikotin membuat seseorang merasa rileks dan nyaman. Itu lah yang merangsang reward system pada otak untuk menagih konsumsi berulang. Nikotin telah menjadi candu. Bila konsumsi nikotin dihentikan, akan muncul withdrawal symptoms. Yakni, gejala berupa gelisah, tidak tenang, cemas, hingga sulit tidur. ”Ini dam pak dari sisi kejiwaan kalau tidak lagi pakai nikotin,” ucap Aimee. Maraknya penggunaan vapor juga men dapat sorotan dunia medis. Hingga kini Kemenkes maupun badan pengawas obat dan makanan (BPOM) belum mengeluarkan analisis keamanan vapor. ”Bisa dilihat dari kandungannya dulu,” ujar spesialis bedah RSUD dr Soewandhie dr Billy Daniel Mesakh SpB.

Menurut dokter yang sering menangani kasus bedah paru tersebut, jika bahan yang diisap mengandung nikotin sebagaimana rokok, vapor di nilai tetap berbahaya bagi tubuh. Perbedaannya hanya pada alat isap. Dampak nikotin bagi tubuh sebenarnya seperti kafein pada kopi.

Pada kadar tertentu, ia mampu merangsang semangat. Namun, paparan terus-menerus pada tubuh akan memicu metaplasi pada sel. Yakni, per ubahan sel yang tidak bisa dikendalikan. ”Menjadi toxic bagi tubuh. Ini berpotensi menyebabkan kanker paru-paru,” ucap Billy.

Selain itu, hasil pembakaran vapor akan menghasilkan karbondioksida dan monoksida. Senyawa tersebut cepat mengikat oksigen. Nah, kandungan karbon pada darah akan membuat hemoglobin kalah dalam meng ikat oksigen. Padahal, he moglobin membutuhkan oksigen untuk me langsungkan fungsi vitalnya menjaga kehidupan. ”Saat sisa pembakaran masuk dalam tubuh, karbon yang menang ketika bersaing dengan hemoglobin,” katanya. 

Akibatnya, seseorang yang dalam darahnya mengandung karbon akan merasakan sesak. Bisa juga masuk dalam tahap sulit bernapas. Billy menyebutkan, keluhan awal bia sanya berupa gangguan saluran pernapasan. Contohnya, batuk-batuk. ”Karena dianggap batuk biasa, belum sesak, jadi dibiarkan,” katanya.

Billy menambahkan, pihaknya juga meragukan bahwa vapor benarbe nar tidak mengandung ter. Sebab, hingga kini belum ada alat ukur yang membuktikan. Dia menyebutkan, sebelum ada penelitian yang jelas, sebaiknya lebih berhati-hati mengisap vapor. Apalagi vapor juga berdampak pada orang sekitar yang terkena asapnya.

Sama seperti perokok pasif yang bisa terserang pe nyakit berbahaya dari asap. ”Kalau me mang tujuan akhirnya berhenti me rokok, jangan melalui jalan yang berbahaya,” tegasnya. Dokter spesialis THT dan Bedah Kepala Leher dr Achmad C. Romdhoni SpTHT-KL(K) FICS juga tidak setuju dengan penggunaan vapor. Menurut dia, penggunaan alat tersebut juga berbahaya bagi tubuh. ”Bisa terjadi iritasi kronis,” katanya. Iritasi tersebut disebabkan ada asap yang masuk ke dalam tubuh. Bagian leher yang sensitif seperti pita suara dapat terganggu. Jika sudah iritasi, pita suara tidak bisa maksimal. ”Suara jadi parau dan napas pendek,” tuturnya. (lyn/nir/c6/any)

Berita Terkait