Rusman Ali Mundur Pilkada

Rusman Ali Mundur Pilkada

  Selasa, 14 November 2017 10:00
Rusman Ali

Berita Terkait

Suharso: Alasan Kesehatan dan Fokus Ibadah

SUNGAI RAYA – Bupati Kubu Raya Rusman Ali membenarkan dirinya tidak maju lagi dalam Pemilihan Bupati Kubu Raya pada 2018 mendatang. Kendati sempat mendaftar dan mengembalikan formulir ke sejumlah partai politik, Rusman akhirnya membatalkan niatnya untuk maju pada priode kedua.

"Ya, pertemuan Kamis malam lalu itu benar. Saya menyatakan akan mundur dalam Pilkada Kubu Raya," ucapnya singkat saat dihubungi Pontianak Post, Senin sore (13/11). 

Kepada Pontianak Post Rusman Ali belum mau menjelaskan secara rinci alasannya tidak lagi maju dalam pilkada.  “Untuk alasan rincinya nanti akan saya jelaskan saat konferensi pers,” kata Rusman Ali. 

Saat dihubungi kemarin, Rusman Ali masih berada di Jakarta usai menerima penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat atas kinerjanya selama menjadi bupati. Rusman Ali berencana pulang Minggu (12/11) lalu. Namun batal karena bandara ditutup akibat tergenangnya landasan pacu. 

Rencana mundurnya Bupati Kubu Raya, Rusman Ali dalam Pilkada Kubu Raya 2018 mendatang dibenarkan Ketua DPD Golkar Kubu Raya, Suharso. "Benar dalam rapat terbatas, pada Kamis malam (9/11) lalu, beliau (Rusman Ali) menyatakan tidak akan maju dalam Pilkada Kubu Raya tahun depan," kata Suharso kepada Pontianak Post, Senin (13/11). 

Selain Suharso, petinggi partai yang mengikuti rapat terbatas di kediaman Rusman Ali tersebut yakni, Sekretaris DPC PDIP Kubu Raya, Agus Sudarmansyah, Sekretaris DPC Gerindra Kubu Raya, Yuslanik,  Sekretaris DPW PAN Kalbar, Lendeng Syahrani dan beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. 

Meski mengetahui Rusman Ali secara lisan telah  menyatakan mundur dalam kancah Pilkada, namun Suharso mengaku pihaknya tetap akan melayangkan surat yang mempertanyakan kebenaran mundurnya Rusman Ali dalam kancah Pilkada. "Karena beliau daftar resmi, jadi saat menyatakan mundur juga harus dengan pernyataan tertulis," ucapnya.

Disinggung soal alasan, Suharso mengatakan bahwa dalam pertemuan itu, Rusman Ali mengaku ingin fokus menuntaskan pekerjan sebagai bupati hingga masa jabatan. Alasan lain adalah soal kesehatan. “Rusman Ali juga ingin fokus untuk beribadah,” ujarnya. 

Disinggung soal calon yang akan diusung Golkar dalam Pilkada Kubu Raya, Suharso pun mengaku pihaknya tetap mengacu pada mekanisme partai. "Tentunya kami serahkan ke mekanisme partai, dan hasil akhirnya akan kami ikuti prosedur partai," jelasnya. 

Hal senada dikatakan Ketua DPC PKB Kubu Raya, Jainal Abidin. Jainal mengatakan, Kamis pekan lalu dirinya bersama sejumlah politisi di Kubu Raya diundang menghadiri rapat terbatas di kediaman Rusman Ali. “Iya memang benar, malam itu pak Rusman Ali menyatakan untuk tidak maju dalam Pilkada Kubu Raya tahun 2018,” katanya. 

Meski mengaku pihaknya masih mengharapkan keikutsertaan Rusman Ali dalam Pilkada Kubu Raya, namun Jainal menghormati keputusan Rusman Ali.

Jainal pun mengaku dalam waktu dekat akan segera melakukan koordinasi dengan internal partai untuk menentukan kebijakan partai. “Intinya saya akan berkoordinasi dengan DPW dan DPP untuk mengambil langkah politk selanjutnya,” ucapnya. Sama seperti Suharso, Jainal pun mengaku jika dipercaya partai, dirinya bakal siap maju untuk menjadi Calon Bupati Kubu Raya dalam Pilkada Kubu Raya tahun 2018.  

Pendidikan Politik

Pengamat Politik Kalimantan Barat, Ireng Maulana, cukup terkejut mendengar kabar mundurnya Bupati Kubu Raya Rusman Ali dari bursa pencalonan bupati Kubu Raya pada 2018 mendatang. 

“Jika benar Bupati Rusman Ali mundur, berarti dia sudah sukses memberikan pendidikan politik berharga bahwa mundur untuk tidak ikut dalam pemilihan bukan hal tabu,” kata lulusan master dari Universitas Iowa Amerika Serikat itu.

Menurutnya pengumuman kemunduran RA sebagai bakal calon kepala daerah merupakan peristiwa politik besar di Kabupaten Kubu Raya. Kepastian tersebut bakalan memberikan kepastian politik sekaligus mempopulerkan tradisi baru, bahwa mundur harus dilakukan dengan jantan, elegan, dan terhormat. “Patut diapresiasi sebagai tradisi perpolitikan baru,” ucapnya.

Menurut Ireng. mundurnya Rusman Alin juga menjadi momentum dan pertanda terbuka lebarnya  ruang  bagi kandidat lain non petahana untuk maju dalam  pilkada. Bisa saja Kubu Raya membutuhkan sosok pemimpim yang masih segar. ”Hanya semua punya peluang menang,” ucapnya.

Mundurnya RA dari bursa pencalonan kepala daerah sekaligus menjadi contoh baik. Rusman Ali memutuskan mundur dengan alasan-alasan apolitis dan manusiawi. Sebagaimana diketahui, Rusman Ali mundur tak mengkambinghitamkan kelompok politik lain maupun partai politik. “Maka dari itu publik Kubu Raya harus menyikapi dengan konstruktif pula demi kemajuan demokrasi di daerah,” ungkap dia.

Meski demikian, peristiwa mundurnya RA juga harus diumumkan ke publik supaya masyarakat lebih paham, siapa-siapa bakal calon kepala daerah yang akan dipilihnya nanti. “Artinya pemilih fanatik Rusman Ali, akan lebih tahu siapa yang akan dipilihnya nanti,” tuturnya. (ash/den) 

Berita Terkait