Sajikan Mata Uang dari Abad ke-4 hingga Media Digital

Sajikan Mata Uang dari Abad ke-4 hingga Media Digital

  Kamis, 13 Oktober 2016 09:30
MATA UANG: Salah seorang pengunjung Museum Bank Indonesia sedang memandangi mata uang kuno dengan kaca pembesar. ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Mengunjungi Museum Bisnis Indonesia

Sejarah ternyata lebih mudah dipelajari ketika melihat wujudnya langsung. Apalagi bila bukti tersebut tersusun berurutan. Orang bisa dengan mudah melompat dari waktu ke awakt menyelami kehidupan masa lalu. Susasana ini sangat terasa saat Pontianak Post berkunjung ke Museum Bank Indonesia di Jakarta.

Aristono, Jakarta

MENGUNJUNGI Museum Bank Indonesia, pengunjung akan melihat ribuan jenis mata uang dari berbagai zaman. Dari yang digunakan sejak masa Nusantara, hingga uang yang kini ada di dompet orang Indonesia. Salah satu mata uantg yang cukup tua adalah uang kepingan produksi Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7. Namun yang paling tua adalah mata uang dari abad ke-4.

Pontianak Post lantas melompat ke ruangan khusus untuk mata uang keluaran masa penjajahan. Sebagai informasi, mata uang diperkenalkan bangsa asing, terutama Tiongkok dan India kepada penduduk Nusantara, untuk mempermudah perdagangan dengan penduduk lokal. Namun bangsa Eropa lah yang mengenalkan sistem simpan pinjam alias perbankan ke penduduk pribumi.

Dalam penjelasan di Museum BI, bank yang ada di Nusantara pertama kali didirikan serikat dagang Belanda atau VOC. Perusahaan pemburu rempah-rempah ini diberi hak tunggal oleh Kerajaan Belanda untuk melakukan jual beli dan mengendalikan mata uang di Hindia Timur aka Nusantara.

Di sini VOC tidak hanya bertindak sebagai perusahaan, tetapi juga administrator wilayah dan bank sentral. Untuk keperluan transaksinya, VOV mendirikan bank dengan nama De Bank van Lenning yang didirikan pada 1746. Namun belakangan, akibat sistem yang korup, bank ini bangkrut. Setelah itu, berbagai bank muncul di Nusantara, hingga penjajahan Jepang.

Penyebutan “Rupiah” juga berasal dari masa pendudukan orang Belanda. Sebenarnya berasal dari kata “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda. Mata uang Rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu pendudukan Jepang pada Perang Dunia ke-2, dengan nama Rupiah Hindia Belanda.

Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank), selanjutnya menjadi Bank Indonesia memperkenalkan mata uang Rupiah Jawa sebagai pengganti. Selanjutnya setelah. Indonesia Merdeka, nama Rupiah ini ditetapkan sebagai mata uang negara.

Museum Bank di Jalan Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat ini tidak membosankan. Bekas  dengan De Javasche Bank dengan gaya bangunan neo-klasikal ini menyajijakn Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia.

Museum Bank Indonesia buka setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional dan mengunjunginya tidak dipungut biaya. Bila bosan dengan wisata modern di Jakarta, pembaca bisa berkunjung ke museum ini. Dua manfaat sekaligus bila berkunjung ke sini. Refreshing sekaligus menambah wawasan tentang ekonomi Indonesia dari masa ke masa. (**)

Berita Terkait