Rupiah Sudah Dominan di Perbatasan

Rupiah Sudah Dominan di Perbatasan

  Rabu, 28 Oktober 2015 11:08
Reuters

Berita Terkait

PONTIANAK – Bank Indonesia terus menyosialisasikan penggunaan mata uang Rupiah di dunia usaha dan masyarakat pada umumnya dalam melakukan setiap transaksi. Sosialisasi dilakukan hingga ke pedalaman, termasuk di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto mengatakan, penggunaan rupiah tidak hanya berdampak pada kekuatan ekonomi semata, melainkan juga pada kedaulatan bangsa. Menurut dia, penting bagi orang Indonesia untuk cinta terhadap rupiah.

Dia menyontohkan kasus Sipadan dan Ligitan yang diambil Malaysia. “Dari dulu di sana wilayahnya Indonesia. Tetapi ketika ditanya apa mata uang sehari-hari yang digunakan dalam bertransaksi. Ternyata mereka menggunakan ringgit dalam aktivitas ekonominya. Rupiah itu identitas kita, kedaulatan bangsa kita,” ungkapnya kepada Pontianak Post.

Tidak hanya di masyarakat tapal batas, dia menyesalkan banyak perusahaan bahkan BUMN yang bertransaksi dengan valuta asing. Utamanya dolar Amerika Serikat. Dwi berharap perusahaan-perusahaan itu berhenti bertransaksi dalam valas, kecuali untuk hal-hal tertentu dan urgen. Sudah diatur pada Undang-Undang No 7 Tahun 2011, dan sanksinya jelas.

Namun di kawasan perbatasan Kalbar-Sarawak, kata dia, rupiah sudah dominan digunakan penduduk setempat. “Kita sudah keliling untuk memastikan. Ternyata mereka pakainya rupiah. Apalagi jaringan lembaga keuangan kita sudah tersebar dimana-mana, sehingga tidak ada masalah. Yang kita kejar sekarang adalah penggunaan mata uang elektronik,” ucapnya.

Pengamat ekonomi Eddy Suratman menilai rendahnya posisi rupiah disbanding mata uang negara-negara lain lantaran kurang cintanya sebagian masyarakat terhadap rupiah. Dia mengatakan, masih bayak perusahaan yang bertransaksi dalam bentuk dolar AS.

“Bahkan sesame perusahaan nasional pun bertransaksi dalam bentuk dolar. Ini artinya mereka tidak percaya terhadap mata uang sendiri. Ini kan tidak boleh,” kata dia.

Menurutnya, terbiasanya orang-orang menggunakan valas lantaran tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan penegak hukum dalam kasus-kasus tersebut.

“Mestinya ada peringatan dan sanksi bagi yang melanggar undang undang tersebut. Kalau tidak, ya akan seperti ini terus. Dan rupiah tetap sulit naik derajatnya,” kata dia.

Selain itu, Eddy Suratman menilai bentuk dan nominal uang kartal saat ini tidak efisien.

Hanya saja, kata dia, mata uang rupiah memiliki kelemahan, yaitu angka nominal yang terlalu besar.

“Rupiah terlalu banyak nolnya. Memang ada upaya redenominasi (penyederhanaan nol di nominal rupiah), tetapi mangkrak. Rancangan Undang-Undang Redenominasi dihentikan sementara di DPR,” sebut dia.

Rencananya, pada mata uang sekarang, nolnya akan dihilangkan tiga, misalnya Rp1.000 menjadi Rp1. Akan tetapi kata dia, redenominasi tidak selamanya berhasil. Banyak negara yang juga gagal menjalankan program ini. (ars)

 

Berita Terkait