Rumah Balug nan Unik

Rumah Balug nan Unik

  Jumat, 29 September 2017 10:00

Berita Terkait

Hampir Punah Ditelan Zaman

Suku Dayak Bidayuh di Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat memiliki tempat ibadah unik yang diberi nama balug. Berisi tengkorak manusia hasil mengayau, balug memiliki tinggi 33 meter. Kini, jumlah balug bisa dihitung jari. Jika tak ada yang merawat, rumah balug bakal punah ditelan zaman. 

IDIL AQSA AKBARY, Siding

SUASANA kampung di Dusun Sebujit, Desa Hli Buei siang itu tampak sepi, Jumat (22/9) pekan lalu. Tak banyak warga yang beraktivitas di sekitar rumah. Dari kejauhan, rumah adat Sebujit atau yang dikenal dengan sebutan balug tampak jelas. Bangunan ini lebih menjulang dibanding rumah-rumah penduduk di sana. 

Bahan dan warna bangunannya pun paling unik. Bentuknya seperti parabola dan tak ada satu sisi pun yang diwarnai (dicat). Semuanya masih terlihat tradisional. Kontras dengan rumah-rumah di sekitarnya yang sudah berdinding beton dan beratapkan seng. Untuk benar-benar sampai ke rumah adat yang dibangun kembali pada 1997 itu harus melewati gertak kayu.

Semua lantai di sekitar balug memang masih berupa papan. Untuk bisa naik ke atas bangunan itu, hanya ada satu tangga. Bahannya dari batang kayu ulin. Diameternya sekitar 20 cm.

Batang ulin yang dipotong dan ditakik sedemikian rupa itulah yang dijadikan pijakan. Sementara pegangan tangannya terbuat dari batang bambu. Pengunjung harus berhati-hati ketika menaikinya. 

Begitu sampai di atas balug, kampung yang masih asri terpampang di depan mata. Hamparan rumah-rumah penduduk, rumput hijau lapangan bola berlatar hutan dan gunung terlihat begitu indah. Lumayan untuk menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan panjang menuju desa ini.

Sebab untuk menuju desa ini, dibutuhkan waktu hampir sembilan jam dari Ibu Kota Provinsi Kalbar, Pontianak. Aksesnya juga tidak mudah. Sebagian jalan menuju ke sana rusak berat. Selain itu, sepeda motor motor yang Pontianak Post kendarai harus melewati medan yang terjal dan berliku. 

Sebenarnya tidak setiap waktu orang bisa berkunjung dan masuk ke dalam rumah sakral itu. Beruntung ketika Pontianak Post menyambanginya, keadaan balug masih terbuka. Itu dikarenakan beberapa hari sebelumnya telah diadakan ritual.  

"Kebetulan ada ritual. Masyarakat meminta agar tidak hujan, supaya bisa membuka lahan untuk berladang. Ini hari terakhir. Besok, balug sudah ditutup dan tidak boleh dimasuki sampai ada ritual lagi," ungkap Kepala Desa Hli Buei, Deki Suprapto (53) yang menemani Pontianak Post kala itu.

Balug memang berfungsi sebagai pusat peribadatan bagi penganut aliran kepercayaan Suku Dayak Bidayuh. Di dalam bangunan itu masyarakat adat meminta berbagai hal. Permintaan  disampaikan melalui ritual yang mereka yakini. 

Tidak ada jadwal khusus kegiatan ritual di sana selain saat acara pesta panen padi atau Gawai yang diadakan setahun sekali. Dalam salah satu ritualnya, ada prosesi pencucian tengkorak. Ritual bisa saja diadakan tanpa menunggu saat gawai. Semua tergantung pada kebutuhan atau keinginan masyarakat adat. 

Seperti sekarang ketika musim membuka ladang tiba, sementara kerap terjadi hujan.  Masyarakat mengelar ritual untuk meminta tidak turun hujan. "Jadi ritual bisa dilakukan di balug sesuai dengan  keperluan. Percaya tidak percaya, jangan heran. Di sini sudah lima hari tidak hujan. Besok setelah ritual selesai, kemungkinan baru akan turun hujan," terang pria kelahiran 1972 itu.

Sambil melihat-lihat isi bangunan beratap daun sagu itu, Deki bercerita banyak hal. Menurutnya, awal keberadaan balug bagi orang Hli Buei (leluhur Dayak Bidayuh yang tinggal di pegunungan), tak lepas dari budaya ngayau. Ngayau adalah tradisi berburu kepala manusia pada zaman nenek moyang. Tengkorak hasil ngayau inilah yang kemudian disimpan di dalam balug. 

Pada masa lalu, setiap perkampungan pasti memiliki satu balug. Di Kecamatan Siding sendiri, balug pertama ada di Kampung Betung yang dibangun tahun 1.800-an. Dari kampung itulah orang-orang Hli Buei berasal. "Di sana (Kampung Betung) sudah tinggal tembawang saja (tidak ada lagi balug), karena semua penduduknya pindah menyebar, termasuk ke Sebujit ini," katanya. 

Orang-orang Hli Buei masuk ke Sebujit diperkirakan tahun 1970-an. Sebelumnya mereka adalah penduduk pindahan dari kampung Sebujit yang lama. Di Sebujit lama, masih terdapat satu balug yang terus dirawat oleh pemangku adat di sana. Balug itu tetap aktif melakukan ritual setiap tahun. 

"Cukup jauh dari ini (menuju balug di Sebujit lama), bisa pakai motor tapi harus lanjut jalan kaki lagi. Letaknya benar-benar di atas gunung. Itu yang tua, tapi mirip memang (dengan yang di Sebujit sekarang), kira-kira (dibangun) zaman kakeknya bapak saya," terangnya. 

Sampai sekarang balug yang ada di Kecamatan Siding ada empat. Satu di Desa Tamong, satu di Desa Tangguh dan dua di Desa Hli Buei, yakni di Sebujit lama dan Sebujit baru. Umur keempat bangunan balug ini jelas berbeda-beda. "Kalau yang di gunung seperti di Desa Tamong dan di Desa Tangguh kemungkinan umurnya bisa sama, karena awal pusatnya ibadah penganut kepercayaan aliran itu dari sana," ucap ayah lima anak itu.

Sedangkan di Desa Sebujit yang sekarang, balug dibangun pada 1997. Dari manuskrip yang ditulis Deki, pembangunan dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan musnahnya budaya leluhur yang tak bisa dilepaskan dari keberadaan balug tersebut.

Hal ini berkaca pada pengalaman di masa lalu. Ketika penyebar agama mulai masuk, beberapa balug pun menjadi musnah. Para penyebar agama saat itu menganggap peninggalan leluhur ini tidak sesuai dengan ajaran agama. 

Sampai akhirnya muncul kesadaran di tengah masyarakat bahwa mereka berasal dari masyarakat adat yang tak mungkin lepas dari sosial budaya yang telah terlebih dahulu mengikat mereka. 

"Faktor ini jugalah yang kemudian mendorong kami mempertahankan kebudayaan gawai Nibakng dengan membangun balug," paparnya. 

Gawai Nibakng digelar tiap tahun pada tanggal 15 Juni. Penamaan Nibakng sendiri berasal dari alat musik semacam beduk berukuran panjang yang disebut sibakng. Keberadaan sibakng ini juga turut menjadi sebab mengapa balug dibangun menjulang tinggi. Untuk bisa dimainkan, sibakng sebagai alat musik pengiring ritual harus disimpan menggantung, hingga menembus lantai balug. 

Gawai Nibakng kini sudah menjadi salah satu agenda wisata di Kabupaten Bengkayang. Prosesinya dilaksanakan selama tiga hari. Ada beragam ritual di dalamnya. Gawai juga dilakukan sebagai hari besar untuk menyambut tahun baru. Sekaligus tanda syukur karena sudah diberkahi tuhan dan diberikan hasil panen yang melimpah. 

Terkait aliran kepercayaan ini, Deki mengatakan, sampai sekarang masih banyak penduduk di sana yang meyakininya. Jumlahnya sekitar 50 persen dari seluruh penduduk di sana. Di Desa Hli Buei sendiri masih ada sekitar 70 kepala keluarga (KK) yang menganut kepercayaan aliran. Sedangkan di Dusun Sebujit ada sekitar 40 KK. 

"Mereka yang menganut kepercayaan ini memang masih tetap melaksanakan beragam ritual (di balug). Kalau kami yang sudah percaya agama, hanya ikut merayakan saat gawai saja, sebagai bagian dari budaya atau tradisi," jelas kepala desa beragama Kristen itu. 

Keberadaan balug dan gawai yang sudah menjadi agenda wisata kini sudah cukup dikenal, hingga berhasil menarik banyak pengunjung, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Menurut Deki, hal ini tak terlepas dari dukungan pemerintah daerah. Terbukti sejak didirikan, bupati dan dewan adat di kabupaten selalu mendukung pelaksanaan gawai. 

"Kami sangat bersyukur sejak dulu pemimpin di daerah sangat peduli terhadap semua unsur masyarakat, dengan tidak membeda-bedakan ras dan etnis tertentu. Sehingga semua kebudayaan dayak pedalaman yang hampir saja punah ini bisa digalakkan kembali," ungkap suami dari Yustina Aminah itu.

Ke depan, Deki dan masyarakat di sana berharap kebudayaan leluhur ini bisa terus dilaksanakan. Agar terjaga dan berkembang seperti kebudayaan-kebudaya lain yang ada di muka bumi. (*) 

Berita Terkait