Rimba Borneo Sasaran Wisata Minat Khusus

Rimba Borneo Sasaran Wisata Minat Khusus

  Senin, 29 Agustus 2016 10:12
MENGAYUH PERAHU: Wisatawan saat bermain perahu di kawasan wisata alam Riam Pangar, Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang. Wisata petualangan kini lebih diminati karena unsur tantangannya.

Berita Terkait

Wisata minat khusus adalah kegiatan traveling yang anti-mainestream. Berkebalikan dengan wisata pada umumnya yang mengharapkan kenyamanan dan kelengkakan fasilitas, wisata minat khusus ini lebih pada pengalaman yang relatif ekstrem dan manyatu dengan alam. Rimba Kalimantan dan laut yang belum ramai menjadi daya tarik sendiri pada jenis wisata ini.

 

Aristono, Pontianak

 

KEMENTERIAN pariwisata dalam beberapa waktu belakan ini mulai menjadikan wisata minat khusus sebagai andalan Indonesia. Wisata minat khusus sendiri diartikan sebagai sarana wisata yang lebih fokus kepada ide untuk mendapatkan pengalaman yang unik dan tidak bisa didapatkan di tempat lain. Kendati pasarnya terbatas lantaran konsep wisata minat mengejar kualitas pengalaman.

Di Indonesia sendiri wisata minat khusus dikembangkan keunggulan masing-masing daerah. Seperti namanya, fokus pengembangan satu sektor yang paling menonjol di suatu daerah akan makin membuat daerah tersebut punya nama di sektor pariwisata minat khusus sehingga lebih mudah untuk memasarkannya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto mengatkaan, Kalbar berpotensi untuk menjadi pusat wisata minat khusus. Menurutnya sektor pariwisata patut dikembangkan. Pasalnya ketergantungan hanya pada komoditas sumber daya alam sangat rentan terhadap gejolak harga dan krisis ekonomi dunia. “Apalagi pariwisata memiliki multiplier effect yang tinggi ke berbagai sektor, termasuk kepada UMKM di sekitar lokasi wisata,” katanya.

Berbicara wisata minat khusus, disebutkan dia, Kalbar memiliki banyak perbukitan, riam (air terjun), objek alam, serta trek ekstrem yang banyak dicari oleh para peminat wisata jenis ini. Belum lagi, kata dia, laut yang menyimpan pemandangan bagi para penggemar diving. Di Jawa dan Bali sekalipun, kata dia, yang pariwisatanya sudah memiliki aksesibilitas dan fasilitas lengkap, wisata minat khusus juga dijalankan.

“Di Gunung Kidul, Jogjakarta misalnya ada paket untuk mengendarai mobil offroad di gunung kapur yang sudur kemiringannya 45 derajat. Kebanyakan yang menjadi peserta ada wisatawan asing. Harganya juga relatif mahal sekitar Rp8 jutaan. Jadi wisata minat khusus ini juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” ujar dia.

Hal serupa diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bengkayang I Made Putra yang belakangan ini mengembangkan wisata minat khusus. “Kami mengembangkan arung jeram di Riam Pangar (Sanggau Ledo) yang menurut sebagian orang lebih ekstrem dibanding wisata sejenis di Citarik dan Bali. Selain itu di Bukit Jamur kami akan mengembangkan wisata pendakian plus permainan flying fox,” jelasnya.

Namun, kata dia, pihaknya saat ini juga tengah berusaha untuk menjadikan kawasan Gunung Nyiut sebagai daerah khusus ekonomi wisata ke Kementerian Pariwisata. Potensi Flora yang menonjol adalah anggrek dan beberapa jenis tumbuhan langka lain seperti Bunga Patma . Adapun Potensi Fauna, diantaranya ada beberapa jenis fauna seperti beruang madu dan berbagai jenis burung juga ada di sini.

“Selama ini gunung ini sering didatangi orang asing untuk menikmati suasana alam di sana. Mereka rela jauh-jauh dari negara asalnya hanya untuk melihat Anggrek Hitam yang hanya ada di Kalbar. Selain itu suasana petualangan alam di sana juga menurut mereka sangat menantang,” ungkap dia.

Sementara itu, Dewi dari EO wisata Yuk Jelajah Khatulistiwa menyebut pihaknya kerap menangani para peminat wisata minat khusus dari mancanegara. Tempat-tempat yang biasa dikunjungi adalah Taman Nasional Betung Kerihun, Danau Sentarum dan objek-objek alam seperti air terjun dan perkampungan masyarakat adat. “Hanya saja wisata jenis ini biasanya tidak dalam rombongan besar. Tetapi ada ceruk (pasar) di sana,” kata dia.

Adapun Kepala Dinas Pariwisata Kalbar menyebut, belakangan ini makin banyak destinasi wisata Kalbar yang tergali. Kata dia, ini menandakan minat terhadap wisata, seni dan budaya di provinsi ini cukup tinggi. Hanya saja, kata dia, para aktivis wisata dan kebudayaan ini kesulitan dalam soal pendanaan.

“Di Kalbar masih sulit mencari sponsor yang mau membantu membiayai kegiatan wisata, seni dan budaya. Begitu juga pentontonnya, kalau diberikan harga tiket yang agak tinggi, even pasti sepi. Bahkan gratis saja sering sepi. Akan tetapi para pegiat wisata punya semangat tinggi. Kami harus ancungi jempol,” katanya belum lama ini.(*)

Berita Terkait