Sakit Hati Istri Ogah Diajak Pulang

Sakit Hati Istri Ogah Diajak Pulang

  Jumat, 12 Agustus 2016 09:39
JENGKEL: Rianto sedang diinterogasi Kasat Reskrim Polres Mempawah AKP Prayitno. Pengakuannya, karena jengkel isteri tidak mau diajak pulang. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH - Setelah diringkus di Dermaga, Desa Jangkang, Kecamatan Kubu, pelaku pembunuhan dan penganiayaan, Rianto, 39 di angkut ke Mapolres Mempawah. Pria yang dulunya bekerja di PT Sintang Raya itu mengaku sakit hati dengan sikap istrinya yang tak mau diajak pulang kerumah.

 
Pontianak Post dan sejumlah pewarta pun berkesempatan bertatap muka dengan Rianto di Ruang Kasat Reskrim Polres Mempawah. Mengenakan baju berkerah warna biru laut dan celana pendek merah, Rianto digiring petugas dengan tangan diborgol. Rianto pun duduk berhadapan di meja kerja Kasat Reskrim.

Kepada polisi, Rianto menceritakan awal mula petaka yang berujung pada malam berdarah di kediaman mertuanya di Rt 11 Rw 5 Dusun Banyumanik, Desa Sungai Radak I, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya itu. Rianto yang telah menikahi korban (istri), Painem sejak tahun 2015 silam ternyata sejak menikah tak pernah hidup serumah.

Istrinya, Painem tinggal dirumah mertuanya, sedangkan Rianto hidup seorang diri di rumah kecilnya miliknya yang berjarak kurang lebih 200 meter dari kediaman mertuanya itu. Ditengah prahara rumah tangganya, lahirnya Riani (korban tewas). Rianto pun mengaku harus menjual kebun sawit miliknya seluas 1, 5 hektare untuk biaya persalinan anak semata wayangnya itu.

Kehadiran Riani rupanya tak membuat masalah dalam rumah tangga Rianto-Painem membaik. Painem justru pulang kerumah orang tuanya bersama anaknya. Sementara Rianto harus bekerja di PT Sintang Raya (bagian pemanenan buah) untuk menafkahi keluarganya. Rianto pun beberapa kali berusaha mengajak istri dan anaknya untuk pulang kerumah. Namun, ajakan itu selalu ditolak oleh Painem dengan isyarat bahasa tubuhnya.

 “Dia (istri) tidak bisa bicara dan tidak bisa mendengar. Namun, saya sangat faham dengan bahasa tubuhnya. Jadi, setiap kali saya ajak pulang dia selalu menolak,” tutur Rianto sembari mempraktekan bahasa tubuh dari korban yang menolak ajakannya untuk pulang.

Dalam kunjungannya kerumah mertuanya itu, Rianto pun mengaku tak pernah melupakan kewajibannya menafkahi Riani. Terakhir kali, dia mengaku memberikan uang Rp 200 ribu untuk keperluan susu bocah berusia 7 bulan itu.

Pada tanggal 26 Juli, Rianto memutuskan untuk pulang kerumahnya. Setelah kurang lebih sepuluh hari berada dirumah, Rianto pun memutuskan datang kerumah mertuanya dengan tujuan mengajak istri dan anaknya pulang kerumah. Pada Sabtu (6/8) sekitar pukul 18.00 WIB, Rianto berjalan kaki menuju kerumah mertuanya.

Rianto pun sempat berbincang bersama mertua dan istrinya ketika itu. Hingga akhirnya, perbincangan itu tak menemukan jalan keluar. Rianto pun naik pitam dan berdebat hebat dengan mertuanya. Tak puas berdebat, Rianto pun menuju ke bagian dapur rumah mertuanya . Disanalah dia menemukan sebilah parang.

Dengan menenteng parang itu, Rianto pun menebaskannya kepada Painem dari arah belakang. Naas, Painem yang ketika itu sedang menggendong Riani lantas reflek dan berbalik badan menghadap Rianto. Kontan saja, tebasan parang Rianto mengenai punggung Riani dan memutuskan empat jari kiri Painem.

Merasa salah sasaran, tak membuat Rianto mengurungkan niatnya membunuh Painem. Untuk kali keduanya, Rianto menebaskan parang dan mengenai bagian wajah sebelah kiri dari bagian atas hingga hidung. Kotan saja, Painem dan Riani pun roboh dengan berlumuran darah.

Melihat anak dan istrinya roboh, Rianto pun panik dan melarikan diri. Dalam pelariannya, Rianto mengaku tak tau arah tujuan. Dia pun sempat pergi ke base camp perkebunan sawit di daerah itu dan menginap disana. Bahkan, dia mengaku selama pelariannya tak pernah menyentuh makanan dan minuman. Untuk melepas dahaga, sesekali dia minum air parit.

Dalam pelariannya, terbesit dalam benaknya menuju ke satu tempat yakni Teluk Nangka. Dia pun sempat menanyakan jalan menuju ke Teluk Nangka kepada beberapa warga yang ditemuinya. “Saya bertemu dengan warga yang sedang bermain badminton dan ditunjukan jalan menuju Teluk Nangka,” akunya.

Selama kurang lebih empat malam dua hari, Rianto pun tiba di dermaga Desa Jangkang, Kecamatan Kubu. Di sana, Rianto sempat dikasi uang Rp 10 ribu oleh warga setempat lantaran iba melihat kondisinya. Di dermaga itulah pelarian Rianto berakhir. Salah seorang warga lainnya yang melihat sosok Rianto melaporkan kepada Polsek Kubu. Tak lama polisi datang dan Rianto pun dibekuk tanpa perlawanan.

 “Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), penganiayaan berat dan perlindungan anak,” tegas Kasat Reskrim, AKP Prayitno, SH, MH.(wah)

Berita Terkait