Ribuan Orang Berdoa Dihadapan Dewi Samudra

Ribuan Orang Berdoa Dihadapan Dewi Samudra

  Senin, 8 February 2016 10:09

Berita Terkait

Vihara Bodhistva Karaniya Metta merupakan vihara tertua di Pontianak. Vihara yang terletak di Jalan Sultan Muhammad, Kelurahan Darat Sekip, Kecamatan Pontianak Kota ini memiliki daya tarik sendiri bagi pengunjung yang ingin bersembahyang.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

TAK sedikit warga yang sengaja datang ke Vihara  Bodhistva Karaniya Metta untuk melaksanakan sembahyang. Salah satunya Budiharjo, pengusaha asal Kota Pontianak. Ia tidak datang sendirian, melainkan bersama istri dan empat orang anaknya.

Di vihara dulunya  lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Tiga atau Thian Hou Keng itu, ia berharap agar kehidupannya lebih baik daripada tahun sebelumnya. "Saya berharap tahun ini lebih baik," kata Budiarjo saat ditemui Pontianak Post, kemarin.

Menurutnya, tahun sebelumnya (tahun Kambing) merupakan tahun kurang menguntungkan baginya. "Tahun kemarin agak lambat," lanjutnya.

Untuk tahun ini, ia bersama keluarga akan berdoa di depan altar Dewi Samudra. Sebelum berdoa di hadapan Dewi Samudra atau Dewi Macou, ia meminta pengurus vihara untuk menuliskan sesuatu dengan menuliskan nama toko miliknya.

Dengan menggunakan tulisan kanji, sang pengurus pun dengan hati-hati mulai menulis di atas kertas merah yang sudah disiapkan.

Harapan senada juga diungkapkan Santi. Perempuan pemilik Optik Pelangi Merah di kawasan Khatulistiwa Plaza ini berharap tahun monyet api membawa kebaikan, terutama bagi penegakan hukum di Kalbar. "Apa arti budaya jika kita tak berdaya. Saya harap Imlek ini membawa perubahan, khususnya untuk penegakan hukum di Kalbar," katanya.

Pada perayaan Imlek tahun ini, ia berniat akan merayakan bersama warga binaan di Lapas Klas IIA Pontianak. "Imlek biasanya sebagai simbol untuk berkumpulnya keluarga. Tapi saya ingin merayakan Imlek tahun ini di lapas bersama warga binaan," katanya.

Tahun baru Imlek yang bertepatan dengan Tahun Monyet Api diharapkan akan membawa kemajuan di Kalimantan Barat. "Tahun ini diprediksi bakal ada kemajuan di semua aspek," kata Gunawan Sarjono, pengurus Vihara Bodhistva Karaniya Metta sejak 1983 ini.

Ia juga mengatakan, tidak ada waktu khusus untuk memanjatkan doa kepada dewa. "Vihara ini sebenarnya baru akan dibuka pukul 16.00 sore, sampai pukul 12.00 siang besok. Jam berapa pun mereka datang berdoa, silahkan. Tapi biasanya yang paling ramai pada waktu pergantian waktu, yaitu pada tengah malam," ujarnya.

Menurut Gunawan, setiap pergantian tahun, vihara yang terletak persis di ujung pertemuan ruas jalan Sultan Muhammad dan jalan Gusti Ngurah Rai, Pontianak, itu selalu dikunjungi ribuan orang yang ingin berdoa. "Setiap tahun, terutama Imlek banyak sekali pengunjung yang datang. Bahkan hingga ribuan," jelasnya.

Vihara Bodhistva Karaniya Metta memiliki peninggalan sejarah yang hingga kini masih terjaga dengan baik. Salah satunya lonceng yang terbuat dari kuningan bertuliskan tulisan kanji Cina dari tahun 1789 yang dibawa langsung dari Tiongkok.

Selain itu juga ada pot gaharu yang digunakan sembahyang dihadapan dewa langit dan bumi yang diperkirakan berusia 300 tahun.

Di vihara ini, warna merah mendominasi hampir di sebagian besar bangunan. Tiang dan rangka bangunannya terbuat dari kayu ulin yang diberi warna merah dan kuning emas. Di tiga pintu utama terlukis gambar dewa-dewa penunggu pintu. Dinding dan altar terdapat patung dan lukisan yang bermakna tentang filosofi ajaran kehidupan.

Sejarah menceritakan bahwa pada tahun 1979 Patung Macou atau Patung Dewi Samudra telah dibawa oleh seseorang yang bermarga Kim yang berasal dari Cina. Pada saat yang sama juga didirikan kelenteng Macau atau kelenteng Dewi Samudra yang berada di Jalan Thang Seng Hie atau yang dikenal dengan sebutan Jalan Kapuas Besar (yang dimana sekarang lebih dikenal dengan Jalan Sutan Muhammad).

Dalam Perkembangan sejarahnya vihara ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran sampai seperti keadaan yang seperti sekarang ini. Kelenteng ini sering ramai dikunjungi setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan Imlek. Mereka yang datang tidak hanya dari seputar Pontianak namun mereka juga datang dari luar kota.

Sementara itu, di bagian luar vihara, sejauh mata memandang, kawasan di luar vihara merupakan pelataran yang berfungsi sebagai “terminal” dan area bongkar muat kendaraan bis dan kapal motor yang melayani rute dari Pontianak menuju daerah perhuluan Kalimantan Barat. Nampak sejumlah truk dan bis diparkir di area terminal, sementara beberapa kapal motor sedang melakukan aktivitas bongkar muat di tepian Sungai Kapuas, persis bersebelahan dengan area terminal. (*)

 

 

 

Berita Terkait