Rumput di Gunung Lebih Empuk daripada Kasur

Rumput di Gunung Lebih Empuk daripada Kasur

  Minggu, 24 April 2016 10:01
TANGGUH: Matthew Tandioputra saat berada di puncak Gunung Kerinci pada Desember 2015. Matthew Tandioputra for Pontianak Post

Berita Terkait

Umurnya baru 10 tahun. Tapi, sudah tiga puncak tertinggi Indonesia didaki Matthew Tandioputra. Selalu praktikkan wushu begitu sampai puncak. 

Nora Sampurna, Bandung

BEGITU kakinya menginjak tanah yang cukup lapang itu, segera saja bocah tersebut mengambil ancang-ancang. Jurus wushu yang belum lama dipelajari di sekolah dipraktikkannya di sana. 

Tak sedikit pun dia terlihat lelah. Padahal, untuk sampai ke tempat dia mempraktikkan jurus itu, dibutuhkan perjuangan yang sangat menguras energi.

Maklum, tanah lapang itu adalah tempat tertinggi di Jawa: Puncak Mahameru. ’’Kalau tempatnya agak luas, meragain jurus. Tapi, kadang di puncak itu sempit. Jadi, pose gerakannya aja,’’ tutur Matthew Tandioputra, si bocah tersebut, mengenang pendakiannya pada Desember 2014 itu. 

Memperagakan atau berpose dengan jurus wushu merupakan cara Matthew merayakan keberhasilan mencapai puncak gunung. Ya, pada usia yang baru 10 tahun, jam terbang putra sulung pasangan Joel Tandionugroho dan Claudia tersebut sungguh mengagumkan.

Lebih dari tujuh gunung di seputaran Jawa Barat telah dia daki. Begitu pula tujuh puncak di Jawa yang diawali dengan pendakian ke Semeru tadi. Disusul Gunung Lawu (Maret 2015), Ciremai (Februari 2015), Welirang dan Arjuno (Juni 2015), Gunung Sumbing, serta Gunung Slamet (September 2015).

Perjalanan ke Semeru tersebut sekaligus menandai cita-cita pelajar SDK 3 Bina Bakti Bandung itu yang lebih besar: menggapai tujuh puncak tertinggi di tanah air. Setahun setelah Semeru atau Desember 2015, dia mendaki Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Pulau Sumatera. 

Lantas, Maret lalu, bocah kelahiran Bandung pada 8 November 2005 itu mencapai Rante Mario, puncak tertinggi Pegunungan Latimojong di Sulawesi Selatan. 

’’Capek sih, tapi seru naik gunung,’’ katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya di Bandung. 

Semua perjalanan ke gunung itu justru bermula ketika Matthew terlihat sulit berkonsentrasi saat menginjak SD. Energinya berlebih. Dia cepat bosan kalau disuruh diam dalam waktu cukup lama. 

Setelah berkonsultasi dengan pakar tumbuh kembang, disarankan untuk melakukan terapi alam. 

Matthew pun lantas diperkenalkan dengan aktivitas outdoor. Dimulai dari kamping saat usianya baru sekitar lima setengah tahun. Ternyata, dia terlihat menikmati. ’’Dari kamping, lalu kenal komunitas Eiger, ikut lari, dan mengenal pendakian,’’ tutur Claudia yang mendampingi saat bertemu Jawa Pos.

Kebetulan, keluarga itu berdomisili di Bandung yang memiliki banyak dataran tinggi dan gunung. Weekend pun kerap diisi dengan aktivitas trekking dan hiking. Matthew dan sang adik, Dave, sering diajak ke lokasi kerja papanya di bidang agrobisnis di Pengalengan, Bandung. 

”Kalau udah di sana, anak-anak dilepas main di kebun, senang banget mereka,” kata perempuan berambut pendek tersebut. 

Kebetulan juga, Claudia dan Joel berlatar belakang pendaki dan dipertautkan di gunung. Keduanya merupakan teman satu jurusan semasa kuliah, yaitu di Biologi Universitas Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. 

Claudia dan Joel kerap ikut dalam pendakian di sekitar Jawa Tengah seperti Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Gunung Sumbing. ”Mungkin juga ya, karena papa-mamanya ketemu di gunung, anaknya suka juga ke gunung hehehe,” kata Claudia. 

Setelah diajak sang ayah menjajal Gunung Burangrang pada 5 April 2014, petualangan bocah penyuka wushu dan futsal itu berlanjut ke Papandayan. Matthew makin ketagihan. Dia pun mengajak sang papa mendaki ke tujuh puncak gunung di Jawa Barat. 

Jadilah liburan kenaikan kelas pada pertengahan 2014 diisi dengan pendakian mencapai tujuh puncak di Jawa Barat. Yaitu, Gunung Puntang (2.223 mdpl/meter di atas permukaan laut), Gunung Patuha (2.440 mdpl), Gunung Haruman (2.151 mdpl), Gunung Malabar (2.329 mdpl), Gunung Burangrang (2.050 mdpl), Bukit Tunggul (2.209 mdpl), dan Tangkuban Perahu (2.086 mdpl). 

”Papa bawa carrier yang 25 liter. Kalau aku tas yang lebih kecil. Isinya jas hujan, topi, air minum, sama cokelat atau pisang bekal dari mama,” beber Matthew.

Kebanyakan Matthew mendaki pergi-pulang. Begitu sampai di puncak, istirahat dan makan sebentar, kemudian langsung turun. Jadi, bisa dibayangkan ketangguhan fisik bocah penyuka pelajaran sains tersebut. 

Ketahanan fisik itu terbentuk, antara lain, berkat rutin mengikuti trail running setiap Kamis malam yang diadakan Eiger Bandung. Jarak yang ditempuh 6–8 kilometer. Selain lari, Matthew mengikuti ekskul wushu dan futsal. 

Dari semua gunung yang telah dia daki, Semeru merupakan pendakian favoritnya. Ketika itu dia mendaki bersama Aksa 7, kelompok filmmaker yang sedang membuat film dokumenter ke tujuh puncak di Indonesia. Matthew menjadi ekspeditor tamu. ”Seru, soalnya kan sambil bikin film. Jadi santai, banyak istirahatnya,” katanya lantas diiringi tawa kecil. 

Semua pendakiannya didampingi sang papa. Semua juga dijalani tanpa didampingi teman sebaya. Tapi, dia mengaku tetap enjoy. Apalagi jika sempat bermalam. ”Lebih enak tidur di gunung daripada di kasur. Rumputnya lebih empuk,” tutur Matthew. Jika menginap, Matthew juga ikut memasak. Membuat mi atau sup misalnya. ”Tapi, kalau lagi hujan ya diem aja di dalam tenda, tidur,” lanjutnya. 

Bila Semeru menjadi pengalaman mendaki paling seru, Arjuno disebut Matthew sebagai gunung dengan pemandangan paling bagus. ”Bersih. Waktu ke sana lagi terang, kalau di Semeru pas hujan,” urai Matthew. 

Mendaki saat hujan terasa lebih berat dan harus ekstrahati-hati karena jalanan menjadi lebih licin. ”Jatuh kepeleset mah sering, tapi kan dijagain sama papa dan guide-nya,” kata dia. 

Selebihnya, Matthew tak pernah mendapatkan pengalaman buruk selama pendakian. Joel menambahkan, buah hatinya itu juga tak pernah mengeluh. ”Kalau capek terlihat dari bahasa tubuhnya. Kalau sudah begitu, biasanya saya ajak berhenti dulu,” ujar Joel.

Hiburan lainnya ya peragaan atau berpose dengan jurus wushu tadi. Joel yang biasanya mengabadikan polah sang anak. Tak jarang, Matthew bertanya kepada sang guru, jurus atau pose apa lagi yang perlu dipraktikkan di puncak gunung. ”Ibarat dikasih PR supaya dia makin semangat sampai ke puncak. Rasanya belum ada anak yang melakukan wushu di atas gunung. Bisa jadi Matthew ini yang pertama,” ujar Hafidz, pelatih wushu di sekolah Matthew. 

Dukungan juga diberikan pihak sekolah. Setiap Matthew memiliki jadwal mendaki, bila waktunya tidak bertepatan dengan masa libur, sekolah memberikan izin. Jika waktu pendakian Matthew bersamaan dengan masa ujian, sekolah akan mengatur jadwal untuk ujian susulan. 

Tinnie Tjandra, kepala SDK 3 Bina Bakti Bandung, merasa bangga terhadap capaian Matthew. ”Kecerdasan anak bukan hanya di akademik, tapi bisa juga kecerdasan fisik. Terlebih, Matthew ini balanns antara sekolah, ekskul, serta hobinya,” puji Tinnie. 

Claudia mengakui, dirinya dan suami memang menanamkan kedisiplinan terhadap kedua putranya sejak dini. Antara sekolah, ekskul, dan hobi harus seimbang. ”Setelah pulang sekolah, mengerjakan PR dan tidur siang, baru kemudian latihan wushu,” kata Claudia mencontohkan. 

Itu pula yang terlihat pada Rabu siang itu. Setelah bel pulang sekolah berdentang, Matthew makan siang dan beristirahat sejenak. Dia lalu membuka buku IPA, belajar untuk ujian keesokan harinya. Semua tanpa disuruh.

Target nilai pun, Matthew sendiri yang menentukan. ”Misalnya, dia ingin mendapat nilai 85, kemudian ternyata belum bisa mencapainya, berarti usaha belajarnya harus ditambah. Kedisiplinan itu secara tidak langsung juga terbentuk dari hobinya mendaki,” kata Claudia.

Kini Gunung Binaiya menjadi rencana pendakian Matthew berikutnya. Gunung di Maluku itu bakal dia daki bersama sang ayah pada awal Mei. Kalau ingin melengkapi tujuh puncak tertinggi, target selanjutnya tentu saja Bukit Raya, Rinjani, atau Carstensz. 

Tapi, Matthew belum memutuskan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan tujuh puncak Nusantara tersebut, Matthew juga tidak menentukan. 

Sebab, dia mendaki karena menikmati prosesnya. Bukan untuk mengejar target tertentu. Matthew akan terus mendaki selama dirinya merasa enjoy. Juga, selama ada jurus wushu baru yang akan dipraktikkannya jauh di puncak sana. (*/c5/c9/ttg)

Berita Terkait