Sabu Terbesar Gagal Diselundupkan

Sabu Terbesar Gagal Diselundupkan

  Selasa, 19 April 2016 09:00
KECOH POLISI: Polisi menunjukkan kemasan permen dan makanan ringan yang dikemas menutupi sabu saat masuk ke wilayah Indonesia kemarin. Pelaku mengecoh polisi dengan modus membawa makanan ringan saat membawa sabu. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

17 Kg Sabu Malaysia Masuk Lewat Jagoi Babang

PONTIANAK – Penyelundupan narkoba dari Malaysia seperti tak ada henti-hentinya. Sudah sering tertangkap, para pelaku tampaknya masih belum jera.  Buktinya, polisi kembali menggagalkan upaya penyelundupan sabu dari Malaysia. Kali ini tergolong sangat besar. Tak tanggung-tanggung, sabu yang hendak dibawa masuk melalui perbatasan Jagoi Babang itu seberat 17 kg.

Kapolda Kalbar Brigjend Arief Sulistiyanto menyatakan, kasus ini merupakan penangkapan terbesar selama ini. “Ini yang terbesar. Sebelumnya 5 kilogram dan 10 kilogram,” ujar Arief saat memberikan keterangan pers di Mapolda Kalbar, Senin (18/4). 

Sabu-sabu yang dikemas dalam 17 paket berbungkus alumunium foil itu berasal dari Serikin, Malaysia. Tersangka, Murni (30) warga Pemangkat, Kabupaten Sambas dibekuk saat melintasi jalan raya Jagoi Babang, Kecamatan Sanggau Ledo, Bengkayang, Minggu (17/4), sekitar pukul 18.30.

Sabu-sabu itu dimasukkan ke dalam dua buah kardus yang dibawa menggunakan mobil pikap bernomor polisi KB 8025 PA. Untuk mengelabui petugas, tersangka Murni menyembunyikan bungkusan itu di bawah bungkusan permen dan makanan ringan. Namun, upaya mengkamuflase barang haram itu gagal.

“Untungnya petugas tidak terkecoh dengan kamuflasenya. Petugas juga sudah mendapatkan informasinya terlebih dahulu,” kata Arief.

Arief bercerita, setelah Polres Sambas mendapatkan informasi  bahwa akan ada pengiriman narkoba dari Malaysia menuju Indonesia dengan tujuan Sambas, Polsek Ledo bersama anggota Polres Sambas langsung melakukan razia. 

“Dari operasi itu, ditemukan mobil seperti yang diinformasikan. Setelah diperiksa, bungkusan di dalam aluminium foil itu ternyata sabu. Semuanya ada 17 paket, masing-masing beratnya 1 kilogram,” kata Arief. 

Setelah berhasil menangkap Murni, dan dilakukan pengembangan melalui control delivery, polisi berhasil menangkap satu lagi tersangka.  Yakni Hendro (36), yang juga warga Pemangkat. 

Kapolres Bengkayang melalui Kabag Ops Painol mengatakan, berdasarkan keterangan awal tersangka diketahui bahwa barang haram tersebut didapatkan dari Serikin, Malaysia. Tersangka dibekuk tanpa perlawanan dan kini ditahan di Mapolres Sambas. "Saat ini tersangka masih di tahan di Mapolres Sambas guna pengembangan kasus narkoba lebih lanjut. Karena ada beberapa orang yang menjadi target operasi kepolisian," imbuh Mantan Kasat Narkoba Kabupaten Mempawah.

Belum tersedianya pos pemeriksaan lintas batas di Jagoi Babang dinilai menjadi jalur baru bagi penyelundupan barang ilegal. Mengingat di Entikong, pengawasan perbatasan sudah diperketat, kini di Jagoi Babang yang berbatasan langsung dengan Serikin, Malaysia dijadikan jalur penyelundupan selanjutnya.

“Jagoi Babang itu belum ada PPLB. Jelas semua orang mudah keluar masuk. Dari penangkapan ini, diperlukan peningkatan pengawasan,” kata Arief.

Diakui Arief, jika dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot untuk bisa segera membangun PPLB di Jagoi. Hal ini, untuk memudahkan peningkatan pengawasan. 

“Untuk itu perlu perlu koordinasi semua pihak. Dari kepolisian juga sudah saya minta untuk meningkatkan pengawasan di sana, untuk bisa membantu pembangunan pos pengawasan terpadu, TNI, Polri dan unsur terkait lainya,” jelas Arief. 

Belum tersedianya PPLB di wilayah perbatasan Jagoi Babang membuat semua barang bisa masuk dengan bebas. “Masuk biasa saja. Jagoi Babang belum ada PPLB sehingga bisa lolos begitu saja,” ungkapnya.

Bukan hanya narkoba yang bisa melintas bebas di perbatasan negara itu. Sejumlah barang seperti sosis, gula juga lewat dari Jagoi Babang. Dengan belum adanya PPLB ini, kata Arief, menjadi masalah tersendiri. Dia berharap, tahun ini bisa direalisasikan, mengingat jarak antarnegara tidak begitu jauh, kurang dari tiga kilometer. 

“Bea Cukai memang ada, tapi jaraknya jauh. Di sana juga ada gedung seperti pos terpadu, tapi belum digunakan. Tapi kami sudah koordinasikan hal ini, agar untuk sementara bisa digunakan untuk aktivitas pengawasan.

Persoalan peredaran narkoba jaringan international, diakui Arief butuh koordinasi semua pihak agar bisa menjangkaunya. Yang terpenting saat ini, narkotika, adalah musuh bangsa. 

Arief enggan menyebut taksiran harga 17 kilogram sabu yang berhasil diamankan. Saat ini, pihaknya juga tengah melakukan pengejaran terhadap tersangka yang berada di negara lain. 

“Tidak bernilai. Ini barang (narkoba) tidak bermanfaat bagi kita, lebih baik tidak diberi nilai. Karena ini membawa sial merusak tubuh. Orang bodoh yang menggunakan ini,” kata Arief. (gus)

 

Berita Terkait