Rusia Ikut Berang, Reaksi atas Peluncuran 59 Tomahawk Trump

Rusia Ikut Berang, Reaksi atas Peluncuran 59 Tomahawk Trump

  Minggu, 9 April 2017 08:00
PROTES TRUMP: Para pengunjuk rasa meneriakkan yel-yel saat demonstrasi di depan Menara Trump di New York, kemarin untuk memprotes kebijakan Presiden AS Donald Trump atas serangan udara ke Suriah. AFP

Berita Terkait

DAMASKUS - Serangan 59 rudal penjelajah Tomahawk oleh Amerika Serikat ke pangkalan udara militer milik Syria, Shayrat Airfield, di Provinsi Homs, Jumat (7/4) memantik reaksi keras berbagai pihak. Bahkan, pihak Rusia juga ikut berang dan mengirimkan kapal perang. 

Menurut Trump, serangan yang dilakukan pukul 03.40 waktu Syria itu merupakan balasan atas serangan senjata kimia oleh rezim Presiden Bashar Al Assad yang menewaskan 86 orang di Kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib, Selasa (4/4). Belasan korban adalah anak-anak. 

Menurut Pentagon, di pangkalan itulah pesawat-pesawat yang menyerang Kota Khan Sheikhun berangkat. Senjata kimia milik Syria juga disimpan di tempat yang sama. Namun, tidak ada bukti pasti apakah benar senjata kimia Syria tersimpan di tempat tersebut.

Salah satu pejabat militer AS menyatakan melakukan perhitungan yang akurat agar gas sarin yang diduga ada di pangkalan itu tidak ikut tertembak rudal. Target utamanya adalah menghancurkan selter pesawat, area gudang, bunker suplai amunisi, serta sistem pertahanan udara.

’’Pangkalan udara itu hampir hancur sepenuhnya. Landasan udara, tangki bahan bakar, dan alat-alat pertahanan udara semuanya diledakkan hingga berkeping-keping,’’ ungkap Syrian Observatory for Human Rights (SOHR). Media Rusia Rossiya24 melaporkan bahwa ada sembilan pesawat milik Syria yang hancur. 

Jumlah korban jiwa atas serangan tersebut masih simpang siur. Beberapa media lokal menyebut ada sembilan penduduk sipil yang menjadi korban. Empat di antara mereka adalah anak-anak. Militer Syria menyatakan, hanya ada enam orang yang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan itu. Sementara itu, SOHR menyebut prajurit Syria yang tewas di lokasi mencapai 7 orang.

Ternyata, serangan ke pangkalan udara milik militer Syria Shayrat Airfield di Provinsi Homs itu tidak membuat Presiden Bashar Al Assad keder. Malah Kota Khan Sheikhun yang Selasa lalu (4/4) diserang dangan bom senjata kimia kembali dibombardir. 

Khan Sheikhun dibom hanya beberapa jam setelah serangan di Shayrat Airfield. Bahkan diteruskan hingga kemarin (8/4). Aktivis kemanusiaan di lokasi menyebut serangan itu mengakibatkan seorang perempuan tewas dan tiga lainnya terluka. Memang belum diketahui dengan pasti siapa yang menyerang kota tersebut. Tapi, biasanya pesawat rezim Assad-lah yang membombardir kota-kota basis oposisi.

Assad sudah memberikan sinyal bakal menekan oposisi sesaat setelah AS menyerang pangkalan udara militer miliknya. ”Serangan AS adalah agresi yang arogan dan tidak adil yang hanya akan meningkatkan tekad pemerintah untuk menghancurkan kelompok militan di Syria,” tegas Assad setelah pengeboman oleh AS. 

Pemimpin 51 tahun itu tak sendirian. Sekutu terdekatnya, yaitu Rusia, ikut bereaksi keras. Kemarahan tersebut tidak hanya ditunjukkan dengan kata-kata. Kemarin (8/4) negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu mengirimkan kapal perang Admiral Grigorovich ke Laut Mediterania. Kapal keluaran terbaru Rusia itu lebih berat dan besar bila dibandingkan dengan kapal penghancur milik AS serta memiliki persenjataan lengkap. 

”Kapal itu akan beroperasi di wilayah tersebut karena ada perubahan situasi militer,” tulis kantor berita milik Rusia, Sputnik, kemarin. Perubahan yang dimaksud adalah serangan 59 rudal penjelajah Tomahawk dari kapal perang AS, USS Ross dan Porter, ke pangkalan udara milik militer Syria Shayrat Airfield di Provinsi Homs Jumat (7/4). Serangan dilakukan dari Laut Mediterania bagian timur. 

Admiral Grigorovich yang dikirim Rusia dilengkapi delapan misil penjelajah jenis Kalibr-NK, sistem pertahanan misil Shtil-1, sistem artileri 100 mm A-190, torpedo, dan senapan antipesawat tempur. Kapal itu juga  memiliki landasan untuk helikopter jenis Ka-27. Rusia seakan ingin unjuk kekuataan kepada AS bahwa pihaknya juga bisa menyerang balik. 

Kapal itu juga membawa logistik dari Pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam dan akan berlabuh ke fasilitas militer Rusia di Pelabuhan Tartus, Syria. Admiral Grigorovich diperkirakan berada di perairan Syria selama setidaknya sebulan. 

Selain Admiral Grigorovich, sebelumnya sudah ada kapal induk Admiral Kuznetsov, kapal tempur Pyotr Veliky dan Severomorsk, kapal penghancur antikapal selam Vice-Admiral Kulakov, serta sejumlah kapal tempur pendukung yang lebih kecil. NATO menyebut pengiriman Admiral Grigorovich sebagai pergerakan terbesar Rusia selama beberapa dekade. Rusia mungkin tengah bersiap jika sewaktu-waktu harus berhadapan langsung dengan AS. 

Pentagon saat ini tengah menyelidiki keterlibatan Rusia dalam serangan senjata kimia di Kota Khan Sheikhun. Serangan itulah yang dipakai Donald Trump sebagai dasar untuk meluncurkan rudal ke Syria. Pentagon berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk mengetahui apakah Rusia terlibat dalam serangan itu. Termasuk, apakah pesawat Rusia mengebom rumah sakit di Khan Sheikun lima jam setelah serangan gas beracun di kota itu. 

Diduga, serangan tersebut berusaha menghancurkan rumah sakit yang merawat korban dengan tujuan menghilangkan bukti-bukti. Pesawat yang mengebom rumah sakit itu memang belum diketahui. Namun, pejabat Kementerian Pertahanan AS mengungkapkan bahwa intelijen mengetahui adanya drone milik Rusia yang terbang di atas rumah sakit tersebut. 

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov langsung membantah tudingan Pentagon tersebut. ”Itu tidak benar,” tulis Peskov dalam pesan pendek kepada CNN sebagai konfirmasi. 

Terpisah, Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer menolak untuk mendiskusikan langkah yang bakal diambil pihaknya setelah serangan kejutan ke Shayrat Airfield. Spicer juga hanya memberikan jawaban singkat saat ditanya apakah serangan AS menyebabkan kemunduran atas kerja sama dengan Rusia dalam menghadapi ISIS. ”Bakal ada komitmen bersama untuk mengalahkan ISIS dan kesepakatan bahwa Anda tidak bisa menyemprotkan gas (beracun, Red) kepada rakyat Anda sendiri,” tegasnya. 

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley lebih tegas. Dia memperingatkan Presiden Syria Bashar Al Assad agar tak lagi menyerang warganya dengan senjata kimia. Jika terulang, AS akan kembali bertindak. ”Kami bersiap untuk melakukan (tindakan, Red) lebih, tapi kami harap itu tidak perlu dilakukan,” tegasnya dalam rapat darurat di Dewan Keamanan (DK) PBB Jumat lalu untuk membahas serangan AS ke Syria.

Rapat itu menjadi medan perang kata-kata bagi negara yang pro maupun kontra dengan serangan yang dilakukan oleh Washington. Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft menyebut Moskow telah dipermalukan karena gagal menundukkan diktator boneka yang selama ini disokong Rusia, kelompok Hizbullah, dan Iran. 

Duta Besar Rusia untuk PBB Vladimir Safronkov balik menyerang dengan menyatakan bahwa tudingan dan argumen Inggris tidak profesional. Dia berkali-kali menegaskan konsekuensi negatif dari serangan militer AS. Di pihak lain, Mesir lebih memilih menyerang Rusia dan AS. 

”Penduduk Syria adalah korban yang sebenarnya dari proxy war antara pihak-pihak yang berkonflik. Kami telah muak dengan penyesalan dan pernyataan kecaman karena tragedi kemanusiaan yang telah menghancurkan rakyat Syria,” ujar Duta Besar Mesir untuk PBB Amr Abu Atta. 

Proxy war adalah konflik dua negara atau dua pihak di mana mereka tidak berhadapan langsung, melainkan memilih pihak ketiga sebagai medan perang secara tidak langsung. Selama ini, Syria dianggap sebagai medan tempur untuk proxy war antara Rusia dan AS. Bukannya situasi menjadi damai, kedatangan kedua negara adidaya itu di Syria malah membuat situasi kian buruk dan perdamaian kian sulit tercapai. 

Pasukan koalisi pimpinan AS mendukung oposisi bersenjata, sedangkan Rusia mendukung rezim Bashar Al Assad. Saat Assad sudah berada di ambang kekalahan, Rusia selalu datang dengan bala bantuan yang lebih besar. Meski bertempur di negara yang sama, Rusia dan AS selama ini belum pernah bentrok langsung. Bahkan, sebelum rudal penjelajah AS ditembakkan, Trump sudah menghubungi Kremlin lebih dulu. AS menghindari kemungkinan serangan misilnya menghancurkan peralatan maupun melukai personel Rusia. 

Beberapa pengamat menilai serangan AS ke Syria tidak hanya bermaksud unjuk gigi di hadapan Assad dan Rusia. Tapi juga untuk menakut-nakuti Tiongkok dan Korea Utara (Korut). Namun, yang dilakukan AS dinilai tidak akan membuat Pyongyang berhenti menguji coba misilnya. Efeknya hanya jangka pendek. ”Ini adalah sinyal bagi Pyongyang bahwa AS kini memiliki pemimpin baru yang tidak akan ragu menarik senjata dari sarungnya (menyerang, Red),” tegas profesor di Dongguk University Kim Yong-hyun. (AFP/Reuters/CNN/TheGuardian/Sputnik/sha/c11/any)

Berita Terkait