Ridho Dirawat LKIA

Ridho Dirawat LKIA

  Jumat, 1 July 2016 09:53
DIRAWAT: Muhammad Ridho Ramadhan, bayi yang ditemukan di Jalan Sepakat II, Pontianak saat menjalani perawatan di rumah sakit. ISTIMEWA

PONTIANAK - Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD Soedarso, Muhammad Ridho Ramadhan, bayi yang ditemukan di Jalan Sepakat II, Pontianak Tenggara, Selasa (21/6), diserahkan ke Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Pontianak, untuk kemudian diasuh sementara Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak (LKIA) Kalbar, Kamis (30/6).

Nama Muhammad Ridho Ramadhan merupakan nama yang diberikan berdasarkan kesepakatan bersama. Hingga saat ini bayi berusia sembilan hari dengan berat 3,5 kilogram ini masih belum diketahui keberadaan orang tuanya.

Salah satu dokter yang merawat James L Alfin Sinaga menceritakan, bayi yang masuk ke Ruang Perinatologi RSUD Soedarso pada 21 Juni 2016 itu dalam kondisi baik. Rambutnya terlihat tebal dengan wajah yang masih kemerahan. 

Kemudian setelah dirawat di ruang bayi, kondisinya terus membaik. “Yang datang dingin jadi hangat, konsumsinya lancar dan tidak sering menangis. Perkembangannya cukup memuaskan, makanya hari ini layak dipulangkan,” terang Alfin.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kalbar Achmad Husaeni yang turut mengawal penjemputan bayi tersebut, berharap ke depan akan ada orang yang berniat mengadopsi Ridho. Dia mengatakan untuk sementara Ridho akan diasuh dengan fasilitas negara di Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak (LKIA).

Menurutnya dalam kurun waktu satu bulan terakhir, Ridho merupakan bayi kedua yang di dampingi untuk diserahkan ke Dinsosnaker Kota Pontianak. Sebelumnya, Senin (20/6) lalu pihaknya juga menyerahkan Rizky Ramadhan, bocah berusia dua bulan yang ditinggal kabur orangtuanya di RS Antonius.

Dia merasa sangat prihatin dengan kejadian-kejadian seperti  ini. Dia pun meminta masyarakat di Kalbar khususnya di Kota Pontianak mulai bertanggungjawab kepada keluarga masing-masing. Dia menyarankan jika memang tak bisa merawat, lebih baik diserahkan ke Dinsosnakar. Jangan justru melakukan hal tidak manusiawi dengan membuang atau menelantarkan anak sendiri. 

Maraknya kasus penelantaran anak dinilainya sebagai krisis sosial, moral dan akhlak di kalangan masyarakat. Kasus yang terangkat bukannya justru membuat orang berpikir untuk tidak melakukan hal sama. Padahal, Kota Pontianak sudah memberikan layanan kesehatan gratis jika memang terkendala biaya. 

“Semua komponen masyarakat harus bersatu untuk menyebarkan informasi layanan kesehatan gratis. Juga bagaimana membikin kondisi ekonomi bisa diakses segenap masyarakat kota,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Pelaksana Harian LKIA Kusmanto meyakini pihaknya bisa menjalankan amanah yang diberikan oleh Dinsosnaker. Sebagai mitra pemerintah pihaknya siap untuk menjaga dan merawat Ridho.

“Mudah-mudahan kami bisa merawat dengan baik, sesuai kemampuan, tentunya kami harap ada orang tua yang mau mengambil, anak ini perlu orang tua, tapi jika memang tidak bisa merawat harusnya tidak ditelantarkan tapi diserahkan ke Dinsos,” harapnya.

Kepala Dinas Sosial Ketenaga Kerjaan (Dinsosnaker) Kota Pontianak, Aswin Djafar mengatakan, bayi yang ia terima dalam kondisi sehat. Sembari menunggu ada masyarakat yang berbaik hati mengadopsi, bayi malang tersebut untuk sementara dititipkan di LKIA.

“Untuk mengadopsinya juga ada aturannya. Kami upayakan akan mengurus bayinya. Jangankan bayi, mayat terlantarpun diurus Dinsos,” kata Aswin.

Dia berharap, kasus penelantaran bayi tidak terulang lagi. Dia juga meminta Satpol- PP mengupayakan merazia Kos-kostan dan penginapapan. “Agar jagan ada lagi bayi yang dibuang, dan dibunuh. Banyak faktornya kita ndak bisa menduga tapi yang jelas kita urus anak ini,” tegasnya. (gus/bar)