Rudy’s Kaffee, Berawal dari Seduhan Kopi Habibie

Rudy’s Kaffee, Berawal dari Seduhan Kopi Habibie

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30
TEROBOSAN: Barista di Rudy’s Kaffee membuat black coffee dengan aeropress. Selain membeli minuman, pengunjung juga bisa membawa pulang biji kopi | Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos

Berita Terkait

Menu Inovatif Cerminkan Teknokrat yang Penuh Inovasi 

Produser Rudy Habibie mewujudnyatakan kopi dalam film itu menjadi racikan yang dijual sebagai merchandise. Bersentuhan langsung dengan petani lewat edukasi pelestarian kebun.  

GUNAWAN SUTANTO, Jakarta

IDE itu datang dari secuil adegan film. Dari sana, kemudian lahir racikan, kedai, dan semangat untuk turut mengangkat kopi Indonesia. 

”Intinya, saya ingin mewujudkan apa yang di film itu dalam bentuk nyatanya,” kata Manoj Punjabi. 

Film yang dimaksud adalah Rudy Habibie. Film yang diproduseri Manoj tersebut bercerita tentang masa muda Presiden Ke-3 Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie. 

Di dalam film, Habibie muda yang tengah menempuh studi di Jerman diceritakan kerap menerima kiriman kopi Indonesia dari mami (panggilan Habibie untuk ibundanya). Seduhan kopi dari mami itu selalu mendapatkan pujian dari teman-temannya.   

”Saya ingin menghadirkan kesempurnaan kopi seperti yang ada dalam film. Karena saya bukan ahli kopi, makanya saya libatkan profesional kopi dalam membuat racikan Rudy’s Kaffee,” kata Manoj. 

Blend Rudy’s Kaffee sengaja dipilih dari biji kopi berkualitas asal Mandailing, Sumatera Utara. Perpaduannya 50 persen robusta dan 50 persen arabika. 

Dalam pemilihan blend itu, Manoj dan timnya sempat berdiskusi panjang. Mereka melakukan riset yang terkait dengan selera pasar. Sebenarnya sempat terpikirkan racikan Rudy’s Kaffee dibuat dari biji-biji kopi asal Sulawesi dan Jawa. Sebab, dua daerah itu mencerminkan daerah asal atau tempat yang pernah ditinggali B.J. Habibie. 

Sebagaimana diketahui, B.J. Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan. Keluarga besar ayahnya berasal dari Gorontalo. Namun, mami atau ibunda B.J. Habibie berasal dari Jogjakarta. 

Tapi, setelah melakukan riset, diputuskan menggunakan kopi Mandailing. Salah satu alasannya, cita rasa kopi dari tanah Sumatera bisa diterima kebanyakan masyarakat.

Kopi yang dibungkus dengan paper bag cokelat itu dijual dalam ukuran 200 gram. Rudy’s Kaffee saat ini dijual di kedai milik sendiri serta melalui online store mataharimall.com. Ada dua varian yang dijual, yakni bentuk bubuk dan biji (whole bean). 

Manoj menyiapkan dua tempat untuk kedai, yakni di Cibinong City Mall dan Blok M Square. Tapi, saat ini kedai atau lebih tepatnya minibar Rudy’s Kaffee baru tersedia di Cibinong City Mall.

Manoj memilih kopi sebagai product placement film Rudy Habibie karena menganggap selama ini kebanyakan merchandise film itu-itu saja. Dia ingin membuat sesuatu yang berbeda dan menjadi sebuah lifestyle. 

”Minum kopi sekarang ini kan sudah menjadi gaya hidup. Kopi itu sesuatu yang menarik,” tegasnya.

Dalam mengembangkan bisnis itu, Manoj mengaku bersentuhan langsung dengan petani. Sebab, dalam misinya, Rudy’s Kaffee ingin mengangkat kopi Indonesia sekaligus para petaninya. 

”Banyak yang kami lakukan, salah satunya memberikan edukasi pelestarian kebun kopi. Juga membantu fasilitas perkebunan para petani setempat,” terang pria 43 tahun itu.

Untuk varian whole bean, sepertinya Manoj tengah membidik pasar penikmat kopi yang mengutamakan kesegaran penyeduhan. Bagi para penikmat kopi, biji yang digiling sesaat sebelum diseduh dianggap lebih fresh daripada yang sudah menjadi bubuk. Pasar penikmat kopi seperti itu memang tengah tumbuh.

Manoj menyebutkan, menu di kedai Rudy’s Kaffee sengaja dibuat inovatif. Sebab, dia ingin mencerminkan sosok B.J. Habibie, yakni teknokrat yang penuh inovasi.

”Karena itu, kami punya menu favorit, namanya Soda Coffee Cream,” pamernya. 

Soda Coffee Cream sejatinya es kopi campur soda yang dihasilkan dari alat bernama soda syphon. Manoj mengklaim menu Soda Coffee Cream itu pertama di Indonesia. 

Namun, dari pengamatan selama ini, sebenarnya menu tersebut bukan hal baru di Indonesia. Beberapa kedai kopi sudah lebih dulu punya menu olahan kopi bersoda. Hanya penamaannya yang berbeda.

Di Blok M Square dan Pasar Santa, misalnya, ada kedai kopi Bear & Co. Kedai itu memiliki menu kopi hitam bersoda dengan istilah nitro coffee. 

Anda juga bisa menemukan olahan kopi yang hampir sama di Kafe La Tazza yang terletak di Mal Ambassador, Kuningan. Alat yang digunakan untuk menghasilkan soda di kedai-kedai itu juga sama dengan yang dipakai Rudy’s Kaffee.

Dalam hal menu olahan kopi, apa yang ada di Rudy’s Kaffee sebenarnya juga berbeda dengan kedai kopi specialty kebanyakan. 

Soda Coffee Cream misalnya. Minuman tersebut dibuat dengan tidak menggunakan kopi yang digiling seketika itu juga. Soda Coffee Cream dibuat dari serbuk ekstrak kopi, cokelat, dan susu. Serbuk-serbuk tersebut dilarutkan dengan air dan es, lalu diberi soda yang dihasilkan melalui syphon.

Itu tak sama dengan penyeduhan kopi pada menu black coffee. Menu yang bukan favorit Rudy’s Kaffee itu dihasilkan melalui penyeduhan manual. Menggunakan alat aeropress dengan perbandingan kopi dan air 1:15. 

Untuk mendapatkan takaran yang pas, barista juga menggunakan timbangan digital. Kopi untuk black coffee juga dihasilkan dari biji yang digiling saat pengunjung memesan. Artinya, kopi untuk black coffee bisa dipastikan lebih fresh daripada Soda Coffee Cream.

Rudy’s Kaffee juga menyediakan kopi yang diseduh dengan air dingin atau yang populer dengan istilah cold brew. ”Untuk cold brew, kami menggunakan kopi dari blend dari Jawa. Penyeduhannya 12 jam,” ujar barista Rudy’s Kaffee Feri Azhar Aziz.

Apa yang dilakukan Rudy’s Kaffee itu sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya, film tentang kehidupan seorang barista, Filosofi Kopi, juga membuat kedai kopi di daerah Blok M Square. 

Kedai itu dibuat persis seperti yang ada di dalam cerita film yang didasarkan pada buku karya Dee Lestari tersebut. Hanya, Filosofi Kopi tak menjual kopi sebagai merchandise-nya. 

Meskipun bukan yang pertama, semangat Manoj mengangkat kopi dan para petani kopi Indonesia tetap layak untuk diapresiasi. Apalagi jika kelak yang dilakukan Rudy’s Kaffee bisa merebut hati pencinta kopi yang selama ini gemar ke kedai premium penyedia biji kopi dari mancanegara.

Executive Director Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi) Veronica Herlina mengungkapkan, yang dilakukan Filosofi Kopi dan Rudy’s Kaffee merupakan hal positif. ”Ini bisa membantu pemasaran kopi Indonesia. Hanya, mereka harus memperhatikan benar-benar kualitas kopi yang digunakan sehingga tak terkesan euforia saja,” ujarnya. (*/c11/ttg)

Berita Terkait