Saat Ujian, Orang Tua Rela Menginap dan Dirikan Dapur Umum di Sekolah

Saat Ujian, Orang Tua Rela Menginap dan Dirikan Dapur Umum di Sekolah

  Jumat, 24 June 2016 09:30
DAPUR UMUM : Para orang tua murid saat memasak di dapur umum yang didirikan untuk anak mereka yang mengikuti ujian beberapa waktu lalu. Istimewa

Berita Terkait

Ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama sudah usai, bahkan hasilnya telah diumumkan. Namun ada kisah menarik, bagaimana orang tua ikut menginap di sekolah dan mendirikan dapur umum bagi anak-anak mereka.  Seperti terjadi di SMP terpencil di Perhuluan Sintang ini.

SUTAMI, Sintang

Siang itu, sejumlah orangtua siswa sibuk mempersiapkan makanan di sebuah dapur umum yang didirikan di halaman SMPN 3 Nanga Kremoi, Ambalau, Sintang. Mereka bukanlah korban banjir yang sedang mengungsi. Melainkan sedang mempersiapkan makanan bagi anak-anak mereka yang saat itu sedang mengikuti ujian. 

Ya, karena lokasi rumah dan sekolah yang jauh, saat ujian anak-anak itu menginap di sekolah. Orang tua mereka pun ikut menemani. 

Saat itu sebanyak 24 siswa mengikuti ujian nasional di SMPN 3 Nanga Kremoi Ambalau pada 9 hingga 12 Mei lalu. 

Lokasi SMPN 3 sendiri berada di wilayah terpencil. Butuh perjalananan dua hari baru bisa sampai dari ibukota kabupaten.  Jalur transportasi air satu-satunya akses menuju ke sana. Letaknya persis di tengah pulau Kalimantan bila dilihat dari peta. 

Ongkos perjalanan juga perlu merogoh kocek yang dalam. Sintang-Kemangai (ibukota kecamatan Ambalau) Rp 800 ribu, untuk pulang pergi, naik speedboat 40 PK. Kemangai-Nanga Kremoi tidak bisa langsung perjalanannya. 

Harus menginap satu malam di Kemangai, karena alasan keselamatan. Lantaran medan berat harus dilalui. Jalur kemangai Nanga-Kremoi adalah riam. Jadi kalau sore di atas pukul 16.00 menjadi rawan dilintasi. Ongkos Kemangai-Nangai Kremoi juga lebih mahal. Rp 1,4 juta, untuk pulang pergi. 

Begitu juga dengan siswa SMPN 3 Nanga Kremoi dari kampung terdekat. Mereka harus menginap, karena rawan kalau melintasi riam. Bahkan saat ujian nasional, orang tua siswa juga turut menginap mendampingi anak mereka yang ujian. 

Sehari sebelum ujian para orang tua maupun wali murid sudah berdatangan. Menyambut kedatangan para orang tua, pihak sekolah menyiapkan rumah dinas guru sebagai tempat menginap. Sebagian lagi menginap di rumah warga setempat. “Tahun ini (2016) orang tua yang ikut menginap lebih ramai dari tahun sebelumnya,” kata Kepala SMPN 3 Nanga Kremoi, Job Wara.

Jumlah orang tua menginap menyesuaikan siswa peserta ujian nasional. Berdasar data yang disampaikan kepala sekolah, pada 2016, ujian nasional di SMPN 3 Nanga Kremoi diikuti 24 siswa.

Sebanyak 11 peserta bukan berdomisili Nanga Kremoi. Tapi dari kampung terdekat, antara lain kampung Buntut Pimpin, Nanga Sake, Nanga Leban, dan Kepala Jungai. 

Menurut Job, ada siswa yang kedua orang tuanya mendampingi. Sebagian lagi  hanya bapak atau  ibunya. Kedatangan orang tua murni inisiatif secara mandiri. Pihak sekolah tidak pernah meminta apalagi mengarahkan supaya orang tua menginap mendampingi anaknya selama ujian berlangsung. 

Pontianak Post sendiri berkesempatan ketemu Job, kepala  SMPN 3 Nanga Kremoi, Sabtu (18/6), kemarin, di  Sintang, karena ada urusan di dinas pendidikan. Saat berjumpa, Job menceritakan keseluruhan pelaksanaan ujian nasional yang disertai dengan partisipasi langsung keluarga para murid. “Keunikan sekaligus nilai kekeluargaan masih terjalin,” kata Job.

Orang tua yang datang mendampingi anaknya ujian, begitu sampai di sekolah juga  langsung mendirikan dapur umum. Dapur untuk keperluan memasak buat mereka, anak serta para guru. Para orang tua juga menggunakan sistim piket buat memasak. Ada yang kebagian masak pagi. Siang. Dan, malam. 

Beras, ayam, serta sayur mayur orang tua sendiri yang menyiapkan. Para orang tua mengumpulkan barang-barang yang dibawa, mereka seakan-akan urunan. Barang yang terkumpul itu yang dimasak. 

Dengan dapur umum, orang tua membuat anaknya yang ujian tidak perlu menyiapkan makanan sendiri. Anak bisa fokus ujian. Hanya itu tujuan para orang tua. Sekalipun harus meninggalkan rumah. Kebun ditinggalkan.

Pengorbanan tersebut menjadi wujud partisipasi orang tua dalam memajukan pendidikan, yang tumbuh dan berkembang di daerah terpencil.

“Tidak merepotkan. Semua demi mendukung keberhasilan anak,” kata Sulena, orang tua salah seorang peserta ujian. Ia menginap selama seminggu selama anaknya ujian. Ia berasal dari desa Buntut Pimpin. 

Hal serupa dikemukakan Ijoy, orangtua salah satu siswa. Ia bahkan datang suami istri. Sengaja datang dari desa Rebungai ke Nanga Kremoi, menginap demi mendampingi anak yang sedang ikut ujian. 

“Anak-anak tidak perlu memikirkan masak lagi. Tujuan kami anak supaya bisa tenang mengikuti ujian. Tidak tegang,” katanya. 

Bukan hanya peserta yang diminta para orang tua fokus selama ujian. Namun juga para guru maupun pengawas. Makanan untuk para guru juga disediakan dari guru. Orang tua hanya berharap agar anak mereka yang ujian serta guru tidak perlu memikirkan persoalan lain. Kecuali ujian. 

Pihak sekolah sangat mengapresiasi dukungan para orang tua dalam mendukung kelancaran pelaksanaan ujian. Dimana keterlibatan para orang tua sudah berlangsung sejak 2014, ketika SMPN 3 menjadi sekolah penyelenggara ujian. ”Kita ikut ujian mulai 2008. Dulu menginduk ke SMPN 1 Ambalau. Orang tua juga sama menginap mendampingi anaknya,” kata Job. 

Cerita Job, dukungan masyarakat Nanga Kremoi juga sangat besar dalam mensukseskan ujian. Hal tersebut ditandai dengan pemerintah desa setempat mengeluarkan surat edaran. Yakni melarang ada aktivitas yang bisa menimbulkan suara kebisingan dengan radius 500 meter dari sekolah, selama ujian berlangung. “Desa juga menerjunkan dua orang Linmas berseragam lengkap untuk berjaga selama ujian,” kata alumni FKIP Untan ini.

Pemuka agama tidak ketinggalan. Bahkan di gereja di gelar doa bersama, guna mensukseskan ujian. Para peserta ujian dengan didampingi orang tua dan dibimbing pemuka agama, berdoa, sehari sebelum ujiann dilangsungkan. 

Doa ditujukan sebagai rasa berserah diri dan diberi kemudahan, sehingga bisa tenang selama ujian. Kendati usaha guna meraih prestasi sudah dilakukan sekalipun. Mulai dari melaksanakan les di sekolah, bahkan mendatangkan tim dari sub rayon. (*)

Berita Terkait