Sabu dalam Toilet Bus

Sabu dalam Toilet Bus

  Rabu, 4 May 2016 09:30
DIAMANKAN: Tersangka pemasok sabu dari Malaysia sebesar 5,15 kilogram saat diamankan di Mapolda Kalbar, kemarin. SHANDO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Sabu seberat 5,15 kilogram kembali diselundupkan ke Indonesia melalui border perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong, Kabupaten Sanggau. Sabu tersebut diamankan petugas Bea Cukai Entikong di dalam toilet bus nopol QAV755 jurusan Kuching (Malaysia) tujuan Pontianak, Minggu (1/5) sekitar pukul 11.00.

Barang bukti tersebut diamankan bersama beberapa paket kosmetik yang dikemas di dalam sebuah koper atau false compartment di ruang toilet bus. 

Aksi ini terbongkar bermula dari kecurigaan petugas saat melakukan pemeriksaan barang melintasi PPLB Entikong. Petugas melihat ada sesuatu yang aneh pada bus tersebut. Petugas menemukan pintu toilet bus dalam keadaan terkunci. 

"Sesuai dengan protap, kami melakukan pemeriksaan terhadap lalu lintas barang maupun orang di PPLB. Saat itu, petugas kami menemukan sesuatu yang tidak biasa. Pintu toilet dalam keadaan terkunci. Ketika ditanyakan, sopir mengaku pintu dikunci agar tidak ada penumpang yang buang air. Alasan itu disampaikan sopir karena toilet bus dalam keadaan rusak," ujar Kepala Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Barat Saifullah Nasution, kemarin.

Melihat kejanggalan itu, petugas kemudian mendobrak pintu toilet dan melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan dinding palsu di dalam toilet bus yang didalamnya ditemukan barang impor berupa ratusan pack komestik, sparepart sepeda motor, dan barang barang lainnya yang tidak dilaporkan kepada petugas bea dan cukai.

Hasil pemeriksaan juga ditemukan lima kantong plastik kemasan teh asal Malaysia yang setelah dibuka berisi terdapat butiran kasar bening dengan berat bruto 5,15 kilogram. "Setelah dilakukan pengujian dengan narkotest kit, terbukti sebagai methamphetamine," kata Saifullah. 

Dari hasil temuan ini, petugas mengamankan tiga orang diantaranya M Rizal bin Abdullah, warga Malaysia sekaligus pemilik kosmetik dan sabu, Japar yang merupakan sopir bus, dan Frans Darsono, sopir cadangan. "Ketiganya telah kami tetapkan sebagai tersangka karena diduga melanggar undang undang kepabeanan," jelasnya.

Tak Untuk mengetahui siapa pemesan barang haram ini, pihak Bea dan Cukai berkoordinasi dengan Direktorat Narkoba Polda Kalbar untuk mengembangkan penyelidikan tersebut. "Kami berkoordinasi dengan Polda Kalbar untuk melakukan pengembangan," lanjutnya.

Dari hasil interogasi terhadap tersangka yang sudah diamankan sebelumnya, paket sabu tersebut akan diambil oleh seseorang bernama Safe’i di Terminal Bus International Pontianak pada hari Senin (2/5) sekitar pukul 06.30.

Safe’i kemudian berhasil ditangkap saat hendak mengambil barang tersebut dari bagasi bus dan berencana akan memindahkannya ke pos pengamanan yang ada di dalam kompleks terminal.

Berdasarkan hasil interogasi mengenai kepemilikan barang, Safe’i mengaku, barang tersebut akan diserahkan kepada Khun Seng alias Aseng. Gerak cepat petugas melacak keberadaan Aseng membuahkan hasil. Aseng ditangkap di rumahnya yang beralamat di Jalan Tanjungpura, Pontianak.

Dari kasus tersebut, polisi telah menahan lima orang, tiga di antaranya ditangkap petugas Bea Cukai di Entikong, sedangkan dua lainnya merupakan hasil pengembangan pihak kepolisian.

Dari penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti, seperti 5,15 kilogram sabu, sejumlah buku rekening, paspor, sejumlah alat isap sabu, uang tunai puluhan juta dan sejumlah telepon genggam.

Kapolda Kalimantan Barat Brigjen Arief Sulistyanto menjelaskan, permasalahan penyelundupan narkoba melalui pintu perbatasan tak hanya menjadi problem di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat saja, namun juga menjadi perhatian serius pemerintah Malaysia.

Dalam periode bulan Januari hingga Mei 2016, kepolisian maupun TNI beberapa berhasil menggagalkan penyelundupan sabu dalam jumlah yang tidak sedikit yang masuk melalui pintu perbatasan negara di Entikong, Sanggau maupun pintu perbatasan di Jagoi Babang. Bengkayang.

Menurut Arief, dari barang bukti yang disita, seperti buku tabungan menjadi informasi awal untuk menyelidiki jaringan narkotika ini. "Saya belum tahu berapa isi buku tabungan ini. Namun saya akan berkoordinasi dengan pihak otoritas jasa keuangan untuk membuka rekening itu," katanya.

Liaison Officer Malaysian Police Konsulat Malaysia di Pontianak, ASP Muhammad Ibrahim mengatakan, perbatasan antarnegara rawan penyelundupan. Bahkan, diakui Ibrahim, jika kedua negara masih kurang fasilitas yang canggih untuk mendeteksi narkoba, khususnya yang masuk melalui perbatasan. “Hasil tangkapan di sini (Kalbar) pun juga dikoordisnasikan dengan yang di Kuching, bagaimana jumlah yang begini banyak bisa lolos, dikembangkan untuk ditangani secara serius,” ujar Ibrahim ditemui di Mapolda Kalbar, kemarin.

Berdasarkan data bidang narkotika kepolisian Malaysia, sepanjang bulan Januari hingga April, setidaknya polisi menangkap lebih dari 2.200 orang warga Indonesia terkait masalah narkotika di Kuching.

Sedangkan sepanjang tahun 2015, polisi Malaysia menahan sedikitnya 6.600 orang Indonesia yang terlibat narkotika. Angka tersebut, dikatakan Ibrahim, baru data yang berasal dari Kuching, Sarawak saja. "Jadi bukan hanya di sini (Kalbar) saja, tapi juga di sana (Kuching). Narkotika juga menyerang di sana," katanya.(arf) 

Berita Terkait