Ririe Bogar, Penulis yang Kampanyekan Cantik Itu Ejaannya Bukan K.U.R.U.S

Ririe Bogar, Penulis yang Kampanyekan Cantik Itu Ejaannya Bukan K.U.R.U.S

  Selasa, 3 November 2015 08:37
BUKU: Ririe Bogar penulis buku foto menunjukkan buku karyanya. DHIMAS GINANJAR/JAWA POS

Banyak korban bully yang menjadikan tulisan-tulisan Ririe Bogar sebagai sumber motivasi untuk bertahan. Ririe ingin mematahkan stigma bahwa berbadan besar itu jelek dan cantik berarti harus kurus.DIAR CANDRA, Jakarta

“KAMU bisa pakai model baju apa saja. Tapi, satu yang pasti, kamu sama sekali nggak akan terlihat cantik kalau kamu nggak nyaman dengan yang kamu pakai.” Ririe Bogar membacakan kalimat itu dari halaman pertama bukunya, Cantik Itu Ejaannya Bukan K.U.R.U.S. Bagi dia, kalimat tersebut mewakili betul apa yang ingin dia sampaikan kepada para perempuan lewat bukunya itu.Bukan hanya perempuan berbadan besar seperti dirinya, tapi juga mereka yang merasa tak pernah puas dengan kondisi fisiknya.”Semua kan pemberian Tuhan, harus disyukuri. Jangan malah merusak apa yang sudah dianugerahkan-Nya,” kata Ririe saat ditemui di Jogjakarta beberapa waktu lalu.

 Apa yang disuarakan Ririe itu, tampaknya, juga didengar. Buktinya, meski baru diluncurkan 3 September lalu, buku tersebut melejit dan masuk best seller di banyak toko buku di Indonesia. Pembelinya pun, menurut Ririe, datang dari berbagai kalangan seperti yang diharapkannya.Sambutan hangat itu barangkali muncul karena istri Audie T. Simanjuntak tersebut berbicara dari hati. Apa yang dia tulis di situ benar-benar yang dialaminya sendiri atau sejumlah rekan yang tergabung dalam X-tra L, organisasi yang didirikannya pada 2007.

Ada 8 ribu orang yang bergabung dengan X-tra L. Masing-masing punya pengalaman, terutama menyangkut bully. Hampir semua pernah menjadi korban. Saking beratnya, sebagian di antara mereka sampai hampir memilih mengakhiri hidup.Sejak masih di bangku SMP, Ririe sebenarnya sudah menjadi korban bully. Ketika itu, dia memilih cuek. Namun, memasuki SMA, bukannya mereda, cemooh yang diarahkan kepada putri pasangan Maurits Salindeho Bogar- C.A.M. Bogar Siwy itu justru kian masif.Pertahanan diri Ririe pun perlahan ambrol. Dia jadi merasa rendah diri dan akhirnya memaksa dirinya untuk diet keras. Sampai tak makan untuk beberapa hari. Tapi, hasilnya, Ririe justru sakit dan tak masuk sekolah.

Orang tuanya akhirnya mengirim Ririe bersekolah di AS, hanya enam bulan setelah duduk di bangku SMA. Baru di sekolah barunya, Redlands High School, Redlands, California, Ririe mendapat perspektif baru soal perempuan bertubuh besar.“Di AS, banyak cewek bertubuh besar punya pacar, begitu pula kemudian aku. Dari situ kemudian aku percaya bahwa perempuan berbadan besar punya kesejajaran dengan perempuan yang kurus,” ucap perempuan berusia 41 tahun tersebut. Pulang bersekolah di AS, Ririe sempat balik ke Indonesia sebentar sebelum meneruskan sekolah di Perth, Australia. Di ibu kota Australia Barat itu, dia mengambil kuliah bidang travel and tourism.

Perspektif Ririe pun semakin terbuka. Dari sanalah kemudian muncul ide bersama beberapa perempuan bertubuh besar untuk mendirikan X-tra L Indonesia.Nah, berbagai pengalaman yang dialami sendiri dan cerita yang dia dengar dari sejawatnya di X-tra L itulah yang lantas dicurahkan di wall pribadinya di Facebook. Di dalam berbagai kisah tersebut, dia selalu tak lupa menyuntikkan semangat.Di luar dugaannya, semua tulisan itu menjadi peletup motivasi banyak orang.”Banyak yang kena bully yang ngontak saya dan bilang bahwa tulisan saya menjadi motivasi untuk bisa bertahan. Itu mengharukan dan menyemangati saya buat terus menulis,” tuturnya.

Salah satu yang terinspirasi tulisan-tulisan Ririe adalah Cindy Dwi Jayani Adi Putri. Menurut anggota X-tra L tersebut, buku Ririe menebalkan motivasi bahwa perempuan bertubuh besar tak perlu minder. “Kalau minder, malah membawa dampak sosial yang lebih buruk buat si perempuan itu,” katanya.Sebagai bagian dari promosi bukunya yang cover-nya dominan warna ungu dengan tulisan merah muda itu, Ririe juga menjadi pembicara ke sana-sini. Bagi dia, itu juga merupakan bentuk kampanye tak langsung melawan pem-bully-an kepada perempuan yang merasa dirinya kurang dan tak sempurna.“Intinya, aku ingin melawan stigma bahwa gendut itu jelek. Saya ingin menularkan prinsip bahwa cantik itu tak berarti kurus,” tegasnya. (*/c5/ttg)