AS Roma 0 vs 2 Real Madrid , Bagai Serigala Rindukan Bulan

AS Roma 0 vs 2 Real Madrid , Bagai Serigala Rindukan Bulan

  Jumat, 19 February 2016 07:36
Foto Internet

Berita Terkait

ROMA – Bagai pungguk merindukan bulan. Itulah peribahasa yang paling tepat menggambarkan impian AS Roma berprestasi di Liga Champions. Jangankan menggapai final, melewati Real Madrid di babak 16 besar saja hampir tak tergapai.

Bermain di kandang, Olimpico Stadium, Roma, pada first leg babak 16 besar, mereka ditundukkan Real 0-2 kemarin (18/2) dini hari. Artinya, kalau ingin lolos ke perempat final, Roma butuh menang tiga gol atas Real di Santiago Bernabeu pada 8 Maret nanti.Masalahnya, mengalahkan Real di Santiago Bernabeu itu sama sulitnya dengan Roma mengejar scudetto dalam satu dekade terakhir. Jadilah mereka mereka lebih layak disebut pungguk alias burung hantu – ketimbang Serigala – yang hanya bisa menatap rembulan, tapi tak tergapai.

Pada laga kemarin dua gol Los Merengues, julukan Real, dikontribusikan oleh Cristiano Ronaldo pada menit 57 dan Jese Rodriguez (86’). Walaupun menerima kekalahan kemarin, sejatinya performa Gialorossi, julukan Roma, tak buruk-buruk sangat. Alessandro Florenzi dkk memberikan perlawanan sengit dalam 45 menit pertama dan memaksa hasil imbang tanpa gol.

“Kekalahan ini sangat sulit kami terima. Real memang tim yang bagus namun mereka tak membuat banyak masalah buat kami pada laga ini,” ucap gelandang Roma asal Bosnia Herzegovina Miralem Pjanic seperti diberitakan Mediaset Premium.

Bicara ball possesion versi statistik versi Four Four Two mencatat Real mendominasi sampai 61 persen. Real membombardir gawang Roma yang dijaga Wojniech Szczesny sebanyak 19 kali, dan lima tepat ke arah gawang.

Roma tak mau kalah dengan melancarkan tembakan sebanyak 11 kali namun hanya dua yang mengancam gawang Real yang dijaga Kelor Navas.

Akurasi passing para pemain Real mencapai 87,9 persen. Dari 682 umpan, 600 diantaranya sukses. Sedang Roma akurasinya di angka 82,3 persen. Dari 426 umpan, 351 diantaranya sukses.

Allenatore Roma Luciano Spalletti seperti diberitakan Football Italia kemarin (18/2) berkata timnya sudah memberikan perlawanan. Namun di babak kedua, kesalahan kecil Roma dengan memberikan ruang gerak sempit dimaksimalkan oleh Real membuat gol.

Media-media Italia pun menyinggung soal kebugaran pemain Roma. Sebab di babak kedua, seperti Florenzi yang kalah adu sprint dengan Ronaldo di sisi kiri pertahanan Roma membuat pemain asal Portugal itu leluasa mencetak gol.

“Saya tak mau berdiskusi mengenai kualitas fisik anak buah. Karena saya tak ingin membuat pemain aya berpikir jika mereka memang kalah secara fisik dari lawannya,” ucap pelatih berkepala plontos itu.

Strategi Spalletti 4-3-3 dengan menempatkan Diego Perotti sebagai false nine membuat Mohamed Salah dan Stephan El Shaarawy bermain melebar.

Alhasil Salah yang beroperasi di sisi kanan pun sering berjibaku adu cepat dan lincah dengan bek kiri Real Marcelo.

Akan tetapi pria berusia 56 tahun itu tak putus asa dengan kekalahan dua gol di Olimpico. Berkaca dari histori sepuluh kekalahan Real di Santiago Bernabeu, Roma pernah melakukannya.

Tak hanya sekali, dua kali Serigala Roma itu pernah mencoreng wajah Real di kandangnya yang terkenal keramat. Pertama pada 16 besar Liga Champions 2007/2008 lalu.

Roma menang 2-1 di Olimpico pada first leg, lalu kembali menang dengan skor yang sama di Santiago Bernabeu pada second leg. Dan ketika itu, Spalletti adalah nahkoda Roma. Jadi, kalau sampai menang kejadiannya benar-benar seperti de javu.

Kemenangan kedua Roma di Bernabeu terjadi pada 2002/2003 di fase grup. Francesco Totti dkk menang 1-0 di kandang Real.Sementara itu, entrenador Real Zinedine Zidane memuji anak buahnya. Buat Zidane ketika di babak pertama Sergio Ramos dkk dalam tekanan tuan rumah, mereka tetap tenang.“Kami sangat senang dengan hasil kemenangan ini. Dari awal saya sudah memprediksi pertemuan melawan Roma ini akan menjadi pertandingan yang keras,” ucap Zidane seperti diberitakan UEFA.Menuju leg kedua di Bernabeu paa 8 Maret mendatang, meski dengan bermain imbang tanpa gol Real sudah lolos, legenda timnas Prancis tak menginginkan hasil itu.Zidane tahu benar, bagaimana klub-klub Italia bisa menjadi duri buat perjalanan timnya. Bapak empat anak itu pernah merasakan atmosfer Serie A bersama Juventus selama lima musim. Dari 1996 sampai 2001 sebelum pindah ke Real. (dra)

Berita Terkait