Rindu Tak Bertepi

Rindu Tak Bertepi

  Senin, 11 July 2016 09:30
BERLEBARAN: Di usia senja para penghuni panti menjalani hari-harinya tanpa ditenami ditemani keluarga terdekatnya. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Bagi banyak orang, Idulfitri adalah momen bahagia untuk berkumpul bersama keluarga. Namun tidak bagi mereka penghuni panti jompo. Di hari Lebaran, mereka hanya ditemani kesendirian dan kesepian. Tanpa kasih sayang  dari keluarga saat usia semakin senja. 

HARYADI, Sungai Raya

Merdunya kumandang takbir terdengar dari sebuah televisi di salah satu ruangan yang ada di wisma penghuni panti jompo. Irama takbir itu membuat pikiran Wahid melayang mengingat masa lalu. Membuat Wahid tak bisa membendung air matanya yang jatuh membasahi pipi keriputnya. 

Suasana hatinya tak begitu bahagia saat itu. Di kala sebagian orang menyambut hari kemenangan di malam penghujung Ramadan, pria sepuh tersebut hanya bisa termenung dan mengingat kenangan bahagia bersama keluarganya. “Ini Lebaran pertama saya di panti. Saya sedih. Ingat anak dan keluarga,” ujar Wahid kepada Pontianak Post, Kamis (7/7) lalu. 

Pria tua beruban tersebut adalah salah satu penghuni Panti Sosial Tresna Werdha Mulia Darma di Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya. Usianya sudah 66 tahun. Wahid mencoba terbiasa dengan kondisi yang dialaminya sekarang. Walau tetap mencoba tegar, ia tetap merasa kesepian.

“Saya sudah lama berpisah dengan anak-anak. Dulu saya bercerai dengan istri sehingga anak-anak semuanya ikut bersama ibunya di daerah Sanggau Kapuas sana. Setelah pisah saya pergi untuk merantau tanpa ditemani anak-anak,” ungkapnya.

Wahid bercerita sejak berpisah dengan anak dan istrinya tahun 2007. Ia memilih untuk mengadu nasib dengan merantau. Ia pernah menjadi pemulung dan  buruh cangkul. Hingga pada suatu hari ada sahabat yang menawarkannya pekerjaan menggarap lahan untuk ditanami sayuran. Wahid pun mengambil peluang tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi fisiknya mulai menurun akibat umur yang semakin tua. 

Ia pun tidak mampu untuk hidup sendiri dan menggarap lahan lagi. Akhirnya  teman yang biasa membeli sayur  menawarkan untuk tinggal dan dirawat di panti sosial. “Saat ditawarkan untuk tinggal di panti, saya mikir panjang untuk memutuskan hal tersebut. Namun akhirnya saya putuskan untuk tinggal di panti karena sudah tidak ada keluarga yang peduli dengan kondisi saya,” ujarnya.

Hal senada dirasakan penghuni lain bernama Sehmi. Ia mengaku senang, sekaligus sedih saat  Pontianak Post menghampiri dan mengajaknya berbincang. Ia senang lantaran masih ada orang lain yang peduli kepadanya, tapi juga sedih karena anak dan keluarganya melupakan dirinya begitu saja. Sepenggal kalimat rindu pun terucap dari mulutnya. Sehmi menceritakan bagaimana ia sudah tidak diperhatikan dengan anak semata wayangnya lagi.

“Anak satu-satunya yang saya lahirkan sudah tidak mau merawat saya lagi. Ia malah memilih ikut suaminya daripada harus merawat saya,” ungkapnya dengan suara terputus-putus.

Sehmi mengungkapkan bahwa sejak tinggal di panti ia tidak pernah  dikunjungi oleh anak atau sanak keluarganya. Padahal yang paling dirindukannya adalah cinta, perhatian, dan kasih sayang dari anak dan cucu-cucunya. Namun Sehmi mencoba berbesar hati dengan tidak menghiraukan kondisi tersebut. Baginya suasana yang ia rasakan di panti ini sudah menjadi bagian kehidupannya saat ini. “Di sini saya senang banyak teman dan diurus oleh pengasuh panti,” ungkapnya.

Wahid dan Sehmi tidak sendiri. Di panti jompo itu ada sekitar 61 lansia yang bernasib sama. Di mana ada 35 orang laki-laki dan 26 orang lansia yang berjenis kelamin perempuan. Dalam suasana Lebaran ini ada sekitar 36 orang lansia yang merayakan Lebaran di panti tersebut. Mereka yang di tampung di panti berasal dari beberapa daerah yang ada di Kalbar.

“Panti tidak hanya menampung lansia dari Kubu Raya saja, tapi dari beberapa daerah juga ditampung disini.Setiap lansia memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda. Jadi setiap pengelola di panti harus tetap sabar menghadapi lansia ini yang kadang marah atau merajuk dalam situasi tertentu,” terang Yasmin, kepala Panti Sosial Tresna Werda Budi Darma.

Yasmin menuturkan, para penghuni panti kebanyakan adalah lansia yang ditelantarkan keluarga, tak terurus, dan sebatangkara. Di usia senja mereka harus hidup bersama lansia  lainnya. Menghabiskan waktu bersama dalam suka, duka dan dalam momen apapun termasuk momen Idulfitri. 

“Setiap Lebaran mereka saya ajak keluar untuk ikut open house di rumah kepala dinas di Kubu Raya dan ikut merayakan Lebaran di rumah saya juga. Agar mereka bisa merasakan suasana Lebaran juga,” ungkapnya.

Menurut Yasmin, bagi pengelola dan pengasuh lansia di panti  ini, mengasuh para lansia tersebut adalah panggilan hati. Mereka dengan sepenuh hati menggurus dikarenakan mereka sudah menganggap para lansia tersebut sudah seperti teman dan orang tua mereka sendiri. Bahkan tanggung jawab yang mereka emban dirasa seperti tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa.

“Orangtua itu wajib kita jaga. Mereka seperti orang yang telah melahirkan dan membesarkan kita sebagai anaknya. Saat beranjak tua sudah sewajarnya kita sebagai anak membalas kebaikannya dengan menjaganya,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait