Saksikan Penyu Bertelur dari Dekat, Pengunjung pun Takjub

Saksikan Penyu Bertelur dari Dekat, Pengunjung pun Takjub

  Senin, 22 Agustus 2016 09:30
PENYU BERTELUR: Group Band Jamaica Café saat menyanyikan sebuah lirik lagu tentang penyu dengan background penyu hijau yang sedang bertelur di Pantai Sungai Belacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Uniknya Wisata Turtle Watching di Pantai Paloh

Melihat fenomena penyu bertelur menjadi daya tarik dan pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang datang ke Paloh, Kabupaten Sambas. Hal itu juga yang dialami group band Jamaica Café saat melihat langsung proses penyu bertelur di Pantai Sungai Belacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

ARIEF NUGROHO, Paloh

MALAM kian larut. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 00.00 wib. Pontianak Post bersama beberapa awak media dan group band Jamaica Café yang saat itu menjadi bintang tamu dalam kegiatan Festival Pesisir Paloh (Fespa) memang berencana untuk melihat prosesi penyu bertelur di Pantai Sungai Belacan, Kecamatan Paloh.  

Paloh memang terkenal sebagai salah satu pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia, dengan garis pantai sepanjang 63 Km. Setidaknya ada empat dari tujuh jenis penyu mendarat di pantai itu untuk bertelur.

Kami pun semakin penasaran. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat melihat bagaimana prosesi satwa langka itu bertelur.   

Dengan dipandu tim monitoring, kami pun berangkat dari camp monitoring menuju arah barat ke lokasi penyu bertelur. Desiran angin malam dan deburan ombak pantai mengiringi langkah kami. Setelah kurang lebih berjalan 1 km, tiba-tiba kami dihentikan. 

“Pelan-pelan. Jangan ada yang berisik,” ujar Hermanto, anggota tim monitoring memberikan instruksi. Menurutnya, ada seeokor penyu hijau sedang menggali pasir untuk bertelur.

Spontan kami pun berhenti. Saat itu posisi kami kira-kira 10-15 meter dari lokasi tempat penyu itu menggali pasir. Dengan sabar kami menunggu, meskipun beberapa di antara kami ingin cepat-cepat melihat langsung bagaimana prosesi satwa purba itu bertelur. 

Hampir satu jam kami menunggu, akhirnya Dwi Suprapti, Coordinator Marine Species Conservation - WWF Indonesia yang turut serta mendampingi kami pun memberikan arahan bagaimana cara aman melihat proses penyu bertelur.

     “Silakan melihat dengan lampu penerangan, asal jangan berada di depan penyu,” katanya.

Kami bergegas menghampiri lokasi tempat di mana penyu hijau itu bertelur. Ternyata, dia  (penyu_Red) menggali sarang di hamparan pasir di antara ranting-ranting pohon. Mungkin demi keamanan. Maklum selama ini telur penyu menjadi target perburuan manusia untuk dikonsumsi maupun dijual.

“Dahsyat. Ini momen yang langka bagi kami. Bisa melihat langsung proses penyu bertelur,” kata Enriko Simangunsong, personel Jamaica Café kagum.

    Menurutnya, melihat proses penyu bertelur merupakan pengalaman pertamanya selama menjadi suporter WWF Indonesia sejak 2008 lalu.     

    “Untuk momen seperti ini, kami harus bela-belain datang jauh-jauh dari Jakarta. Ini pengalaman pertama kami,” lanjutnya.

    Setelah melihat secara langsung fenomena penyu bertelur, ia berjanji akan mengajak siapa saja untuk datang ke Paloh dan mengampanyekan tentang perlindungan penyu. Menurutnya, dari 1000 tukik yang menetas hanya 0,1 persen yang bisa bertahan hidup.

“Ini luar biasa. Jadi jangan pernah mempercepat kepunahannya,” tegas Enriko.

Di saat menyaksikan fenomena penyu bertelur, group band akapela yang digawangi Prihartono "Anton" Mirzaputra (Bariton 1, Falsetto, Perkusi), Michael "Biyik" da Lopez (Bariton 2), Hekko Wicaksono (Tenor 1, Beat Box, Trompet, Perkusi), Enriko "Iko" Simangunsong (Tenor 2), Pambudi "Bayu" Bayuseno (Bass), dan Jimmy (Bariton 3, Falsetto, Trompet) itu secara spontan membuat lirik lagu, khusus tentang penyu.

“Mari teman-teman semua, jagalah penyu kita !!!, Demi masa depan anak cucu kita, bumi nyaman, penyu pun aman" begitulah kira-kira penggalan lirik lagunya.

Selain takjub akan fenomena penyu bertelur, Enriko mengaku sangat terkesan dengan potensi alam pantai Paloh yang belum terjamah. Hanya saja, ia menyayangkan kurangnya akses untuk menuju ke sana. 

“Pemerintah harus membuat akses, agar turis lokal dan internasional bisa masuk. Pemerintah daerah maupun pusat harus menyentuh ini, karena Pantai Paloh sangat berpotensi,” bebernya.

Pemerintah Kabupaten Sambas mencanangkan penyu sebagai ikon pariwisata. Penyu diusulkan sebagai ikon karena di wilayah kabupaten tersebut terdapat pantai peneluran penyu yang membentang di pesisir Kecatamatan Paloh, hingga perbatasan dengan Malaysia di Tanjung Datuk.

Wakil Bupati Sambas, Hairiah mengatakan, upaya penyelamatan penyu yang merupakan satwa dilindungi, harus dilakukan melalui kampanye dan pendekatan secara masif di masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sambas saat ini juga sedang mematangkan Rancangan Peraturan Daerah bersama DPRD terkait konservasi dan penyelamatan penyu.

“Penyu adalah satwa yang langka. Meski usia hidupnya lama, tapi hidupnya riskan dari predator termasuk manusia,” ujar Hairiah.

Potensi pantai di pesisir Paloh sepanjang 63 Km merupakan pantai peneluran terpanjang kedua di Indonesia. Selain potensi alam, penyu juga digadang menjadi salah satu objek untuk menarik wisatawan datang ke Sambas.

Upaya kampanye konservasi dan penyelamatan penyu dinilai perlu melibatkan semua pihak, baik itu masyarakat, pelaku pariwisata, maupun LSM lingkungan yang bekerja di wilayah tersebut.

Terkait penyelenggaraan Fespa tahun ini, atas nama pemerintah kabupaten, ia memberikan apresiasi yang cukup tinggi dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Yang akan kita angkat dari kegiatan ini adalah bagaimana caranya supaya masyarakat mencintai penyu, mengajak masyarakat untuk tidak mengonsumsi telur penyu. Penyu merupakan aset dan bisa diangkat sebagai ikon wisata,” katanya.

Menurutnya, pemkab sudah menginisiasi bahwa Sambas harus punya ikon  untuk pariwisata, dan pihaknya telah mengusulkan penyu sebagai ikon.  “Tujuannya ya untuk perlindungan penyu secara masif yang melibatkan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Sy Iwan Taruna Alkadrie, Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian BPSPL Pontianak mengatakan, keberadaan empat jenis penyu yakni penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik dan penyu belimbing dari tujuh jenis penyu dunia menjadikan Paloh unik.  Keanekaragaman hayati itu perlu dilestarikan melalui pengembangan kawasan konservasi.

 Adanya tradisi, adat istiadat dan budaya setempat juga dipandang dapat melengkapi nilai tambah pengembangan kawasan konservasi yang sejalan dengan tiga pilar Kementerian Kelautan dan Perikanan (kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan). 

“Sudah saatnya upaya pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya melindungi dan melestarikan sumberdaya, namun juga dapat dimanfaatkan secara lestari dan berkesinambungan. Oleh karena itulah kemitraan lintas sektor dan peran masyarakat Paloh menjadi kunci keberhasilan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi,” katanya.

Salah satu kegiatan yang mungkin dapat dikembangkan untuk menjawab efektivitas pengelolaan kawasan konservasi adalah dengan mengembangkan wisata Turtle Watching sebagaimana yang telah dilakukan di Sandakan, Malaysia.

“Kami sangat mengapresiasi masyarakat Kecamatan Paloh atas inisiatifnya untuk menjadikan daerah ini sebagai Kawasan Konservasi,” ujarnya.  Inisiatif ini dinilai sangat sejalan dengan komitmen pemerintah di dunia internasional untuk menetapkan kawasan konservasi seluas 20 juta hektare pada tahun 2020.  Pencapaian ini pun sudah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2014 – 2019 dan Indonesia Biodiversty Strategic Action Plan (IBSAP) 2035. (*)

Berita Terkait